Minggu, 28 Januari 2018

A Short History of Tractors in Ukrainian: Sebuah Ulasan


Ketika kita membenci sesuatu, kita cenderung mencari segala kesalahan dan kelemahannya. Meski terkadang kita menemukan kebalikannya, tetap saja kita akan berupaya agar kelebihan itu menjadi kekurangannya. Seperti itulah yang terjadi dalam kisah Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina, novel karya Marina Lewycka yang menjadi Finalis Booker Prize 2005.
Nadia dan Vera sungguh tidak bisa menerima dengan akal sehat. Ayahnya, Nikolai Mayevskyj yang berusia delapan puluh empat tahun, akan menikah lagi, dua tahun setelah kematian ibunya. Nikolai akan menikahi Valentina, janda muda cantik berumur tiga puluh enam. Janda malang asal Ukraina dengan payudara sempurna yang mempunyai anak lelaki (yang Pappa mereka tidak pernah punya) Stanislav yang jenius. Mereka harus diselamatkan, burung cantik itu dan putranya yang berharga, seru Pappa.
Keluarga Nadia adalah pendatang dari Ukraina yang menyelamatkan diri semasa Perang Dunia II ke Inggris. Dengan demikian, gagasan menyelamatkan satu dua orang asal Ukraina sangatlah penting buat Pappa. Lagipula, dia bicara bahasa Ukraina bukan Rusia, tambah Pappa. Itu penting, karena bahasa menyangkut kebudayaan. Maka, Valentina dan Stanislav sangat penting. Kami bisa mengobrol soal Schopenhauer dan Nietzsche, tambah Pappa berharap.
Segala cara dilakukan oleh Nadia yang feminis, dosen Sosiologi yang terhormat, untuk menghalangi pernikahan Pappa. Dia bahkan rela berbaikan dengan kakaknya, Vera, musuh bebuyutannya sejak kecil. Di mata Nadia, Vera adalah ibu rumah tangga pengangguran, sok penguasa sedari mereka kecil, Maha Segala Tahu rahasia keluarga, si serakah pengambil liontin ibu, penghasut agar warisan tidak dibagi dua rata, si ahli perceraian dan betul sudah bercerai. Ia rela berdamai dengan Vera agar membantunya menghalangi niat Pappa mereka.
Namun apa daya, segalanya telah mereka upayakan, tetap saja Pappa yang sudah kadung cinta nekad menikahi Valentina. Dengan harapan besar, siapa tahu Valentina bisa memberiku anak lelaki! Oh. Membayangkan ayahnya bercinta lebih dari sekali sehingga Nadia dan Vera bisa lahir ke dunia saja, sudah membuat perut Nadia mual.
Masalah mulai terjadi karena, betul seperti dugaan Nadia dan Vera, Valentina hanya ingin uang Pappa. Valentina yang termakan paham sebagian besar orang Ukraina, orang yang tinggal di Eropa kaya raya, akan memberikannya apa saja, selain tentunya kewarganegaraan dan pendidikan bagus untuk putranya. Sedikit demi sedikit hingga nyaris tak tersisa, uang Pappa semakin digerogoti oleh Valentina; mobil, kompor baru (tapi kompor Mama masih bagus, Pappa!), bayar sekolah swasta Stanislav, bayar telfon yang membengkak karena Valentina butuh mengobrol berjam-jam dengan keluarganya di Ukraina, dan ini itu lainnya. Pappa mulai mengutang kepada Nadia dan Vera. Kesabaran Nadia hilang saat Valentina menyuruh Pappa menjual kebun belakang kepada tetangga. Kebun yang dirawat ibunya bertahun-tahun. Titik peluh ibunya yang menghasilkan makanan penyelamat bagi mereka sedari kecil. Kenangan atas ibunya yang selalu berhemat demi keluarga.
Namun seperti kata William Shakespeare, “Love me or hate me, both are in my favour. If you love me, I’ll always be in your heart… if you hate me, I’ll always be in your mind.” Begitupun terhadap Valentina. Selama perempuan itu ada, pikiran Nadia dan Vera semakin kacau, bagaimana caranya menyingkirkan Valentina dari rumah Pappa. Meski ada saat syahdu, saat natal tiba, Nadia mencoba berdamai dengan kekeraskepalaan Pappa, mengajak Valentina dan anaknya serta keluarga Nadia sendiri untuk makan malam keluarga. Dalam perjalanan yang melewati badai salju, hampir tergelincir beberapa kali membuat Nadia dan Valentina harus saling berpegangan. Nadia bisa melihat bahwa pada satu titik, Valentina sebenarnya sudah cukup banyak bersabar terhadap Pappa. Pappa orang yang sulit, idealis, dan merepotkan dalam banyak hal. Dan bayangkan, di usianya ke delapan puluh empat ini, Valentina harus mau mengurus Pappa yang renta, yang suka lupa bagaimana menahan kencing dan berak.

Satu hal yang saya rasa saya selalu temukan pada karakter di novel barat adalah melankolis yang mendetail dan rumit. Tentu saja akan kita temukan juga di novel tanah air dalam versi berbeda sesuai kearifan lokal. Bagaimana mereka terkadang bisa saja berdamai dengan musuh bebuyutannya untuk alasan-alasan kecil yang melankolis. Ini kembali saya temui di novel ini. Tak sekedar menghibur dengan humornya, celutukan kecil tapi menyengatnya, tapi juga membawa kembali kepada pentingnya nilai keluarga, tak peduli sudah berapa jauh kalian saling membenci. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar