Ketika kita
membenci sesuatu, kita cenderung mencari segala kesalahan dan kelemahannya. Meski
terkadang kita menemukan kebalikannya, tetap saja kita akan berupaya agar
kelebihan itu menjadi kekurangannya. Seperti itulah yang terjadi dalam kisah
Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina, novel karya Marina Lewycka yang menjadi Finalis Booker Prize 2005.
Nadia dan Vera
sungguh tidak bisa menerima dengan akal sehat. Ayahnya, Nikolai Mayevskyj yang
berusia delapan puluh empat tahun, akan menikah lagi, dua tahun setelah
kematian ibunya. Nikolai akan menikahi Valentina, janda muda cantik berumur
tiga puluh enam. Janda malang asal Ukraina dengan payudara sempurna yang
mempunyai anak lelaki (yang Pappa mereka tidak pernah punya) Stanislav yang
jenius. Mereka harus diselamatkan, burung cantik itu dan putranya yang berharga,
seru Pappa.
Keluarga Nadia
adalah pendatang dari Ukraina yang menyelamatkan diri semasa Perang Dunia II ke
Inggris. Dengan demikian, gagasan menyelamatkan satu dua orang asal Ukraina
sangatlah penting buat Pappa. Lagipula, dia bicara bahasa Ukraina bukan Rusia,
tambah Pappa. Itu penting, karena bahasa menyangkut kebudayaan. Maka, Valentina
dan Stanislav sangat penting. Kami bisa mengobrol soal Schopenhauer dan
Nietzsche, tambah Pappa berharap.
Segala cara
dilakukan oleh Nadia yang feminis, dosen Sosiologi yang terhormat, untuk
menghalangi pernikahan Pappa. Dia bahkan rela berbaikan dengan kakaknya, Vera,
musuh bebuyutannya sejak kecil. Di mata Nadia, Vera adalah ibu rumah tangga
pengangguran, sok penguasa sedari mereka kecil, Maha Segala Tahu rahasia
keluarga, si serakah pengambil liontin ibu, penghasut agar warisan tidak dibagi
dua rata, si ahli perceraian dan betul sudah bercerai. Ia rela berdamai dengan
Vera agar membantunya menghalangi niat Pappa mereka.
Namun apa daya,
segalanya telah mereka upayakan, tetap saja Pappa yang sudah kadung cinta nekad
menikahi Valentina. Dengan harapan besar, siapa tahu Valentina bisa memberiku
anak lelaki! Oh. Membayangkan ayahnya bercinta lebih dari sekali sehingga Nadia
dan Vera bisa lahir ke dunia saja, sudah membuat perut Nadia mual.
Masalah mulai
terjadi karena, betul seperti dugaan Nadia dan Vera, Valentina hanya ingin uang
Pappa. Valentina yang termakan paham sebagian besar orang Ukraina, orang yang
tinggal di Eropa kaya raya, akan memberikannya apa saja, selain tentunya
kewarganegaraan dan pendidikan bagus untuk putranya. Sedikit demi sedikit
hingga nyaris tak tersisa, uang Pappa semakin digerogoti oleh Valentina; mobil,
kompor baru (tapi kompor Mama masih bagus, Pappa!), bayar sekolah swasta
Stanislav, bayar telfon yang membengkak karena Valentina butuh mengobrol
berjam-jam dengan keluarganya di Ukraina, dan ini itu lainnya. Pappa mulai
mengutang kepada Nadia dan Vera. Kesabaran Nadia hilang saat Valentina menyuruh
Pappa menjual kebun belakang kepada tetangga. Kebun yang dirawat ibunya bertahun-tahun.
Titik peluh ibunya yang menghasilkan makanan penyelamat bagi mereka sedari
kecil. Kenangan atas ibunya yang selalu berhemat demi keluarga.
Namun seperti
kata William Shakespeare, “Love me or hate me, both are in my favour. If you
love me, I’ll always be in your heart… if you hate me, I’ll always be in your
mind.” Begitupun terhadap Valentina. Selama perempuan itu ada, pikiran Nadia
dan Vera semakin kacau, bagaimana caranya menyingkirkan Valentina dari rumah
Pappa. Meski ada saat syahdu, saat natal tiba, Nadia mencoba berdamai dengan
kekeraskepalaan Pappa, mengajak Valentina dan anaknya serta keluarga Nadia
sendiri untuk makan malam keluarga. Dalam perjalanan yang melewati badai salju,
hampir tergelincir beberapa kali membuat Nadia dan Valentina harus saling
berpegangan. Nadia bisa melihat bahwa pada satu titik, Valentina sebenarnya
sudah cukup banyak bersabar terhadap Pappa. Pappa orang yang sulit, idealis,
dan merepotkan dalam banyak hal. Dan bayangkan, di usianya ke delapan puluh
empat ini, Valentina harus mau mengurus Pappa yang renta, yang suka lupa bagaimana
menahan kencing dan berak.
Satu hal yang
saya rasa saya selalu temukan pada karakter di novel barat adalah melankolis
yang mendetail dan rumit. Tentu saja akan kita temukan juga di novel tanah air
dalam versi berbeda sesuai kearifan lokal. Bagaimana mereka terkadang bisa saja
berdamai dengan musuh bebuyutannya untuk alasan-alasan kecil yang melankolis. Ini
kembali saya temui di novel ini. Tak sekedar menghibur dengan humornya,
celutukan kecil tapi menyengatnya, tapi juga membawa kembali kepada pentingnya
nilai keluarga, tak peduli sudah berapa jauh kalian saling membenci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar