Sabtu, 14 April 2018

Faust; Romantisme Sang Penyembah Setan, drama dua babak Johann Wolfgang von Goethe.



Dimainkan oleh Pictorial Actors Laboratory, 12 April 2018.

Akan selalu ada hal yang menjerat hati seseorang sehingga dia selalu menginginkan lebih. Ada yang hatinya terpaut pada kekayaan, ada yang sangat memuja cinta, ada yang selalu menginginkan kuasa lebih, ada yang mendewakan kecantikan ragawi. Pun Heinrich Faust, dia selalu merasa haus akan ilmu pengetahuan. Faust seorang ahli astrologi, ahli kimia dan pesulap asal Jerman. Cerita hidupnya mengilhami Goethe dalam naskah drama dan menjadi masterpiece.
Selalu merasa haus akan ilmu memicu Faust membuat perjanjian dengan Mephistopheles, seorang Iblis. Faust akan mendapat ilmu pengetahuan tak terbatas dengan imbalan jiwanya akan diberikan kepada Mephistopheles dan akan melayani Mephistopheles di neraka kelak.
Pertunjukan dimulai oleh monolog si Iblis yang menyanggupi (tantangan Tuhan) untuk menggoda Faust supaya bisa menjadi pelayannya kelak di neraka. Faust sendiri sudah di titik jenuh, dia mempertanyakan Tuhan dan ingin mengakhiri hidup karena merasa hidupnya dengan berbagai gelar akademik tidak mencukupinya akan makna hidup itu sendiri. Di saat hendak mengakhiri hidup itulah, Mephistopheles hadir berwujud anjing menggagalkan usaha bunuh diri Faust dan terus mengikuti Faust sehingga timbul rasa percaya Faust padanya. Dan pada saat timbul rasa percaya itulah Mephistopheles menunjukkan wujud aslinya. Dia menjanjikan tak hanya ilmu pengetahuan tak terbatas tetapi juga kemashuran dan kekayaan. Semakin senang hati Faust semakin hatinya dimiliki Mephistopheles. Sampai Faust melihat Gretchen, gadis polos yang rajin ke gereja. Faust menginginkan Gretchen. Berbagai cara dilakukan Mephistopheles untuk mencuri hati Gretchen supaya mau jatuh hati pada Faust. Namun layaknya air dan api, jiwa Faust yang sudah terlanjur tergadai kepada Iblis tidak bisa  memiliki Gretchen yang pada akhirnya selalu menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. 
Pertunjukan ini berhasil memberi efek gaya penulisan yang seringkali dipakai pada eranya; Romantisme, yakni penggambaran hidup yang penuh tragis dan berlebihan, in good way. In good way saya bilang karena saya sendiri seringkali lupa bahwa romantisme berarti mengacu pada suatu zaman dimana segala sesuatu digambarkan berlebih-lebihan dan tragis namun seringkali oleh kebanyakan orang disalah artikan sebagai suatu sifat personal yang penuh cinta kasih.

Meski dengan kondisi lelah dan terkantuk-kantuk, beberapa kali hampir tertidur, saya berhasil menyelesaikan drama ini. Naskah yang gelap dan tragis hampir bisa diwakilkan oleh efek panggung dan dramatisasi para pemain. Dan bila, bagi saya pribadi, saat sebuah pertunjukan teater bisa membuat saya mengarus balik makna hidup berdasar naskah yang didramatisasikan, maka patutlah diberi apresiasi. Alur yang sedikit lambat dan bertele-tele, sekali lagi begitulah romantisme. Dalam hati saya melakukan standing ovation saat (pemeran) Faust begitu putus asa membujuk Gretchen supaya ikut dengannya namun lagi-lagi di saat terakhir, Gretchen yang menjadi gila hanya mempertanyakan, "Apakah kau percaya Tuhan, Heinrich?" Pertanyaan yang tidak bisa dijawab Faust karena kadung menggadaikan jiwanya pada Iblis. Tetapi karena terlalu lelah saya hanya mengangguk saja dan menepuk tangan lemah di akhir pertunjukan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar