Selasa, 18 Desember 2018

Dua Perempuan dengan Kesantaiannya.

DUA PEREMPUAN DENGAN KESANTAIANNYA
Studi Gender dalam Kaitannya dengan Budaya Populer terhadap cerpen “Dua Perempuan dengan HP-nya” Karya Seno Gumira Ajidarma

Oleh Efi Filita Arifin (Kajian Budaya 2017)




FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG

2018



Berdasarkan penelitiaannya terhadap televisi dan media cetak populer di amerika antara 1950-an hingga 1970-an, Tuchman berpendapat bahwa media massa “secara simbolis telah meniadakan” perempuan. Hal berdasarkan temuannya bahwa persentase perempuan sebesar 51% dari populasi dan 40% dari tenaga kerja, namun relative sedikit diangkat ke permukaan. Media massa malah memberikan stereotif bahwa perempuan pekerja itu “terkutuk”. Gejala ini ia sebut sebagai “anihilasi simbolik”, peniadaan/peremehan/pengutukan secara simbolis (Strinati, 2007: 208-209).
Pendapat Tuchman diperkuat oleh Van Zoonen yang menyatakan bahwa perempuan jarang ditampilkan di media massa, entah sebagai istri, ibu, putri, kekasih; kalaupun ditampilkan, mereka digrambarkan secara tradisional dalam berbagai pekerjaan perempuan (sekretaris, perawat, resepsionis); atau sebagai objek seks (1991, dalam Strinati, 2007: 208).
Secara radikal, Modleski menyatakan bahwa perempuan telah ditiadakan dalam budaya popular. Maka dari itu, ia berpendapat bahwa pada dasarnya gender penting dalam kajian budaya popular, dan memiliki relevansi tertentu dengan konsep budaya popular. Perempuan dianggap menyandang tanggung jawab atas budaya populer dan efek-efek yang merugikannya, sementara laki-laki bertanggung jawab atas budaya tinggi. Budaya popular dianggap feminine dan budaya tiinggi dianggap maskulin (Strinati, 2007: 217-218).
Berikut adalah pemetaan oposisional berdasarkan perspektif kritis Modleski.
Budaya Tinggi        Budaya Populer
Maskulinitas        Femininitas
Produksi         Konsumsi
Kerja            Santai
Kecerdasan        Emosi
Sifat aktif        Sifat pasif
Menulis            Membaca

Dalam perspektif Modleski inilah penulis mencoba menyorot cerpen “Dua Perempuan dengan HP-nya” karya Seno Gumira Ajidarma. Secara mencolok, tokoh-tokoh perempuan dalam cerpen tersebut merepresentasikan sifat-sifat yang diasumsikan oleh pengoposisian budaya tinggi dan popular. Yang menarik adalah, bahwa sifat-sifat tersebut (yang diwujudkan dalam ucapan dan tindakan) merupakan perlawanan terhadap domestifikasi perempuan dan budaya patriarki. Sifat yang disoroti adalah sikap santai; bagaimana sikap santai menjadi perlawanan kaum perempuan dalam menghadapi institusi serius bernama perkawinan berikut pernak-pernak segala urusannya.
Cerpen “Dua Perempuan dengan HP-nya” termaktub dalam buku antologi cerpen bertema lesbian, Un Soir du Paris (Gramedia, 2010). Cerpen ini mengisahkan dua orang perempuan kelas atas, Sandra dan Susan. Masing masing telah menikah. Mereka saling mencintai dan bertemu diam-diam di sebuah pantai. Secara bersamaan, sambil berjalan ke arah pantai, keduanya menelepon. Yang satu menelepon pembentunya, yang lain menelepon sekretaris suaminya. Porsi terbesar penceritaan berupa percakapan via telepon dan seputar masalah-masalah domestik. Meski adegan berupa tindakan dan dialog antar keduanya lebih kecil, rupanya percakapan via telepon itu menggambarkan latar sekaligus motif keduanya melakukan percintaan di pantai itu.
Secara keseluruhan, atmosfer cerita tersebut terasa santai. Hal itu ditunjukkan di antaranya oleh latar tempat di pantai (yang biasa dijadikan tempat wisata, tempat bersantai). Kemudian, kendaraan yang mereka tumpangi adalah mobil sport, santai namun berkelas, bukan mobil yang terkesan formal, seperti sedan. Selain itu, kesantaian juga tergambar dari pakaian mereka, yakni blues yang you can see, meski dilapisi blazer. Kesan santai juga ditunjukkan dengan adegan berjalan menuju pantai tanpa alas kaki. Di antara semua itu, kesantaian yang substansial terlihat pada percakapan mereka via HP. Berikut akan diuraikan secara lebih rinci indikator-indikator kesantaian, berikut kutipan-kutipan yang mendukungnya.
  1. Sikap kurang tanggung jawab terhadap keluarga
Kesantaian yang pertama ditunjukkan dengan ujaran-ujaran keduanya saat berbicara dengan pembantunya (Sandra) dan sekretaris suaminya (Susan).

“Iyem? Nanti kalau Tuan pulang bilang saya terlambat sampai rumah. Jalanan pasti macet dan saya banyak urusan…” (Ajidarma, dkk, 2010: 26)

Dalam ujaran tersebut, Sandra sedang mengantisipasi keadaan di mana suaminya akan pulang dan bertanya kepada Iyem, pembantunya, tentang keberadaan dirinya. Ia membuat alasan palsu alias kebohongan, yakni “macet” dan “banyak urusan”. Faktanya, dia sedang berada di pantai, bukan di jalanan di tengah kota dan sedang bersantai, bukan sedang menjalankan sebuah, apalagi banyak, urusan. Hal ini menunjukkan sikap kurangnya tanggung jawab terhadap keluarga, yaitu dengan sengaja melalaikan kewajiban untuk berada di rumah dan di dekat suami.

Demikian juga halnya dengan Susan.

”Linda? Bilang sama bos kamu aku tidak bisa ketemu dia malam ini. Kamu atur saja entah kapan, pokoknya tidak bisa malam ini, banyak urusan…” (Ajidarma, dkk, 2010: 26)

Susan membuat alasan yang sama dengan Sandra, yakni “banyak urusan”. Bedanya, Susan berbicara dengan Linda, sekretaris, pembantu yang berkelas. Lebih dari itu, peristiwa percakapan Susan dan Linda lebih dramatis karena Linda, selain sekretaris, juga merupakan kekasih gelap suaminya. Kemudian, Susan bersikap terbuka daripada Sandra yang menyembunyikan keberadaannya. Susan berujar kepada Linda,

“He, begini saja sekretaris bego, bilang bos kamu aku tidak pulang malam ini. Aku menginap di rumah pacarku. Bilang saja begitu.”  (Ajidarma, dkk, 2010: 27)

Keduanya berusaha menghindari tanggung jawab keluarga. Bedanya, Susan lebih terbuka. Jelas karena didorong oleh perselingkuhan suaminya dengan Linda. Berbeda dengan Sandra yang tampak baik-baik saja.

  1. Tidak peduli pada perselingkuhan suami: desakralisasi lembaga pernikahan
Hal ini hanya dilakukan oleh Susan karena rumahtangganyalah yang bermasalah. Suaminya berselingkuh, yang mana dapat diartikan sebagai penyimpangan terhadap norma, komitmen, dan nilai sakral pernikahan. Susan pun menanggapinya dengan hal serupa, tidak peduli pada ketidaksetiaan suaminya,

“Aku sudah dengar dari mana-mana sejak kapan-kapan tentang kalian itu, Linda, dan aku tidak apa-apa, aku tidak peduli sama sekali…” (Ajidarma, dkk, 2010: 27)

“Masalahnya aku tidak peduli lagi dengan suamiku. Paham kamu?” (Ajidarma, dkk, 2010: 28)

Bahkan,apa yang dilakukan Susan lebih lagi. Jika mengacu pada norma sosial tradisional, ia telah melakukan pelanggaran dua kali lipat daripada yang dilakukan suaminya, yakni berselingkuh sekaligus melakukan hubungan homoseksual. Homoseksual, dalam hal ini lesbian, dipandang sebagai bentuk penyimpangan berat. Psikolog besar semacam Freud pun mengategorikan lesbianism sebagai inversi, penyimpangan orientasi seksual (Freud, 2003). Lepas dari hal itu, Susan telah menolak patriarki secara radikal dan mendesakralisasi lembaga pernikahan secara terang-terangan. Semua itu dilakukan dengan santai, meski tidak benar-benar berterus terang karena menyatakan punya pacar tanpa menyebutkan bahwa pacarnya sama-sama perempuan.

  1. Pemuasan hasrat diri sendiri
Hal ini hanya dilakukan oleh Sandra. Melalui percakapannya dengan Iyem, ia tampak sangat menyayangi binatang piarannya, seekor anjing dan seekor kucing, dengan agak berlebihan.

”Jangan lupa kasih makan anjing, kucing, nayalakan lampu, matikan ledeng, kalau Tuan pulang jangan lupa dibikinkan susu coklat sebelum tidur…”

”Aduh Iyeeeeemmm! Cepat kejar Si Blackie! Jangan sampai dia lepas ke jalan! Cepat aku tunggu…”

“Aduh punya pembantu satu saja sial begini! Halo! Sudah?”

“Kucingnya juga jangan lupa, kasih makanan yang dari supermarket.”

“Puss? Iyem! Mana Si Pus?”

“Aduh, Pus, kamu diapakan sama Si Iyem?” (Ajidarma, dkk, 2010: 27-29)

Sandra tampak lebih memberikan perhatian kepada binatang-binatang piarannya daripada kepada pembantunya yang jelas-jelas jauh lebih besar kontribusinya daripada binatang-binatang itu. Barangkali, biaya yang ia keluarkan untuk perawatan dan makanan mereka pun bisa melebihi gaji pembatunya.  

  1. Tidak terlalu serius dalam menjalankan pekerjaan
Hal ini pun dapat menjadi indicator femininitas. Ini pun hanya dilakukan oleh Sandra yang memiliki bisnis di bidang makanan. Hal itu tampak saat ia berbincang via HP dengan suaminya.
“Gampanglah, soal harus ada anak pejabat itu soal nanti.”
”Iya. Sudah ada yang urus. Ada juga saudaranya mentri. Bereslah.” (Ajidarma, dkk, 2010: 30)

Keempat hal di atas, berdasarkan oposisi Modleski, menunjukkan dan memosisikan dengan sangat jelas bahwa perempuan merupakan agen dari budaya popular. Mereka merayakan kebebasan dari norma, menikmati hasrat pemuasan diri, hingga dengan santai mendesakralisasi lembaga pernikahan yang merupakan ujung tombak budaya patriarki. Sifat feeminin budaya popular ditunjukkan dengan kesantaian sebagai oposisi dari keseriusan.
Permasalahannya kemudian, pencitraan perempuan sebagai pihak yang memiliki sikap santai ini memiliki ambiguitas makna: apakah dilhat sebagai eksistensi ataukah anihilasi simbolik perempuan. Hal iini sangat ditentukan oleh apakah bagaimana cara kita memandang pengoposisian yang dibuat oleh Modleski, apakah kita masih menyetujui pemilihan budaya tinggi dan budaya populer ataukah menolaknya. Jika kita menyetujuinya, pencitraan perempuan di dalam novel tersebut termasuk anihilasi simbolik karena justru menguatkan stereotype perempuan sebagai sosok yang segala macam tindakannya distimulus oleh laki-laki (pada Susan) dan tidak berani mengungkapkan dirinya (pada Sandra). Jika kita menolaknya, seperti yang disarankan Modleski, maka yang terjadi adalah sebaliknya, yakni pencitraan perempuan santai merupakan agen pendobrak pemilahan budaya tinggi dan budaya popular.  

DAFTAR PUSTAKA
Ajidarma, Seno Gumira, dkk. (2010). Un Soir du Paris: Kumpulan Cerpen. Gramedia: Jakarta.
Freud, Sigmund. (2003). Teori Seks (diterj. oleh Apri Danarto). Yogyakarta: Jendela.
Strinati, Dominic. (2007). Popular Culture: Pengantar Menuju Budaya Populer (diterj. oleh Abdul Mukhid). Yogyakarta: Jejak.

Minggu, 16 Desember 2018

Rasisme dan Diskriminasi terhadap Perempuan di Amerika Serikat dalam Film Hidden Figure

Rasisme dan Diskriminasi terhadap Perempuan di Amerika Serikat
dalam Film Hidden Figure


Oleh Efi Filita Arifin (Kajian Budaya 2017)










FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2018

Salah satu elemen penting dalam sejarah film adalah penggunaan film untuk propaganda sangat signifikan, terutama jika diterapkan untuk tujuan nasional atau kebangsaan berdasarkan jangkauannya yang luas, sifatnya yang riil, dampak emosional, dan popularitas (McQuail, 2011: 35).
Film sebagai alat propaganda erat kaitannya dengan upaya pencapaian tujuan nasional dan masyarakat. Hal tersebut berkenaan dengan pandangan yang menilai bahwa film memiliki jangkauan, realisme, pengaruh emosional, dan popularitas yang hebat. Upaya membaurkan pengembangan pesan dengan hiburan memang sudah lama diterapkan dalam kesusasteraan dan drama, namun unsurunsur baru dalam film memiliki kelebihan dalam segi kemampuannya menjangkau sekian banyak orang dalam waktu yang cepat dan kemampuannya memanipulasi kenyataan yang tampak dengan pesan fotografis, tanpa kehilangan kredibilitas (McQuail, 1989: 14).
Salah satu hal yang dapat dipropagandakan melalui film adalah (anti-)rasisme. Kata rasisme itu sendiri dapat membangkitkan reaksi emosional yang sangat kuat, terutama bagi mereka yang telah merasakan penindasan dan eksploitasi dari pihak-pihak yang berperilaku rasis. Untuk warga keturunan Afrika Amerika, Asia Amerika, penduduk asli Amerika, dan kaum Latino, rasisme telah menciptakan sejarah sosial yang dibentuk oleh prasangka dan diskriminasi. Untuk individu anggota kelompok ini, rasisme telah mengakibatkan rasa sakit. (Lustig dan Koester, 2003: 157).
Kaum rasis bukan hanya bodoh karena perilaku mereka yang tidak etis dan kejam, melainkan juga karena mereka berpikir dan bertindak berdasarkan premis yang salah. Menjadi hal yang umum bagi mereka yang berpendidikan bahwa perbedaan besar antara kelompok manusia disebabkan oleh budaya, bukan karena warisan biologis atau ras. Semua manusia berasal dari spesies yang sama. Yang perlu dilakukan adalah komunikasi antar-budaya untuk saling mengenali. Rasisme menjadi penghalang utama dalam suksesnya komunikasi antar budaya (Samovar dkk., 2010: 212).
Film telah membuat kontribusi yang signifikan dalam mengungkapkan rasisme di masyarakat, dan dengan demikian dapat menciptakan kesadaran. Telah terdaftar sejumlah film mengenai rasisme, dari berbagai sudut, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Menurut situs Imdb.com, pada tahun 1915 hingga 2010, terhitung 289 film mengandung unsur rasisme, dan pada 2011 sampai 2013 tema rasisme kembali mewarnai perfilman Hollywood, terdapat sebelas film yang memasukkan unsur rasialisme di dalamnya, di antaranya adalah Threading Needles, The Help, Ill Manors, The Man of Honour, Django Unchained, 12 Years A Slave, 42, Traffic Department, United Kingdom, Race, Selma, dan Hidden Figures. Dari film-film rasis ini, salah satu yang paling menarik bagi penulis adalah Hidden Figures.
Hidden Figures mengisahkan tiga orang wanita negro ahli matematika yang bekerja untuk NASA yang saat itu tengah berlomba dengan pihak Rusia dalammenciptakan roket yang dapat mengantarkan orang ke bulan. Mereka adalah Katherine Johnson, Dorothy Vaughan, dan Mary Jackson. Katherine adalah ahli matematika yang ditempatkan di bagian khusus penghitungan titik luncur dan titik kedatangan roket. Dorothy adalah ahli mesin yang kemudian menajdi satu-satunya orang yang dapat mengoperasikan IBM. Mary adalah teknisi roket yang karena perempuan dan berkulit hitam, di ditempatkan di bagian komputer.
Selama bekerja di situlah mereka mengalami pelbagai tindakan rasis, mulai dari pemilahan toilet, ketersediaan kopi, cara berpakaian, hingga pemberian beban kerja yang melebihi standar. Namun, berkat ketabahan dan kesabarannya, mereka mampu melalui semua itu dan berhasil membuktikan kemampuan mereka melebihi seluruh karyawan NASA lainnya. Akhirnya, para atasan mereka pun mengakui kinerja mereka.
Dalam tulisan ini akan dibahas ujaran-ujaran yang menunjukkan rasisme. Ujaran-ujaran tersebut dikelompokkan berdasarkan motif, yakni ujaran beradasarkan prasangka, ujaran sebagai pernyataan, dan ujaran sebagai tindakan.  

  1. Ujaran sebagai prasangka
  1. Saat mobil Dorothy mogok, seorang polisi kulit putih memeriksa KTP sambil mengatakan ketidakpercayaannya karena ada perempuan kulit hitam bekerja di NASA, “Aku tidak tahu kalau mereka…”. Namun karena tahu mereka bekerja dengan para astronot yang akan dikirim ke angkasa guna mengalahkan Rusia, polisi itu malah menawarkan pengawalan sampai ke NASA. Ketidakpercayaan sang polisi ini berlandaskan prasangka umum bahwa wanita dan kulit hitam tidak akan mampu bekerja di institusi sebesar NASA. Prasangka ini menyasar dua isyu sekaligus, yakni gender dan ras. Prasangka yang dimiliki sang polisi ini merupakan prasangka umum. Kemudian, secara individual, ia mampu menghilangkan prasangka tersebut dan bertindak adil dan hormat terhadap ketiganya.
  2. Baru saja masuk kantor, Katheryn sudah disangka petugas kebersihan oleh karyawan di sana. Hal ini menunjukkan prasangka bahwa orang berkulit hitam hanya layak melakukan pekerjaan kasar.

  1. Ujaran sebagai pernyataan
  1. Ketika mengetahui kemampuan Mary, Tn. Zielinski mengatakan Mary sangat diperlukan sebagai teknisi. Mary mengatakan, “Aku adalah negro, aku tak akan menghibur yang mustahil,” yang dibalas oleh Tn. Zielinski, “Dan aku adalah Yahudi Polandia yang orang tuanya mati di kamp penjara Nazi. Jika kau pria kulit putih, kau mau jadi teknisi?”. Ujaran Mary ini merupakan jawaban bahwa dirinya tidak mungkin jadi teknisi mengingat teknisi roket merupakan pekerjaan yang derajatnya lebih tinggi. Sementara itu, ujaran-ujaran Zielinsky menunjukkan ketiadaan pandangan rasis sama sekali karena ia memiliki pengalaman serupa, bahkan lebih menyakitkan, saat di Polandia. Atas hal inilah ia mendorong Mary untuk menjadi teknisi. Mary pun mengiyakan dan melamar sebagai teknisi.
  2. Mitchell (wanita berkulit putih) marah mengetahui Mary nekad melamar sebagai teknisi, mendatanginya di kantin khusus wanita kulit hitam, dan mengatakan, “Kalian beruntung mendapatkan pekerjaan”. Ujaran Mitchell ini merupakan pernyataan bahwa kaum negro banyak yang menganggur sebab akses terhadap pekerjaan sangat dibatasi. Jadi, menurut Mitchell, mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan mestinya tahu diri, tak perlu menuntut lebih.
  3. Setelah lelah dengan toilet yang jauh, Katheryn ‘mengamuk’ saat Harrison bertanya ke mana saja dia di saat-saat tertentu. “Aku tidak punya kamar mandi di sini.” Harrison tampak kebingungan dan bertanya, “Apa maksudmu ‘Aku tidak punya kamar mandi di sini’?”. Lalu Katheryn menjawab dengan nada tinggi, “Tidak ada kamar mandi untuk kulit berwarna di sini. Aku harus ke luar gedung yang jaraknya setengah mil. Aku harus ke Timbuktu hanya untuk buang air. Aku tidak boleh pakai sepeda. Aku tidak boleh memakai kalung mutiara. Kulit hitam tak dibayar banyak supaya tidak mampu beli kalung mutiara. Aku harus kerja siang malam. Aku bahkan membuat kopi yang tidak boleh aku sentuh!” Peristiwa percakapan antara katheryn dan Harrison tersebut menggambarkan secara lebih komprehensif hal-hal yang dialami dirinya sebagai wanita dan sebagai kulit hitam yang kesemuaitu menimbulkan rasa sakit. Kemarahan Katheryn adalah ungkapan dari timbunan rasa sakit yang ia terima selama bekerja di NASA.
  4. Harrison memutuskan toilet dicampur untuk kulit putih dan berwarna. Ia sendiri yang membongar papan bertuliskan “White Only” dan berkata “Di NASA, warna kencing kita sama.” Ujaran Harrison tersebut bisa dikategorikan sebagai prnyataan dari pandangan dan sikap anti-rasis. Pernyataan ini merupakan langkah penting dalam upaya membongkar prasangka dan premis keliru tentang ras manusia.
  5. Di ruang sidang yang juga memisahkan tempat duduk kulit putih dan kulit htam, Mary menuntut pengadilan karena ingin sekolah di sekolah khusus kulit putih. Karena untuk jadi insinyur NASA dia harus menempuh pendidikan di sekolah itu. Pernyataan Mary di ruang siding merupakan klimaks dari pernyataan anti-rasis. Ia pun berhasil membuat hakim mengabulkan permohonannya untuk bisa mengambil kelas di Hampton, suatu sekolah calon teknisi, sebagai syarat agar ia memperoleh pekerjaan teknisi di NASA.

  1. Ujaran sebagai tindakan
  1. Katheryn kesulitan mencari toilet karena kulit hitam disediakan toilet yang sangat jauh, dengan tulisan “colored bathroom”. Tulisan tersebut merupakan tindakan yang menginstruksikan bahwa kulit hitam tidak boleh sembarangan memasuki toilet umum. Ia memiliki tempat khusus yang barangkali juga fasilitasnya tidak sebaik toilet untuk kulit putih.   
  2. Saat Dorothy membawa anak-anaknya ke perpustakaan, ada demonstrasi anti-rasis. Dorothy berusaha memalingkan anak-anaknya dari demonstrasi tersebut sambil berkata, “Ayo, kita bukan bagian dari masalah itu”. Ujaran ini menunjukkan bahwa Dorothy tidak mengambil bentuk aksi massa sebagai perjuangan meraih haknya. Iaseorang intelek yang berjuang dengan cara halus dan elegan.
  3. Tak jauh dari tempat demonstrasi, ada tempat minum terpisah dengan tulisan “white only” dan “colored only”. Kedua tulisan ini juga menginstruksikan bahwa kaum kulit hitam tidak boleh mengambil minum sembarangan.

Berikut adalah data tokoh dan penokohan dalam film tersebut.
  1. Katheryn Johnson adalah wanita jenius Matematika yang menjadi wanita pertama dan berkulit hitam menjadi staf ahli dalam proyek roket pertama NASA. Sempat tidak diterima dalam banyak sekali kesempatan pertemuan NASA dengan pemerintah sampai akhirnya menjadi sosok penting peluncuran NASA.
  2. Dorothy Vaughan adalah wanita pertama dalam staf IBM yang mampu menjalankan mesin IBM pertama. Selalu ditolak menjadi supervisor karena berkulit hitam.
  3. Mary Jackson adalah wanita pertama insinyur NASA. Meski mempunyai dua gelar sarjana tapi ditolak menjadi teknisi karena tidak menempuh sekolah khusus teknisi yang hanya diperuntukkan untuk lelaki dan kulit putih.
  4. Al Harrison, atasan Katheryn, selalu bersikap netral dari awal dan mendorong Katheryn untuk bisa diterima sebagai staf pentng NASA. Harrison merupakan tokoh penting dalam hal menghapuskan diskriminasi rasial di NASA. dia tampak sebagai orang yang tidak memiliki prasangka dan pandangan rasis sejak awal kemunculannya dalam film. Membongkar papan “white only”merupakan aksi heroic sekaligus simbolik yang berdampak pada penghapusan diskriminasi tersebut.  
  5. Paul Stafford, rekan Katheryn awalnya rasis namun lama-kelamaan menerima perbedaan mereka dan mau bekerja sama.
  6. Jon Glenn, astronot yang diterbangkan NASA. Dia selalu bersikap netral tanpa memandang ras, bahkan tanpa sungkan menyalami para pegawai kulit hitam.
  7. Vivian Mitchell, atasan Dorothy yang rasis sampai akhirnya dia mengakui kemampuan Dorothy sebagai supervisor.
  8. Jim Johnson suami kedua Katheryn, awalnya meragukan kemampuan latheryn sebagai ahli matematika.
  9. Levi Jackson, suami Mary, mendukung penuh istrinya menajdi tenisi NASA
  10. Ruth, sekretaris Harrson, bersikap sangat hati-hati dan protokoler meski sebenarnya dia tidak rasis.
  11. Joylette Coleman, ibu Katheryn mendukung penuh bakat anaknya sedari kecil, sampai rela berpindah kota supaya Katheryn mendapat pendidikan layak.
  12. Karl Zielinski, atasan Mary, seorang Yahudi, mendukung penuh supaya Mary menjadi teknisi. Zielinsky merupakan representasi kaum imigran Amerika yang memiliki kebijaksanaan lebih dibanding kulit putih Amerika. Ia bukan hanya tidak memiliki prasangka rasial, melainkan juga berempati pada kaum kulit hitam karena pengalaman pahitnya sebagai yahudi di mana orangtuanya dibunuh di kamp konsentrasi.   

DAFTAR PUSTAKA
McQuail, D. (2011). Teori Komunikasi Massa . Jakarta: Humanika.

Lustig, Myron W. and Jolene Koester. (2003). Intercultural Competence: Interpersonal Communication Across Cultures. New York : Mc. Graw Hill International.

 Samovar A. Larry, Porter E. Richard, McDaniel R. Edwin. 2010. Komunikasi. Lintas Budaya. Jakarta.