Minggu, 16 Desember 2018

Rasisme dan Diskriminasi terhadap Perempuan di Amerika Serikat dalam Film Hidden Figure

Rasisme dan Diskriminasi terhadap Perempuan di Amerika Serikat
dalam Film Hidden Figure


Oleh Efi Filita Arifin (Kajian Budaya 2017)










FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2018

Salah satu elemen penting dalam sejarah film adalah penggunaan film untuk propaganda sangat signifikan, terutama jika diterapkan untuk tujuan nasional atau kebangsaan berdasarkan jangkauannya yang luas, sifatnya yang riil, dampak emosional, dan popularitas (McQuail, 2011: 35).
Film sebagai alat propaganda erat kaitannya dengan upaya pencapaian tujuan nasional dan masyarakat. Hal tersebut berkenaan dengan pandangan yang menilai bahwa film memiliki jangkauan, realisme, pengaruh emosional, dan popularitas yang hebat. Upaya membaurkan pengembangan pesan dengan hiburan memang sudah lama diterapkan dalam kesusasteraan dan drama, namun unsurunsur baru dalam film memiliki kelebihan dalam segi kemampuannya menjangkau sekian banyak orang dalam waktu yang cepat dan kemampuannya memanipulasi kenyataan yang tampak dengan pesan fotografis, tanpa kehilangan kredibilitas (McQuail, 1989: 14).
Salah satu hal yang dapat dipropagandakan melalui film adalah (anti-)rasisme. Kata rasisme itu sendiri dapat membangkitkan reaksi emosional yang sangat kuat, terutama bagi mereka yang telah merasakan penindasan dan eksploitasi dari pihak-pihak yang berperilaku rasis. Untuk warga keturunan Afrika Amerika, Asia Amerika, penduduk asli Amerika, dan kaum Latino, rasisme telah menciptakan sejarah sosial yang dibentuk oleh prasangka dan diskriminasi. Untuk individu anggota kelompok ini, rasisme telah mengakibatkan rasa sakit. (Lustig dan Koester, 2003: 157).
Kaum rasis bukan hanya bodoh karena perilaku mereka yang tidak etis dan kejam, melainkan juga karena mereka berpikir dan bertindak berdasarkan premis yang salah. Menjadi hal yang umum bagi mereka yang berpendidikan bahwa perbedaan besar antara kelompok manusia disebabkan oleh budaya, bukan karena warisan biologis atau ras. Semua manusia berasal dari spesies yang sama. Yang perlu dilakukan adalah komunikasi antar-budaya untuk saling mengenali. Rasisme menjadi penghalang utama dalam suksesnya komunikasi antar budaya (Samovar dkk., 2010: 212).
Film telah membuat kontribusi yang signifikan dalam mengungkapkan rasisme di masyarakat, dan dengan demikian dapat menciptakan kesadaran. Telah terdaftar sejumlah film mengenai rasisme, dari berbagai sudut, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Menurut situs Imdb.com, pada tahun 1915 hingga 2010, terhitung 289 film mengandung unsur rasisme, dan pada 2011 sampai 2013 tema rasisme kembali mewarnai perfilman Hollywood, terdapat sebelas film yang memasukkan unsur rasialisme di dalamnya, di antaranya adalah Threading Needles, The Help, Ill Manors, The Man of Honour, Django Unchained, 12 Years A Slave, 42, Traffic Department, United Kingdom, Race, Selma, dan Hidden Figures. Dari film-film rasis ini, salah satu yang paling menarik bagi penulis adalah Hidden Figures.
Hidden Figures mengisahkan tiga orang wanita negro ahli matematika yang bekerja untuk NASA yang saat itu tengah berlomba dengan pihak Rusia dalammenciptakan roket yang dapat mengantarkan orang ke bulan. Mereka adalah Katherine Johnson, Dorothy Vaughan, dan Mary Jackson. Katherine adalah ahli matematika yang ditempatkan di bagian khusus penghitungan titik luncur dan titik kedatangan roket. Dorothy adalah ahli mesin yang kemudian menajdi satu-satunya orang yang dapat mengoperasikan IBM. Mary adalah teknisi roket yang karena perempuan dan berkulit hitam, di ditempatkan di bagian komputer.
Selama bekerja di situlah mereka mengalami pelbagai tindakan rasis, mulai dari pemilahan toilet, ketersediaan kopi, cara berpakaian, hingga pemberian beban kerja yang melebihi standar. Namun, berkat ketabahan dan kesabarannya, mereka mampu melalui semua itu dan berhasil membuktikan kemampuan mereka melebihi seluruh karyawan NASA lainnya. Akhirnya, para atasan mereka pun mengakui kinerja mereka.
Dalam tulisan ini akan dibahas ujaran-ujaran yang menunjukkan rasisme. Ujaran-ujaran tersebut dikelompokkan berdasarkan motif, yakni ujaran beradasarkan prasangka, ujaran sebagai pernyataan, dan ujaran sebagai tindakan.  

  1. Ujaran sebagai prasangka
  1. Saat mobil Dorothy mogok, seorang polisi kulit putih memeriksa KTP sambil mengatakan ketidakpercayaannya karena ada perempuan kulit hitam bekerja di NASA, “Aku tidak tahu kalau mereka…”. Namun karena tahu mereka bekerja dengan para astronot yang akan dikirim ke angkasa guna mengalahkan Rusia, polisi itu malah menawarkan pengawalan sampai ke NASA. Ketidakpercayaan sang polisi ini berlandaskan prasangka umum bahwa wanita dan kulit hitam tidak akan mampu bekerja di institusi sebesar NASA. Prasangka ini menyasar dua isyu sekaligus, yakni gender dan ras. Prasangka yang dimiliki sang polisi ini merupakan prasangka umum. Kemudian, secara individual, ia mampu menghilangkan prasangka tersebut dan bertindak adil dan hormat terhadap ketiganya.
  2. Baru saja masuk kantor, Katheryn sudah disangka petugas kebersihan oleh karyawan di sana. Hal ini menunjukkan prasangka bahwa orang berkulit hitam hanya layak melakukan pekerjaan kasar.

  1. Ujaran sebagai pernyataan
  1. Ketika mengetahui kemampuan Mary, Tn. Zielinski mengatakan Mary sangat diperlukan sebagai teknisi. Mary mengatakan, “Aku adalah negro, aku tak akan menghibur yang mustahil,” yang dibalas oleh Tn. Zielinski, “Dan aku adalah Yahudi Polandia yang orang tuanya mati di kamp penjara Nazi. Jika kau pria kulit putih, kau mau jadi teknisi?”. Ujaran Mary ini merupakan jawaban bahwa dirinya tidak mungkin jadi teknisi mengingat teknisi roket merupakan pekerjaan yang derajatnya lebih tinggi. Sementara itu, ujaran-ujaran Zielinsky menunjukkan ketiadaan pandangan rasis sama sekali karena ia memiliki pengalaman serupa, bahkan lebih menyakitkan, saat di Polandia. Atas hal inilah ia mendorong Mary untuk menjadi teknisi. Mary pun mengiyakan dan melamar sebagai teknisi.
  2. Mitchell (wanita berkulit putih) marah mengetahui Mary nekad melamar sebagai teknisi, mendatanginya di kantin khusus wanita kulit hitam, dan mengatakan, “Kalian beruntung mendapatkan pekerjaan”. Ujaran Mitchell ini merupakan pernyataan bahwa kaum negro banyak yang menganggur sebab akses terhadap pekerjaan sangat dibatasi. Jadi, menurut Mitchell, mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan mestinya tahu diri, tak perlu menuntut lebih.
  3. Setelah lelah dengan toilet yang jauh, Katheryn ‘mengamuk’ saat Harrison bertanya ke mana saja dia di saat-saat tertentu. “Aku tidak punya kamar mandi di sini.” Harrison tampak kebingungan dan bertanya, “Apa maksudmu ‘Aku tidak punya kamar mandi di sini’?”. Lalu Katheryn menjawab dengan nada tinggi, “Tidak ada kamar mandi untuk kulit berwarna di sini. Aku harus ke luar gedung yang jaraknya setengah mil. Aku harus ke Timbuktu hanya untuk buang air. Aku tidak boleh pakai sepeda. Aku tidak boleh memakai kalung mutiara. Kulit hitam tak dibayar banyak supaya tidak mampu beli kalung mutiara. Aku harus kerja siang malam. Aku bahkan membuat kopi yang tidak boleh aku sentuh!” Peristiwa percakapan antara katheryn dan Harrison tersebut menggambarkan secara lebih komprehensif hal-hal yang dialami dirinya sebagai wanita dan sebagai kulit hitam yang kesemuaitu menimbulkan rasa sakit. Kemarahan Katheryn adalah ungkapan dari timbunan rasa sakit yang ia terima selama bekerja di NASA.
  4. Harrison memutuskan toilet dicampur untuk kulit putih dan berwarna. Ia sendiri yang membongar papan bertuliskan “White Only” dan berkata “Di NASA, warna kencing kita sama.” Ujaran Harrison tersebut bisa dikategorikan sebagai prnyataan dari pandangan dan sikap anti-rasis. Pernyataan ini merupakan langkah penting dalam upaya membongkar prasangka dan premis keliru tentang ras manusia.
  5. Di ruang sidang yang juga memisahkan tempat duduk kulit putih dan kulit htam, Mary menuntut pengadilan karena ingin sekolah di sekolah khusus kulit putih. Karena untuk jadi insinyur NASA dia harus menempuh pendidikan di sekolah itu. Pernyataan Mary di ruang siding merupakan klimaks dari pernyataan anti-rasis. Ia pun berhasil membuat hakim mengabulkan permohonannya untuk bisa mengambil kelas di Hampton, suatu sekolah calon teknisi, sebagai syarat agar ia memperoleh pekerjaan teknisi di NASA.

  1. Ujaran sebagai tindakan
  1. Katheryn kesulitan mencari toilet karena kulit hitam disediakan toilet yang sangat jauh, dengan tulisan “colored bathroom”. Tulisan tersebut merupakan tindakan yang menginstruksikan bahwa kulit hitam tidak boleh sembarangan memasuki toilet umum. Ia memiliki tempat khusus yang barangkali juga fasilitasnya tidak sebaik toilet untuk kulit putih.   
  2. Saat Dorothy membawa anak-anaknya ke perpustakaan, ada demonstrasi anti-rasis. Dorothy berusaha memalingkan anak-anaknya dari demonstrasi tersebut sambil berkata, “Ayo, kita bukan bagian dari masalah itu”. Ujaran ini menunjukkan bahwa Dorothy tidak mengambil bentuk aksi massa sebagai perjuangan meraih haknya. Iaseorang intelek yang berjuang dengan cara halus dan elegan.
  3. Tak jauh dari tempat demonstrasi, ada tempat minum terpisah dengan tulisan “white only” dan “colored only”. Kedua tulisan ini juga menginstruksikan bahwa kaum kulit hitam tidak boleh mengambil minum sembarangan.

Berikut adalah data tokoh dan penokohan dalam film tersebut.
  1. Katheryn Johnson adalah wanita jenius Matematika yang menjadi wanita pertama dan berkulit hitam menjadi staf ahli dalam proyek roket pertama NASA. Sempat tidak diterima dalam banyak sekali kesempatan pertemuan NASA dengan pemerintah sampai akhirnya menjadi sosok penting peluncuran NASA.
  2. Dorothy Vaughan adalah wanita pertama dalam staf IBM yang mampu menjalankan mesin IBM pertama. Selalu ditolak menjadi supervisor karena berkulit hitam.
  3. Mary Jackson adalah wanita pertama insinyur NASA. Meski mempunyai dua gelar sarjana tapi ditolak menjadi teknisi karena tidak menempuh sekolah khusus teknisi yang hanya diperuntukkan untuk lelaki dan kulit putih.
  4. Al Harrison, atasan Katheryn, selalu bersikap netral dari awal dan mendorong Katheryn untuk bisa diterima sebagai staf pentng NASA. Harrison merupakan tokoh penting dalam hal menghapuskan diskriminasi rasial di NASA. dia tampak sebagai orang yang tidak memiliki prasangka dan pandangan rasis sejak awal kemunculannya dalam film. Membongkar papan “white only”merupakan aksi heroic sekaligus simbolik yang berdampak pada penghapusan diskriminasi tersebut.  
  5. Paul Stafford, rekan Katheryn awalnya rasis namun lama-kelamaan menerima perbedaan mereka dan mau bekerja sama.
  6. Jon Glenn, astronot yang diterbangkan NASA. Dia selalu bersikap netral tanpa memandang ras, bahkan tanpa sungkan menyalami para pegawai kulit hitam.
  7. Vivian Mitchell, atasan Dorothy yang rasis sampai akhirnya dia mengakui kemampuan Dorothy sebagai supervisor.
  8. Jim Johnson suami kedua Katheryn, awalnya meragukan kemampuan latheryn sebagai ahli matematika.
  9. Levi Jackson, suami Mary, mendukung penuh istrinya menajdi tenisi NASA
  10. Ruth, sekretaris Harrson, bersikap sangat hati-hati dan protokoler meski sebenarnya dia tidak rasis.
  11. Joylette Coleman, ibu Katheryn mendukung penuh bakat anaknya sedari kecil, sampai rela berpindah kota supaya Katheryn mendapat pendidikan layak.
  12. Karl Zielinski, atasan Mary, seorang Yahudi, mendukung penuh supaya Mary menjadi teknisi. Zielinsky merupakan representasi kaum imigran Amerika yang memiliki kebijaksanaan lebih dibanding kulit putih Amerika. Ia bukan hanya tidak memiliki prasangka rasial, melainkan juga berempati pada kaum kulit hitam karena pengalaman pahitnya sebagai yahudi di mana orangtuanya dibunuh di kamp konsentrasi.   

DAFTAR PUSTAKA
McQuail, D. (2011). Teori Komunikasi Massa . Jakarta: Humanika.

Lustig, Myron W. and Jolene Koester. (2003). Intercultural Competence: Interpersonal Communication Across Cultures. New York : Mc. Graw Hill International.

 Samovar A. Larry, Porter E. Richard, McDaniel R. Edwin. 2010. Komunikasi. Lintas Budaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar