Kamis, 28 Juni 2018

MENGGUGAT PATRIARKI; MEMBANGUN RUANG PEREMPUAN Analisis Feminis terhadap Puisi-Puisi Toeti Heraty

*Submitted for Seminar Proposal class at Universitas Padjadjaran Bandung

ABSTRAK
Bagi perempuan, menulis adalah salah satu upaya untuk merekam kehidupannya sehingga ruang dan kebudayaan baginya menjadi terbuka. Ini juga merupakan upaya untuk memperbaiki suatu kebudayaan yang tidak menguntungkan bagi perempuan, yaitu patriarki. Beberapa puisi Toeti Heraty merekam pergulatan batinnya sebagai perempuan dalam menyikapi berbagai kejadian yang menguntungkan budaya patriarki tersebut. Penelitian ini menelaah dalam bentuk Analisis Wacana Kritis (critical discourse analysis [CDA]) yang  dalam analisisnya, CDA meniscayakan keberadaan pengarang di balik tulisan serta dampaknya terhadap pembaca.



ABSTRACT
For women, writing is an attempt to record her life so that the space and culture for her to be opened. It is also an attempt to restore a culture that is unfavorable to women, namely patriarchy. Some Toeti Heraty poems record her inner struggle as a woman in dealing with events that benefit the patriarchal culture. This study examines in the form of Critical Discourse Analysis (CDA), which in its analysis, CDA necessitates the existence of the author behind the text and its impact on the reader.

Pendahuluan
Menarik sekali apa yang dituliskan Tineke Hellwig tentang kritik(us) sastra feminis. Hellwig menyatakan bahwa studi perempuan dianggap sebagai bagian dan paket dari agenda politik feminis. Dengan demikian, bagi kritikus feminis, semua interpretasi bersifat politis. Artinya, siapa pun yang akan mengkaji perempuan dan sastra pada masa kini haruslah mengklarifikasi posisinya (Hellwig, 2003: 8-9).
Dengan demikian, kritik sastra feminis (selanjutnya disingkat KSF) bisa jadi merupakan salah satu bentuk dari metode analisis wacana kritis (critical discourse analysis [CDA]). CDA tidak berhenti pada penafsiran terhadap teks, tetapi harus dilanjutkan pada tataran riil. Selain itu, dalam analisisnya, CDA meniscayakan keberadaan pengarang di balik tulisan serta dampaknya terhadap pembaca. Jadi, jika dogma tradisional menyatakan bahwa ilmu itu harus objektif dan bebas nilai, KSF justru harus subjektif dan mengambil posisi terhadap nilai, baik mengukuhkan maupun menghancurkan.
Isyu ketertindasan gender adalah isyu paling abadi dibandingkan isyu ketertindasan lainnya, semisal ketertindasan rasial dan kelas. Dalam hal melihat penyebab utama ketertindasan ini, kaum feminis memiliki pandangan yang berbeda (lihat bagian kerangka teori). Namun, lepas dari itu, permasalahan pokoknya adalah sama, yaitu bahwa—seperti dikatakan dalam salah satu puisi Toeti heraty—dunia ini milik laki-laki. Dengan demikian, sudut pandang dalam melihat dunia hanyalah sudut pandang dari mata laki-laki. Maka dari itu, segala tatanan yang ada di atasnya pun diatur oleh laki-laki. Kaum feminis berupaya memperjuangkan adanya sudut pandang berdasarkan mata perempuan. Maka dari itu, mereka berupaya mengkritisi, menggugat, bahkan menghancurkan relasi laki-laki-perempuan yang selama ini timpang, biner-hierarkis. Tujuan akhirnya adalah membuktikan bahwa pengalaman hidup menampilkan dua perspektif: perspektif laki-laki dan perspektif perempuan (Heraty, 2006: 5).
Apakah perbedaan siginifikan dari kedua perspektif ini? Menurut toeti, bahwa laki-laki biasanya memuliakan heroisme yang mengklimaks pada kematian, sedangkan perempuan malah merekam kehidupan yang mungkin monoton tanpa klimaks, tetapi penuh intensitas (ibid). Inilah yang sering tidak terekam, terabaikan. Maka, bagi perempuan, menulis adalah salah satu upaya untuk merekam kehidupannya sehingga ruang dan kebudayaan baginya menjadi terbuka.
Maka dari itu, benar apa yang dikatakan hellwig bahwa kritik(us) feminis selalu politis. Si penulis harus memiliki posisi yang jelas dan tulisannya memiliki tendensi untuk tujuan politisnya itu. Itulah yang telah dilakukan Kartini (Gelombang Pertama) hingga Toeti Heraty (Gelombang Ketiga). Saat ini dapat dikategorikan feminisme Gelombang Ketiga. Berhubung bentuk gerakan beragam, bentuk tulisannya pun beragam. Namun, di antara yang beragam itu, tampaknya puisilah yang paling jarang. Kaum feminis, dan umumnya kaum perempuan, lebih banyak menulis dalam bentuk prosa (cerpen, novel). Lebih sedikit lagi adalah puisi yang jelas-lugas menyuarakan feminisme. Sejauh pembacaan saya, puisi-puisi Toeti Heraty termasuk puisi yang jelas-lugas menyuarakan feminisme. Maka dari itu, membahas puisi-puisi dalam kerangka KSF menjadi menarik bagi saya.
Kumpulan puisi karya Toeti Heraty terbaru berjudul Mimpi dan Pretensi yang diterbitkan Balai Pustaka. Kumpulan ini merupakan kompilasi dari kumpulan-kumpulan sebelumnya. Saya akan membahas beberapa puisi yang langsung berkenaan dengan isyu perempuan, yaitu “Dan Bunga Tenar”, “Bayangan Wungu”, “Wanita”, “Perempuan Kesurupan”, “Siapa yang Mengatakan”, dan “Manifesto”.
Selain hal tersebut di atas, alasan-alasannya adalah sebagai berikut. Pertama, dalam banyak puisinya yang memang cenderung naratif, TH menjadikan perempuan sebagai subjek. Kedua, sudut pandang yang digunakan TH  dengan jelas menunjukkan posisinya sebagai penyair; pada beberapa puisinya, ia berbicara tentang dan kepada perempuan dan pada puisi-puisi lainnya berbicara kepada laki-laki. Kedua, bahasa yang digunakan TH adalah bahasa-bahasa lugas yang sedikit banyak menabrak pengertian konvensional tentang puisi, yaitu figuratif. Bahasa yang lugas dan banyak dibubuhi tanda seru itu membangun atmosfer yang kental terasa, yaitu perlawanan. Selain itu, secara lebih luas, bahasa TH juga menabrak citraan umum tentang bahasa perempuan, yakni lembut dan tersembunyi. TH sendiri adalah seorang pemikir feminis.

Kerangka Teori
Secara umum, gerakan feminisme bertujuan meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat laki-laki (Djajanegara, 2000: 4). Secara kronologis, feminisme terbagi ke dalam tiga gelombang. Gelombang pertama berorientasi pada kesetaraan. Gelombang kedua beralih orientasi dari kesetaraan ke perbedaan. Gelombang ketiga muncul dengan berbagai ragam bentuk dan sebutan, namun intinya tetap melanjutkan isyu-isyu yang diangkat oleh gelombang pertama dan kedua (Heraty [ed.], 2006: 5).
Dari segi permasalahan yang diperhatikannya, feminisme terbagi ke dalam tiga aliran besar. Marissa Rueda dan dua penulis feminisme lainnya membagi feminisme ke dalam tiga aliran, yaitu feminisme radikal, feminisme sosialis, dan feminisme liberal. Feminisme radikal melihat bahwa problem ketimpangan gender adalah patriarki, yaitu seluruh sistem kekuasaan laki-laki atas perempuan. Feminisme sosialis melihat bahwa problemnya adalah kombinasi antara dominasi laki-laki dan eksploitasi kelas. Feminisme liberal adalah feminisme yang mengkritisi keduanya, yaitu bahwa problemnya adalah prasangka. Feminisme liberal memandang bahwa yang perlu dilakukan adalah mengoreksi sistem (Rueda, et. al., 2007: 120).
Perbedaan pandangan ketiga aliran feminisme ini memunculkan strategi masing-masing. Feminisme radikal berjuang melalui kampanye dan demonstrasi untuk membangun ruang dan kebudayaan perempuan. Feminisme sosialis menekankan pada pembangunan aliansi dengan kelompok-kelompok tertindas lainnya. Feminisme liberal berkonsentrasi pada lobi pemerintah demi reformasi pro-perempuan (ibid: 121).
Melihat pemetaan di atas, tampaknya Helene Cixous dapat dikategorikan sebagai seorang feminis radikal. Dalam esainya yang berjudul “Pengebirian atau Penggal Kepala”, ia mengkritik tajam dominasi dan kekuasaan laki-laki. Berdasarkan mitologi Yunani, anekdot Cina klasik, dan dongeng-dongeng klasik Eropa ditambah pendapat Freud dan Lacan dan beberapa sastrawan dunia, Cixous rupanya hendak mengatakan bahwa perempuan sama sekali tidak memiliki ruang dan kebudayaan. Konsekuensinya, perempuan berada di luar tatanan kebudayaan. Jika ingin memasuki tatanan tersebut, perempuan harus tunduk secara mutlak pada sistem laki-laki; perempuan tidak ada tanpa laki-laki; perempuan tidak bisa apa pun dan tidak memiliki apa pun.
Cixous kemudian menawarkan solusi, yaitu dengan melakukan perlawanan terhadap keinginan maskulin dalam bentuk-bentuk sebagai berikut.
a. Perempuan tidak lagi membantu dengan tubuhnya apa yang ia namakan bidang yang pantas (the realm of the proper);
b. Menahan gerakan pengambilalihan yang mengatur seluruh ekonomi dengan tidak lagi terlibat dalam pengembalian maskulin, tetapi dengan mengusulkan keinginan yang tidak lagi terperangkap dalam perjuangan hidup mati, tidak lagi terlibat dalam keraguan dan perhitungan ekonomi maskulin.
c. Dia harus berbicara, memulai berbicara untuk mengatakan kesenangannya dan berhenti mengatakan bahwa dia tidak punya apa-apa untuk dikatakan.
d. Lepas dari dan menjelaskan apa yag dibawa oleh semua pengetahuan sebagai beban kekuasaan.
Berdasarkan tulisan Cixous tersebut, saya menyimpulkan bahwa ada beberapa poin berkenaan dengan perempuan yang bisa diangkat dalam kaitannya dengan analisis ini yang juga saya sesuaikan dengan tema-tema dalam puisi-puisi Toety Herati, yaitu kesunyian, penderitaan, histeria, bahasa (tatanan budaya; sistem simbolik), dan perlawanan.

Perempuan dan Kesunyian
DAN BUNGA TENAR

dan bunga tenar yang disebut wanita itu
telah layu di pojok-pojok jalan
hilang semu dan pesona

aku kehilangan pula

mutiara-mutiara hitam darah tetesan
luka tersembunyi
sewaktu pentas dihayati:
tari topeng laki-laki

Bait pertama pada puisi tersebut langsung mengingatkan saya pada tulisan Cixous yang menyebutkan bahwa tempat perempuan adalah di pinggiran kota (beranalogi pada cerita Sphinx yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Oedipus); di luar tatanan kebudayaan.
Namun, sebelum ke sana, pertama kali saya ingin menafsirkan tema puisi tersebut. Saya membacanya sebagai puisi yang menggambarkan ruang dan tatanan kebudayaan. Indikasinya dapat dilihat dari kata-kata seperti tenar, pentas, dan tari topeng.
Kedua, subjek dalam puisi tersebut adalah wanita. Penyair menyebutnya sebagai “bunga tenar” yang “telah layu di pojok-pojok jalan”. Mengapa layu? Karena “kehilangan semu dan pesona”. Ada ironi di sini. Jika layu karena kehilangan pesona, itu hal yang relevan. Namun, jika layu karena kehilangan semu, sepintas ini tampak tidak relevan. Secara tekstual, makna semu dan pesona barangkali berada di kutub yang berlawanan. Namun, secara kontekstual, semu dan pesona bisa jadi bersinonim karena pesona seringkali dikait-kaitkan dengan kepura-puraan. Pesona adalah kesan baik, bagus, elok yang muncul ke luar. Bisa alami, tetapi bisa juga karena sengaja diciptakan. Hal kedualah yang tampaknya sering terjadi. Penyair menyebut wanita sebagai bunga tenar bisa diartikan bahwa wanita adalah sesuatu yang cantik dan tenar, yang diketahui banyak orang, yang hadir. Namun, kehadirannya muncul karena pesona yang semu.
Beranjak pada bait kedua: aku kehilangan pula. Rupanya, penyair melibatkan diri dalam puisi. Lebih tepat lagi, berempati pada si wanita. Karena si wanita kehilangan ketenarannya, kehilangan kehadirannya, ia pun merasa kehilangan pula.
Kehilangan itu kemudian mengklimaks di bait ketiga, yaitu mutiara-mutiara hitam darah tetesan/luka tersembunyi. Sulit menentukan makna gramatikal dari kalimat pertama bait kedua ini karena secara gramatikal tampak kacau. Namun, kalimat kedua menjawabnya, yaitu bahwa si aku-lirik dan si wanita diam-diam meneteskan darah yang butir-butirnya seperti mutiara hitam: luka tapi tersembunyi.
Penyebab dari semua itu terjawab pada bait terakhir: sewaktu pentas dihayati:/tari topeng laki-laki. Jadi, rupanya si wanita menderita karena kehilangan tempatnya untuk hadir: pentas. Ia berada di luar, bahkan jauh dari pentas: di pojok-pojok jalan. Si wanita menjadi layu dan terluka karena pentas diambil alih sepenuhnya dan dihayati oleh laki-laki yang memainkan tari topeng. Tari topeng adalah sebuah pentas saat si penari pada saat tertentu memakai topeng. Biasanya, ia memakai topeng dua kali. Yang satu berwarna putih dengan mata sipit dan bibir tipis tersenyum dengan mulut tertutup: citra femininitas; topeng yang lain berwarna merah dengan mata besar melotot dan mulut terbuka memperlihatkan gigi putih besar-besar lengkap dengan taringnya: citra maskulinitas. Jadi, baik femininitas maupun maskulinitas ternyata dapat dimainkan oleh laki-laki; dikuasai laki-laki. “Tari topeng laki-laki” bisa dibaca sebagai sistem mutlak laki-laki. Dalam bahasa Cixous, laki-lakilah yang menciptakan citra perempuan untuk perempuan. Jadi, kesemuan itu diciptakan laki-laki pula.
Sementara itu, si wanita kehilangan perannya, kehilangan ruang, kehilangan dirinya. Ruang baginya adalah “di pojok-pojok jalan”, di pinggiran, di dalam kesunyian. Karena penyair adalah seorang wanita, ia pun merasakan hal yang sama.
Secara kseluruhan, puisi ini menyatakan bahwa hanya laki-lakilah yang menguasai tatanan kebudayaan. Tidak ada tempat bagi perempuan untuk berkiprah di dalamnya. Tempat bagi perempuan adalah kesunyian.

Perempuan dan Penderitaan
Puisi “Bayangan Wungu tampaknya hendak menyatakan penderitaan perempuan dengan gaya ironi. Bait pertama berbunyi:

bayangan wungu di sana sini
pada tubuhnya
adalah tanda-tanda bahwa ia
hidup karena derita
tertunduk karena dewasa
pilu meluapkan cinta

Bayangan wungu (ungu) pada tubuh bisa diartikan sebagai lebam. Lebam adalah darah yang membeku sebagai tanda terjadinya luka di dalam tubuh. Bait tersebut menyebutkan dengan lugas bahwa lebam-lebam itu adalah tanda-tanda bahwa ia/hidup karena derita.
Cixous menceritakan anekdot tentang Sun Tze, yaitu para istri raja yang dilatih untuk menjadi prajurit. Satu-satunya cara agar para wanita itu patuh dan berlatih sungguh-sungguh adalah dengan ancaman penggal kepala. Wanita tidak memiliki pilihan lain: hidup tapi berada dalam dunia maskulin atau kepalanya dipenggal.
Citra-citra maskulin di antaranya adalah kekuatan dan persaingan yang kesemuanya merupakan hipernim dari pertempuran atau perkelahian. Hasil perkelahian adalah luka, terutama luka dalam: lebam-lebam itu. Perempuan harus pula melakukan perkelahian yang mengakibatkan lebam-lebam, bayangan wungu di sana-sini pada tubuhnya. Hal ini membenarkan pernyataan Cixous tentang pilihan perempuan tadi: hidup, tetapi berada dalam sistem yang maskulin. Maka, memilih hidup sama dengan memilih untuk menderita: ia hidup karena derita.
Semakin seorang perempuan dewasa, semakin ia harus tunduk pada sistem itu. Maka, pada baris berikutnya, puisi itu berbunyi: tertunduk karena dewasa. Baris tersebut memang tidak memiliki kaitan gramatikal dengan baris-baris sebelumnya walaupun berada pada bait yang sama. Namun, kesemuanya berada dalam atmosfer yang sama, yaitu pengebirian terhadap perempuan. Situasi demikian diterima oleh semua pihak seakan sesuatu yang given atau lebih dikenal dengan istilah “takdir”. Maka, penderitaan perempuan dianggap sebagai takdir alias ketentuan Tuhan. Namun, perempuan juga manusia. Ia memiliki cinta. Bagaimana caranya agar perempuan dapat tetap mencinta saat derita abadi mendera? Maka, mau tak mau, ia harus menjadi seorang masokis. Ia harus bisa mentransformasikan penderitaannya menjadi kebahagiaan: pilu meluapkan cinta.
Bait kedua dimulai dengan baris yang berbunyi: mengecup dengan bibir/bayangan-bayangan wungu. Dengan demikian, tidak ada yang dapat dilakukan perempuan kecuali menikmati penderitaan itu. Hanya dengan cara itulah perempuan memperoleh kesakralan dan keperkasaannya:

mengecup dengan bibir
bayangan-bayangan wungu
adalah menghirup dupa rahasia
yang menggetarkan kelepak burung-burung malam

Dupa adalah perkakas untuk berdoa. Ia menjadi simbol kesakralan. Mengapa rahasia? Barangkali karena selalu tersembunyi atau disembunyikan. Jadi, bagi perempuan, menikmati penderitaan adalah mendapati kesakralan yang selama ini tidak disadarinya. Baris-baris berikutnya berbunyi:

dan budak memanggil binatang kesayangan
dengan nada-nada panjang
merayu

Membaca baris ini, saya teringat Cixous yag menyatakan bahwa relasi laki-laki perempuan adalah oposisi biner-hierarkis: tuan-budak. Apakah budak yang dimaksud dalam baris tersebut adalah perempuan? Jika melihat objek dalam dalam baris itu, yaitu binatang kesayangan, bisa jadi budak itu adalah laki-laki. Sebabnya, jika direlasikan dengan binatang, budak lebih tinggi. Jadi, mungkin budak itu memang laki-laki dan binatang kesayangan adalah perempuan. Penanda lain bahwa budak itu laki-laki adalah kata terakhir dari bait tersebut: merayu. Bukankah merayu adalah strategi penggunaan bahasa secara halus—penuh pesona, tapi semu—yang biasa digunakan laki-laki untuk menundukkan perempuan? Dalam bahasa Cixous: modal. Beranalogi pada kisah Don Juan, Cixous menyatakan bahwa dalam ekonomi maskulin, laki-laki memberikan perempuan apa yang diinginkannya agar perempuan tetap berada di ranjang. Maka, lengkaplah perempuan sebagai makhluk yang pasif.
Puisi ini ditutup oleh bait yang tediri atas dua baris: pilu meluapkan cinta, ia/adalah kekasih dan ibu. Ada pengulangan atmosfer masokis: pilu meluapkan cinta. Lalu, ditegaskan bahwa ia adalah kekasih dan ibu. Penyair memberikan kepada perempuan dua buah predikat, yaitu kekasih dan ibu. Kekasih adalah orang yang dikasihi. Secara gramatikal, ia memiliki makna pasif (yang di-); pihak yang dikenai pekerjaan. Ibu adalah orang yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan—karena itu—mengasuh anak-anaknya: mengasihi. Secara gramatikal, mengasihi memiliki makna aktif (me-i); melakukan pekerjaan. Jadi, perempuan adalah pihak yang dikasihi sekaligus mengasihi; pasif sekaligus aktif. Bisa saja hal itu bernilai positif, yakni bahwa perempuan adalah makhluk yang lengkap. Namun, bisa juga bernilai negatif. Beranalogi pada dongeng Sleeping Beauty, Cixous menyitir Kierkegaard, “Perempuan tidur; cinta memimpikannya, lalu perempuan bermimpi tentang cinta.” Jadi, dalam konsep Cixous, dikasihi-mengasihi merupakan siklus dalam tatanan simbolik yang membuat perempuan tetap berada di ranjang untuk bermimpi selamanya; untuk takberdaya selamanya.

Perempuan dan Histeria
Cixous menyatakan bahwa kesunyian adalah histeria. Karena perempuan berada dalam kesunyian, ia berada dalam situasi histeria. Penderita histeria yang hebat telah kehilangan kemampuannya untuk berbicara (aphonic). Jadi, perempuan adalah makhluk yang aphonic. Banyak teks filsafat menyebutkan bahwa senjata perempuan adalah kata-kata. Perempuan berkata-kata kian kemari. Bercakap-cakap (talking), tetapi tidak berbicara (speaking). Apa yang dikeluarkan perempuan adalah bunyi (noice) bukan suara (voice).
Situasi itu saya dapati dalam puisi Toeti yang berjudul “Wanita”. Puisi itu mengisahkan tiga orang wanita yang hendak pergi arisan lengkap dengan pakaian yang menunjukkan citra feminin di negeri ini. Apa yang menjadi fokus perhatian si penyair adalah perilaku mereka:

menengok ke kiri ke kanan mereka berhenti gelisah
karena kain berwiru dan bertumit itnggi, rambut
terbelai angin dan panas matahari, —becak lalu—
mereka segera musyawarah suaranya tinggi

nada-nada tinggi tawar-menawar rupanya dimulai
entah mengapa kasak-kusuk terhenti, ternyata—
bung becak mengayunkan kakinya lagi dan mereka
asyik dan riang akhirnya tidak tampak olehku lagi

Suasana yang tampak ceria itu ditangkap oleh penyai sebagai sebuah ironi. Pada bait terakhir, penyair menjatuhkan penilaian:

wanita …

berapalah kemesraan sepanjang umur
tiada berlimpah tiada mencukupi
karena kau dengan tak acuh, tidak peduli
membawa pilu yang tak tersembuhkan dan
tak kau sadari, tak kau sadari

Situasi histeria memang selalu melingkupi perempuan. Menurut Cixous, penderita histeria adalah gangguan. Namun, laki-laki melestarikan situasi itu karena dengan demikian ia akan terus menundukkan, memanggilnya, dan memerintahnya.
Namun, Tineke hellwig melihatnya secara berbeda. Hasil penyimpulan dari analisisnya terhadap Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari adalah bahwa kegilaan (sinonim dari histeria) adalah penolakan mutlak terhadap dominasi maskulin (Hellwig: 2000: 190).
Hal senada saya temukan dalam puisi Toeti yang berjudul “Perempuan Kesurupan”. Pada baris-baris awal bait pertama, puisi ini mendeskripsikan citra feminin seorang perempuan: rambut terurai berkeluk/mencumbu lekuk pinggang yang/lembut melengkungi pangku. Bait berikutnya mendeskripsikan gerak perempuan tersebut berdasarkan sudut pandang aku-lirik: ia,/membelakangi aku/bersandar ringan/terhempas memanjang. Bait pertama ini diakhiri dengan adegan: ia,/menengadah dunia.
Rupanya, adegan menengadah dunia adalah fase transformasi dari perempuan yang halus-lembut-patuh, perempuan yang normal, menuju perempuan yang tidak tertib, tidak normal. Ketidaktertiban itu digambarkan dalam bait kedua:

tiba-tiba berpaling
matanya hampa!
bibir terkatup melemas
melepaskan kutukannya

Pada fase histeria ini, mata si perempuan hampa, tidak lagi sayu. Artinya, ia kosong; tidak menanggung apa pun lagi. Puncaknya, ia melepaskan apa yang selama ini ia tanggung: kutukan. Memang tidak jelas apakah melepaskan kutukan berarti mengutuk si aku-lirik yang sedang memandangnya atau melepaskan kutukan yang selama ini membelenggunya. Namun, jika ditinjau dalam konteks kepenyairan Toeti sebagai pemikir feminis, tampaknya kemungkinan kedualah yang lebih mengena. Hal itu diperjelas pada bait berikutnya:

matanya hampa
hampir-hampir tak percaya
kulepaskan harap
kulepaskan kewarasannya

Jadi, selain kutukan, hal-hal yang membelenggu diri perempuan itu adalah harapan dan kewarasan. Sebagai sesama perempuan, si aku-lirik membantu si perempuan untuk melepaskan keduanya.
Bait terakhir menutup puisi ini dengan keterpesonaan si aku-lirik:

matanya hampa
matanya hampa
aku terpaku menatapnya

Dalam keseluruhan puisi, saya mendapati kalimat matanya hampa diulang sebanyak tiga kali dalam bentuk repetisi (pengulangan utuh). Hal ini bisa dibaca sebagai penegasan bahwa kekosongan, histeria, adalah situasi ketika si perempuan mendapati kebebasannya. Ia tidak lagi dikenai citra yang diciptakan laki-laki; terbebas dari sistem maskulin. Bait terakhir menunjukkan situasi aku-lirik yang terpaku menatapnya. Memang ada dua kemungkinan makna: terpaku karena merasa kasihan atau terpaku karena takjub dan salut; takjub dan salut karena perempuan itu berhasil membebaskan diri dari penderitaannya. Jika mengacu pada konteks histeria sebagai perlawanan, makna kedualah yang tampaknya lebih tepat.
 
Perempuan dan Bahasa
Pada puisi “Siapa yang Mengatakan”, Toeti tidak lagi sekadar berempati dan menilai perempuan, tetapi mengkritisinya. Dengan jelas-tegas, Toeti berupaya menyadarkan kaum perempuan yang selama ini dibelenggu oleh sistem maskulin. Bagian dari sistem maskulin itu adalah bahasa.
siapa yang mengatakan
“bagai kuncup terkulai di tangan”
yang menyanjungnya
dasar wanita,
berterima kasih dalam-dalam
karena takdir telah menyentuhnya

Dalam puisi tersebut, Toeti mengutip kata-kata klise yang biasa digunakan laki-laki untuk merayu, untuk menundukkan, perempuan. Seperti lazimnya, perempuan merasa bahagia karenanya. Toeti mempertanyakan kata-kata itu, bahasa itu; mempertanyakan siapa yang mengucapkannya. Lalu, dengan nada sinis, ia menegur wanita yang merasa bahagia karena saat laki-laki merayunya, ia menganggap bahwa takdir sedang menyentuhnya. Artinya, wanita itu memang memosisikan dirinya di luar takdir.
Kata takdir-lah yang selama ini membelenggu wanita. Maka, Toeti mempertanyakannya:

takdir? bahwa dunia merekah dan
dupa keramat melingkari dengan mantera
mantera abadi?

Pemahaman atas kata takdir itulah yang membuat perempuan tidak berdaya dan tidak menyadari ketidakberdayaan itu. Maka dari itu, ia tidak bisa melakukan apa pun tanpa pertolongan laki-laki. Laki-laki yang bersedia menikahinya dipandanganya sebagai dewa penyelamat dan perempuan begitu kagum kepadanya. Kemudian, sang dewa hanya menuntunnya pada dunia rumah tangga yang disebut Toeti seagai taman hakiki. Selain itu, bait ini juga mengiyakan apa yang dikatakan Freud dan Lacan bahwa perempuan tidak dapat melakukan apa pun tanpa bantuan laki-laki.

dengan senyum pada pandang karena
sendiri tidak berdaya, pada pergelangan tangan
mesra menghelanya ke taman hakiki
hati padat penuh kekaguman akan
manusia jantan, semacam dewa!

Bait-bait berikutnya seakan hendak mengiyakan pernyataan Cixous bahwa tempat perempuan adalah dari ranjang ke ranjang; kutukan domestisitas. Dengan sinis, Toeti mempertanyakan bahasa puitis dan sakral sekaligus klise mengenai perkawinan: ikatan restu antara dua insan. Toeti pun mempertanyakan kembali bahasa tersebut: siapa pula yang mengatakan:/“ikatan restu antara dua/insan dewata”.
Kemudian, Toeti memberikan penilaian bahwa hal itu memang lazim: lazim,/sebagai halnya tanda rahasia timbulkan/pretensi-pretensi sewajarnya. Kelaziman itu sama seperti tanda rahasia yang menimbulkan dusta-dusta sewajarnya. Tidak jelas apa yang dimaksud tanda rahasia dan pretensi sewajarnya. Namun, jika memperhatikan bait berikutnya, yaitu bait terakhir, dapatlah dideteksi bahwa kemunginan ia membicarakan perkawinan; sebuah institusi yang oleh kaum feminis radikal dianggap paling bertanggung jawab dalam hal penindasan terhadap perempuan: kuncup berduri, geli dan kesal/taman hakiki. Kuncup berduri bisa jadi merupakan hasil perkawinan, yaitu sesuatu yang mekar tetapi dapat menyebabkan luka. Paling tidak, membuat geli dan kesal. Namun, perempuan tidak bisa berbuat apa-apa karena itulah taman hakiki, tempat perempuan tidak bisa keluar darinya.

Perempuan dan Perlawanan
Jika pada puisi-puisi yang telah dibahas berbicara tentang dan kepada perempuan, pada puisi terakhir yang akan dibahas ini, si penyair berbicara kepada laki-laki. Judulnya sudah jelas menunjukkan apa yang hendak ia katakan itu: “Manifesto”. Dalam puisi ini, Toeti menelanjangi habis-habisan perilaku laki-laki yang menganut hukum ayah dan dengan itu memosisikan perempuan sebagai sebagai pihak lain; sebuah benda yang ditundukkan untuk memenuhi kesenangannya.
Pada bait pertama, penyair menyatakan keinginannya untuk menuntut laki-laki atas apa yang telah mereka lakukan selama ini terhadap wanita:

aku tuntut kalian
ke pengadilan, tanpa fihak yang menghakimi
siapa tahu, suap-menyuap telah meluas—menjulang
sampai ke Hakim Tertinggi
siapa jamin, ia tak terlihat sejak semula
karena dunia, pula semesta, pria yang punya

puisi yang panjang ini tampaknya ingin menguraikan genealogi penindasan terhadap perempuan. Pada bait ketiga, misalnya, saya mendapati akar penindasan itu:

kemudian kau dekritkan: wanita itu pangkal dosa
sebungkah daging, segumpal emosi
sekaligus imbesil dan bidadari
dilipat jari kaki, dikunci pangkal paha
dicadari, gerak-gerik dibebani menjadi
tari lemah gemulai
ia tertunduk karena salah, gentar, patuh
mengecam diri
dan akhirnya boleh juga, ia dimanja
sekali-kali

Akibat dari penindasan ini tidak hanya dirasakan oleh perempuan, tetapi oleh segenap penghuni bumi. Maka dari itu, si penyair tampaknya meragukan tuntutannya karena sudah terlambat; karena bumi telah rusak. Amarahnya pun kian besar karena pada saat-saat demikian, barulah laki-laki menuntut partisipasi perempuan:

makhluk-makhluk kerdil, diburu kecemasan kastrasi
hanya kenal satu bencana riil; impotensi
membusungkan dada lewat psikoanalisa, karena
solidaritas mafia dengan Bapa di Surga
akhirnya merestui emansipasi wanita
aku tuntut kalian
sekali lagi—saatnya mungkin terlambat sudah
perang telah berkecamuk, ekosistem telah buyar
pengungsi di mana-mana, menipu, lapar, terkapar
dan diplomasi jadi lawakan, yang sungguh
tak lucu lagi
sementara
kami telah diam cukup lama, berkorban demi
egomu dan sekian banyak abstraksi
apa wanita kini harus selamatkan dunia
tiba-tiba pembangunan jadi urusan kami juga!

Pada akhirnya, si penyair, si aku-lirik memang membatalkan tuntutan ini. Pasalnya, ia memiliki anak laki-laki. Menuntut laki-laki berarti menuntut anaknya juga. Jadi, memang tidak jelas motif sebenarnya yang menyebabkan ia membatalkan tuntutan itu. Namun yang pasti, ia melakukan hal tersebut karena menganggap laki-laki sudah kalah.

kalian telah kehilangan gengsi
seperti badut yang tunggang langgang lari
dalam bencana akhirnya panggil ibu juga
tapi—
demi anakku laki-laki
tuntutan aku tarik kembali
dan jadi pengkhianat—atau—
memang karena sudah terlambat

Simpulan
Semua puisi Toeti Heraty yang telah dibahas mengemukakan permasalahan patriarki. Tema tersebut relevan dengan permasalahan yang dilihat aliran feminis radikal sebagai penyebab utama tertindasnya kaum perempuan.
Secara lebih spesifik, puisi-puisi Toety mengemukakan bahwa perempuan berada di luar tatanan kebudayaan (“Dan Bunga Tenar”); jika memasuki tatanan simbolik, perempuan harus mengikuti secara mutlak hukum laki-laki atau sistem maskulin (“Bayangan Wungu”); perempuan berada dalam situasi histeria (“Wanita”, “Perempuan Kesurupan”); siklus perempuan dalam tatanan simbolik: dari ranjang ke ranjang (“Manifesto”); dan perlawanan terhadap sistem maskulin tersebut adalah histeria itu sendri (“Perempuan Kesurupan”) dan keberanian untuk berbicara, mengemukakan hasratnya, bahkan menjatuhkan dan menuntut laki-laki (“Manifesto”).
Melalui puisi “Siapa yang Mengatakan” dan “Manifesto”, penyair berupaya menyadarkan perempuan atas situasinya dan mempertanyakan sekaligus menuntut laki-laki akan apa yang ia lakukan selama ini. Dengan demikian, ia hendak membangun ruang dan kebudayaan untuk perempuan yang selama ini dikebiri, ditiadakan oleh laki-laki.
Kesemua hal tersebut relevan benar dengan apa yang dikemukakan Helene Cixous mengenai ketertindasan perempuan beserta solusi untuk mengakhirinya. Sejauh ini, mengenai penyair, dapatlah Toeti Heraty disebut sebagai seorang feminis radikal. Di samping dalam puisi-puisinya melihat patriartki sebagai problem ketertindasan perempuan, Toeti juga kerap melakukan aksi-aksi demonstrasi bersama para cendekiawan lainnya untuk mengakhiri penindasan, baik penindasan perempuan, maupun penindasan terhadap pihak marginal lainnya.
Dari segi tekstual, puisi Toeti memiliki kepaduan berdasarkan dimensi atmosferik, bukan dimensi gramatikal. Andreas Teeuw dan Maman S. Mahayana mengaku kesulitan membahas puisi-puisi Toeti karena mengabaikan kaidah-kaidah bahasa. Pengacauan gramatikal dalam karya para feminis kerap dilakukan kaum feminis, semisal Virginia Woolf dalam karyanya, Mrs. Dalloway. Menurut Teeuw, puisi-puisi Toeti memang sengaja membebaskan diri dari kaidah. Barangkali kaidah tata bahasa dipandang sebagai salah satu representasi sistem maskulin: teratur, tertib, baku.














Daftar Pustaka

Heraty, Toeti. 2007. Mimpi dan Pretensi. Jakarta: balai pustaka.
--------. 2006. Selendang Pelangi. Magelang: Indonesia Tera.
Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis. Jakarta: Gramedia.
Rueda, Marissa, Marta rodriguez, dan Susan Alice Watkins. 2007. Feminisme untuk Pemula. Yogyakarta: Resist Book.
Cixous, Helene. 2000. “Pengebiran atau Penggal Kepala” dalam Hidup Matinya sang Pengarang (penyunting: Toeti Heraty). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Teuw, Andreas. --- . Tergantung pada Kata. Bandung: Pustaka Jaya.

Sabtu, 14 April 2018

Faust; Romantisme Sang Penyembah Setan, drama dua babak Johann Wolfgang von Goethe.



Dimainkan oleh Pictorial Actors Laboratory, 12 April 2018.

Akan selalu ada hal yang menjerat hati seseorang sehingga dia selalu menginginkan lebih. Ada yang hatinya terpaut pada kekayaan, ada yang sangat memuja cinta, ada yang selalu menginginkan kuasa lebih, ada yang mendewakan kecantikan ragawi. Pun Heinrich Faust, dia selalu merasa haus akan ilmu pengetahuan. Faust seorang ahli astrologi, ahli kimia dan pesulap asal Jerman. Cerita hidupnya mengilhami Goethe dalam naskah drama dan menjadi masterpiece.
Selalu merasa haus akan ilmu memicu Faust membuat perjanjian dengan Mephistopheles, seorang Iblis. Faust akan mendapat ilmu pengetahuan tak terbatas dengan imbalan jiwanya akan diberikan kepada Mephistopheles dan akan melayani Mephistopheles di neraka kelak.
Pertunjukan dimulai oleh monolog si Iblis yang menyanggupi (tantangan Tuhan) untuk menggoda Faust supaya bisa menjadi pelayannya kelak di neraka. Faust sendiri sudah di titik jenuh, dia mempertanyakan Tuhan dan ingin mengakhiri hidup karena merasa hidupnya dengan berbagai gelar akademik tidak mencukupinya akan makna hidup itu sendiri. Di saat hendak mengakhiri hidup itulah, Mephistopheles hadir berwujud anjing menggagalkan usaha bunuh diri Faust dan terus mengikuti Faust sehingga timbul rasa percaya Faust padanya. Dan pada saat timbul rasa percaya itulah Mephistopheles menunjukkan wujud aslinya. Dia menjanjikan tak hanya ilmu pengetahuan tak terbatas tetapi juga kemashuran dan kekayaan. Semakin senang hati Faust semakin hatinya dimiliki Mephistopheles. Sampai Faust melihat Gretchen, gadis polos yang rajin ke gereja. Faust menginginkan Gretchen. Berbagai cara dilakukan Mephistopheles untuk mencuri hati Gretchen supaya mau jatuh hati pada Faust. Namun layaknya air dan api, jiwa Faust yang sudah terlanjur tergadai kepada Iblis tidak bisa  memiliki Gretchen yang pada akhirnya selalu menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. 
Pertunjukan ini berhasil memberi efek gaya penulisan yang seringkali dipakai pada eranya; Romantisme, yakni penggambaran hidup yang penuh tragis dan berlebihan, in good way. In good way saya bilang karena saya sendiri seringkali lupa bahwa romantisme berarti mengacu pada suatu zaman dimana segala sesuatu digambarkan berlebih-lebihan dan tragis namun seringkali oleh kebanyakan orang disalah artikan sebagai suatu sifat personal yang penuh cinta kasih.

Meski dengan kondisi lelah dan terkantuk-kantuk, beberapa kali hampir tertidur, saya berhasil menyelesaikan drama ini. Naskah yang gelap dan tragis hampir bisa diwakilkan oleh efek panggung dan dramatisasi para pemain. Dan bila, bagi saya pribadi, saat sebuah pertunjukan teater bisa membuat saya mengarus balik makna hidup berdasar naskah yang didramatisasikan, maka patutlah diberi apresiasi. Alur yang sedikit lambat dan bertele-tele, sekali lagi begitulah romantisme. Dalam hati saya melakukan standing ovation saat (pemeran) Faust begitu putus asa membujuk Gretchen supaya ikut dengannya namun lagi-lagi di saat terakhir, Gretchen yang menjadi gila hanya mempertanyakan, "Apakah kau percaya Tuhan, Heinrich?" Pertanyaan yang tidak bisa dijawab Faust karena kadung menggadaikan jiwanya pada Iblis. Tetapi karena terlalu lelah saya hanya mengangguk saja dan menepuk tangan lemah di akhir pertunjukan. 

Selasa, 20 Februari 2018

Dream and Happiness



Semua yang mengenal saya pasti tahu, bahwa saya hampir tidak reaktif terhadap apapun. Prinsipnya when it has nothing to do with me, it doesn’t concern me. Bahkan sejak kecil. Saya hampir tidak terlalu excited terhadap apapun. Juara kelas, muka saya tetap datar. Juara antar kelas, datar. Juara melukis, datar. Dapat beasiswa, datar. Tapi tentu saja ada saat saya cengengesan, tertawa terbahak-bahak. Yang tadinya tidak mengenal pasti menganggap saya jutek, judes. Bila sudah mengenal, komentarnya akan berbeda because I’m quite goofy around my people.
Ada masa teman-teman saya sekost ribut menyelamatkan seekor anak kucing, induknya di balkon kosan dengan nestapa meraih anak kucing yang entah bagaimana sudah di atas atap pintu gerbang kosan.
Bagaimana jahanam kecil itu ada di sana?
Ributlah beberapa teman mencoba meraih anak kucing itu dari balkon. Sebelumnya saya beri gambaran sedikit bentuk kosan saya dulu, seperti huruf U besar, menghadap jalan di bagian U terbukanya. Maksud saya pas bagian U lengkungan adalah bagian belakang.
Ya tidak apa-apa kalau bingung membayangkan.
Nah bangunan ini dua lantai. Bagian atas, berbalkon. Ada taman kecil terbuka mengisi huruf U itu, di tengah memisahkan antar kamar yang saling berhadapan. Bapak kosan kami, Pak Abang, saya lupa nama aslinya, kami selalu memanggilnya begitu, adalah lulusan ITB sehingga rancangan kosan itu, Resik namanya, sangat bagus kalau menurut standar saya yang buta ilmu arsitektur ini. Bahkan bagian dapur memiliki cerobong asap untuk mengeluarkan asap masakan, yang pada masa itu belum common di masyarakat kita. Kosan itu adalah kosan paling lama dan nyaman setelah kosan saya terdahulu. Bonus hantu-hantu. Dan segala intrik penghuninya. Akan saya ceritakan lain kali. Ga kalah serulah dibanding drama korea Age of Youth.
Jadi. Diupayakan segala cara untuk meraih anak kucing itu, oleh teman-teman saya. Saya bagaimana? Saya berdiri bersandar di dinding depan kamar saya, melipat tangan, melihat segala progress penyelamatan itu. Buat apa saya ikut ribut? Kebanyakan tangan bukannya anak kucing dan induknya jadi tambah stress? Ya akhirnya anak kucing itu berhasil diambil dengan ranting atau gagang sapu saya lupa persisnya. Teman-teman bersorak gembira. Saya? Saya datar. Dan bersyukur dalam hati. Lalu masuk kamar, nonton film lagi. That was how exactly I lived my life until 2001. It all just changed when I had a short blurred dream.
Previously, before we talk about this dream, I questioned a lot when my friend dating seriously. Like, seriously? My relationship(s) always ended because I saw nothing exciting in dating. And that friend took relationship very seriously, it almost inspired me. Very seriously she already married three times the last time I made contact with her on 2013. All her previous marriages ended because she felt not loved much. I had no idea about her latest ones. All I can conclude that love is very important for her. And I was stunned, why I didn’t feel that blushy face on my relationship(s)? So exciting to meet, to get a call, to go to movie? She has something to be achieved.
So are other friends. One was so excited about her hobby to hike mountains. And the pictures were gorgeous. The other ones so excited about foods. The other ones so excited about playing music instruments. I played piano when I was a kid and I barely remembered how to. I barely remembered how to draw sketch I was really good. I didn’t fancy them. I was just living until I had my dream. I woke up blushing and told some friends about it though they laughed because it sounded ridiculous. I didn’t care. I have something to cheer me up.
I never have anything I really wanna see to be happened before.
And the dream came, it changed my perspective, I saw a life goal to achieved (seriously Efi?). I never had a thing to amuse me before. It just gave me hope to see it works. I wanted to feel the coincident. I wanted to see the magic. It motivated me to make imagination. I began to write.
What was the dream about? It doesn’t really matter for anyone at the moment, but it matters for me. What I’m saying is (wait, did I just write the rest of the writing in English? Whatever) I have a thing like others do and my first short story published on September 2002 under my writer alias name; about a man on a train and his dream. When I received the copy, a boarding house mate handed it to me directly to my door, I cheered up, happily shout and hugged her. She stared me confusedly. You cheered up, she said, you never did that before, she said.

So when anyone ruined my imagination of my dream, It’s  kinda sucks. 

Minggu, 28 Januari 2018

A Short History of Tractors in Ukrainian: Sebuah Ulasan


Ketika kita membenci sesuatu, kita cenderung mencari segala kesalahan dan kelemahannya. Meski terkadang kita menemukan kebalikannya, tetap saja kita akan berupaya agar kelebihan itu menjadi kekurangannya. Seperti itulah yang terjadi dalam kisah Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina, novel karya Marina Lewycka yang menjadi Finalis Booker Prize 2005.
Nadia dan Vera sungguh tidak bisa menerima dengan akal sehat. Ayahnya, Nikolai Mayevskyj yang berusia delapan puluh empat tahun, akan menikah lagi, dua tahun setelah kematian ibunya. Nikolai akan menikahi Valentina, janda muda cantik berumur tiga puluh enam. Janda malang asal Ukraina dengan payudara sempurna yang mempunyai anak lelaki (yang Pappa mereka tidak pernah punya) Stanislav yang jenius. Mereka harus diselamatkan, burung cantik itu dan putranya yang berharga, seru Pappa.
Keluarga Nadia adalah pendatang dari Ukraina yang menyelamatkan diri semasa Perang Dunia II ke Inggris. Dengan demikian, gagasan menyelamatkan satu dua orang asal Ukraina sangatlah penting buat Pappa. Lagipula, dia bicara bahasa Ukraina bukan Rusia, tambah Pappa. Itu penting, karena bahasa menyangkut kebudayaan. Maka, Valentina dan Stanislav sangat penting. Kami bisa mengobrol soal Schopenhauer dan Nietzsche, tambah Pappa berharap.
Segala cara dilakukan oleh Nadia yang feminis, dosen Sosiologi yang terhormat, untuk menghalangi pernikahan Pappa. Dia bahkan rela berbaikan dengan kakaknya, Vera, musuh bebuyutannya sejak kecil. Di mata Nadia, Vera adalah ibu rumah tangga pengangguran, sok penguasa sedari mereka kecil, Maha Segala Tahu rahasia keluarga, si serakah pengambil liontin ibu, penghasut agar warisan tidak dibagi dua rata, si ahli perceraian dan betul sudah bercerai. Ia rela berdamai dengan Vera agar membantunya menghalangi niat Pappa mereka.
Namun apa daya, segalanya telah mereka upayakan, tetap saja Pappa yang sudah kadung cinta nekad menikahi Valentina. Dengan harapan besar, siapa tahu Valentina bisa memberiku anak lelaki! Oh. Membayangkan ayahnya bercinta lebih dari sekali sehingga Nadia dan Vera bisa lahir ke dunia saja, sudah membuat perut Nadia mual.
Masalah mulai terjadi karena, betul seperti dugaan Nadia dan Vera, Valentina hanya ingin uang Pappa. Valentina yang termakan paham sebagian besar orang Ukraina, orang yang tinggal di Eropa kaya raya, akan memberikannya apa saja, selain tentunya kewarganegaraan dan pendidikan bagus untuk putranya. Sedikit demi sedikit hingga nyaris tak tersisa, uang Pappa semakin digerogoti oleh Valentina; mobil, kompor baru (tapi kompor Mama masih bagus, Pappa!), bayar sekolah swasta Stanislav, bayar telfon yang membengkak karena Valentina butuh mengobrol berjam-jam dengan keluarganya di Ukraina, dan ini itu lainnya. Pappa mulai mengutang kepada Nadia dan Vera. Kesabaran Nadia hilang saat Valentina menyuruh Pappa menjual kebun belakang kepada tetangga. Kebun yang dirawat ibunya bertahun-tahun. Titik peluh ibunya yang menghasilkan makanan penyelamat bagi mereka sedari kecil. Kenangan atas ibunya yang selalu berhemat demi keluarga.
Namun seperti kata William Shakespeare, “Love me or hate me, both are in my favour. If you love me, I’ll always be in your heart… if you hate me, I’ll always be in your mind.” Begitupun terhadap Valentina. Selama perempuan itu ada, pikiran Nadia dan Vera semakin kacau, bagaimana caranya menyingkirkan Valentina dari rumah Pappa. Meski ada saat syahdu, saat natal tiba, Nadia mencoba berdamai dengan kekeraskepalaan Pappa, mengajak Valentina dan anaknya serta keluarga Nadia sendiri untuk makan malam keluarga. Dalam perjalanan yang melewati badai salju, hampir tergelincir beberapa kali membuat Nadia dan Valentina harus saling berpegangan. Nadia bisa melihat bahwa pada satu titik, Valentina sebenarnya sudah cukup banyak bersabar terhadap Pappa. Pappa orang yang sulit, idealis, dan merepotkan dalam banyak hal. Dan bayangkan, di usianya ke delapan puluh empat ini, Valentina harus mau mengurus Pappa yang renta, yang suka lupa bagaimana menahan kencing dan berak.

Satu hal yang saya rasa saya selalu temukan pada karakter di novel barat adalah melankolis yang mendetail dan rumit. Tentu saja akan kita temukan juga di novel tanah air dalam versi berbeda sesuai kearifan lokal. Bagaimana mereka terkadang bisa saja berdamai dengan musuh bebuyutannya untuk alasan-alasan kecil yang melankolis. Ini kembali saya temui di novel ini. Tak sekedar menghibur dengan humornya, celutukan kecil tapi menyengatnya, tapi juga membawa kembali kepada pentingnya nilai keluarga, tak peduli sudah berapa jauh kalian saling membenci. 

Minggu, 31 Desember 2017

A Short History of Tractors in Ukrainian.

Will write about this. Happy New Year 2018!





60 Tahun Astra: Bukti Bakti Nyata Untuk Rakyat Indonesia.


Dari jumlah karyawan hanya berjumlah empat orang sampai berkembang menjadi 214.835 karyawan di 208 perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia dan bertahan selama 60 tahun, sudah menjadi bukti keberadaan Astra yang tidak hanya diterima oleh masyarakat tetapi juga sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Perkembangan jumlah itu diungkapkan Prijono Sugiarto, Presiden Direktur Astra International pada HUT ke 60 Astra. Prijono menegaskan, Astra berkomitmen untuk terus berupaya berkontribusi positif terhadap kemajuan bangsa di berbagai bidang seiring cita-cita perusahaan untuk sejahtera bersama bangsa.
                Dalam 60 tahun tentu saja sudah banyak kontribusi nyata yang diberikan Astra sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat. Astra menitikberatkan pada empat pilar, yakni: Astra untuk Indonesia sehat, Astra untuk Indonesia cerdas, Astra untuk Indonesia hijau dan Astra untuk Indonesia kreatif. Dengan berbagai perubahan situasi ekonomi, sosial, dan perubahan kepemimpinan, Astra tetap berpegang teguh pada catur dharma dalam menjalankan perusahaan.  Pemilihan  produk, layanan dan sumber daya manusia terbaik merupakan upaya Astra dalam mewujudkan komitmennya.

Berikut adalah beberapa kegiatan yang diselenggarakan Astra sepanjang tahun 2017.
1.       Astra Untuk Indonesia Sehat
Selama 60 tahun, Astra telah memberikan pengobatan gratis kepada 125.818 pasien, membina 1.577 posyandu dan menyumbangkan 216.263 kantong darah.
Inisiatif Astra bersama masyarakat untuk mewujudkan Kampung Berseri Astra (KBA) sebagai kampung dengan lingkungan yang bersih dan hijau serta masyarakat yang sehat, cerdas dan produktif juga mewakili implementasi dari 4 pilar CSR Astra. Saat ini, Astra memiliki 49 KBA yang tersebar di 17 provinsi di seluruh Indonesia.
Sejak tahun 2014 Astra mulai mengampanyekan Program GenerAKSI Sehat Indonesia sebagai bagian dari kontribusi sosial Astra di bidang kesehatan. Melalui kampanye yang memanfaatkan media sosial ini, Astra mendorong masyarakat Indonesia untuk berkomitmen hidup sehat sebagai generasi penerus bangsa. Sampai sekarang, GenerAKSI Sehat Indonesia telah berhasil menyumbangkan 15.654 kacamata bagi anak-anak Indonesia khususnya di wilayah 3T.





PT. Astra International Tbk menyambangi kota Makassar pada 17-19 November 2017 sebagai bagian dari rangkaian HUT 60 Astra dengan mengadakan berbagai kegiatan yang dapat menginspirasi hidup sehat masyarakat seperti, Apresiasi Astra Untuk Indonesia Sehat, pengobatan dan pemeriksaan kesehatan gratis serta Healthpreneur Talkshow. Acara tersebut turut dihadiri Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal & Transmigrasi Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo didampingi oleh Direktur PT Astra International Tbk Widya Wiryawan.
2.       Astra Untuk Indonesia Cerdas
Pada pilar Pendidikan dengan program Astra Untuk Indonesia Cerdas fokus pada pembinaan sekolah dasar dan menengah guna meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini. Hingga kini, Astra telah memberikan 231.936 beasiswa serta membina 15.859 Sekolah Binaan Astra, 20 Rumah Pintar, 124 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan 40.284 guru.



2. 

Astra Apresiasi 7 ‘Mutiara Bangsa’ Tingkat Nasional Tahun Ini Ada 82 Penerima Tingkat Provinsi. Melalui serangkaian upaya seperti penjaringan awal, seleksi persyaratan, peninjauan lokasi, analisis proses kerja serta dampak program bagi masyarakat sekitar melalui wawancara komprehensif dengan pihak terkait, Dewan Juri akhirnya memilih 7 ‘mutiara bangsa’ tingkat nasional dari 82 penerima tingkat provinsi yang berasal dari Sabang sampai Merauke.

Grup Astra pada 9 oktober 2017 memberikan bantuan dalam berbagai bentuk sarana dan prasarana dengan total senilai Rp18 miliar sebagai bentuk sinergi program Corporate Social Responsibility (CSR) Grup Astra di NTT.
Sarana dan prasarana berupa pelatihan guru dan kepala sekolah, renovasi atau pembangunan gedung sekolah, mebel sekolah, alat peraga, buku pelajaran dan perpustakaan, mesin praktek (khusus SMK), multimedia, perlengkapan sekolah, perpustakaan, UKS dan penunjang pembinaan seni dan budaya itu diberikan bersamaan dengan dilaksanakannya Festival Kampung Berseri Astra Sonraen di Desa Sonraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang.



Koperasi Astra hingga tahun 2017 secara akumulatif telah menyalurkan dana beasiswa sebesar Rp 46,32 miliar untuk membantu biaya pendidikan 30.904 siswa di seluruh Indonesia sejak tahun 2001. Penyerahan beasiswa tahun ajaran 2016/2017 dilakukan di Ocean Ecopark Taman Impian Jaya Ancol, pada Sabtu (16/9). Pada kesempatan tersebut, Pengawas dan Pengurus Koperasi Astra secara simbolis menyerahkan beasiswa kepada delapan orang perwakilan siswa berprestasi yang disaksikan oleh para murid penerima beasiswa di wilayah Jabodetabek dan Karawang beserta orang tua, tamu undangan dan eksekutif Grup Astra.
3.      Astra Untuk Indonesia Hijau
Pengelolaan area konservasi dan perlindungan keanekaragaman Hayati terpadu yang berkelanjutan merupakan salah satu fokus utama Astra dalam menjalankan bisnis. Melalui pilar Lingkungan, sampai kini, Astra telah menanam 4.444.947 pohon, 1.103.493 pohon mangrove, membuka 27.439 hektar ruang terbuka hijau serta membangun 17 bank sampah.




PT Astra International Tbk pada 19 desember 2017 kembali menghijaukan Cianjur dengan penanaman 1.000 pohon baru, sehingga menambahkan jumlah pohon yang sudah diadopsi oleh Astra di Kabupaten Cianjur menjadi sejumlah 6.700 pohon. Penanaman pohon, yang diikuti oleh wartawan, blogger serta karyawan Grup Astra ini, dilaksanakan di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
4.       Astra Untuk Indonesia Kreatif
Dukungan Astra terhadap pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia telah dilakukan sejak 37 tahun lalu melalui Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA). Hal ini merupakan bentuk komitmen Astra untuk menumbuhkan usaha produktif di masyarakat dengan mendorong penciptaan lapangan kerja dan kemandirian masyarakat.
Menitikberatkan pada pembinaan UMKM, penguatan kapasitas usaha dan pengembangan ekonomi kreatif untuk penyandang disabilitas, sampai sekarang, Astra Untuk Indonesia Kreatif telah membina 10.847 Kelompok UMKM, 97.641 masyarakat penerima program, membangun 16 Lembaga Pengembangan Bisnis, 10 Lembaga Keuangan Mikro dan 200 disabilitas.




PT Astra Mitra Ventura (Astra Ventura), sebagai salah satu anak perusahaan Grup Astra yang bergerak pada bidang jasa keuangan modal ventura, pada 5 september 2017 mengadakan kunjungan lapangan (genba) ke usaha kecil menengah (UKM) manufaktur komponen otomotif mitra usaha Astra Ventura. Genba merupakan wujud nyata dari Astra Ventura untuk mendukung UKM Indonesia “naik kelas”. Acara itu dihadiri oleh Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto yang didampingi oleh Presiden Komisaris Astra Ventura Suparno Djasmin dan Presiden Direktur Astra Ventura Jefri R. Sirait serta eksekutif Grup Astra.
Demikianlah sebagian kecil wujud nyata pertanggung jawaban sosial Astra kepada rakyat Indonesia memginjak usianya ke 60 tahun. Semoga Astra semakin meningkatkan pelayanan dan memperkaya Indonesia dengan kontribusinya.
(Sumber data dan foto: www.astra.co.id)