Selasa, 20 Februari 2018

Dream and Happiness



Semua yang mengenal saya pasti tahu, bahwa saya hampir tidak reaktif terhadap apapun. Prinsipnya when it has nothing to do with me, it doesn’t concern me. Bahkan sejak kecil. Saya hampir tidak terlalu excited terhadap apapun. Juara kelas, muka saya tetap datar. Juara antar kelas, datar. Juara melukis, datar. Dapat beasiswa, datar. Tapi tentu saja ada saat saya cengengesan, tertawa terbahak-bahak. Yang tadinya tidak mengenal pasti menganggap saya jutek, judes. Bila sudah mengenal, komentarnya akan berbeda because I’m quite goofy around my people.
Ada masa teman-teman saya sekost ribut menyelamatkan seekor anak kucing, induknya di balkon kosan dengan nestapa meraih anak kucing yang entah bagaimana sudah di atas atap pintu gerbang kosan.
Bagaimana jahanam kecil itu ada di sana?
Ributlah beberapa teman mencoba meraih anak kucing itu dari balkon. Sebelumnya saya beri gambaran sedikit bentuk kosan saya dulu, seperti huruf U besar, menghadap jalan di bagian U terbukanya. Maksud saya pas bagian U lengkungan adalah bagian belakang.
Ya tidak apa-apa kalau bingung membayangkan.
Nah bangunan ini dua lantai. Bagian atas, berbalkon. Ada taman kecil terbuka mengisi huruf U itu, di tengah memisahkan antar kamar yang saling berhadapan. Bapak kosan kami, Pak Abang, saya lupa nama aslinya, kami selalu memanggilnya begitu, adalah lulusan ITB sehingga rancangan kosan itu, Resik namanya, sangat bagus kalau menurut standar saya yang buta ilmu arsitektur ini. Bahkan bagian dapur memiliki cerobong asap untuk mengeluarkan asap masakan, yang pada masa itu belum common di masyarakat kita. Kosan itu adalah kosan paling lama dan nyaman setelah kosan saya terdahulu. Bonus hantu-hantu. Dan segala intrik penghuninya. Akan saya ceritakan lain kali. Ga kalah serulah dibanding drama korea Age of Youth.
Jadi. Diupayakan segala cara untuk meraih anak kucing itu, oleh teman-teman saya. Saya bagaimana? Saya berdiri bersandar di dinding depan kamar saya, melipat tangan, melihat segala progress penyelamatan itu. Buat apa saya ikut ribut? Kebanyakan tangan bukannya anak kucing dan induknya jadi tambah stress? Ya akhirnya anak kucing itu berhasil diambil dengan ranting atau gagang sapu saya lupa persisnya. Teman-teman bersorak gembira. Saya? Saya datar. Dan bersyukur dalam hati. Lalu masuk kamar, nonton film lagi. That was how exactly I lived my life until 2001. It all just changed when I had a short blurred dream.
Previously, before we talk about this dream, I questioned a lot when my friend dating seriously. Like, seriously? My relationship(s) always ended because I saw nothing exciting in dating. And that friend took relationship very seriously, it almost inspired me. Very seriously she already married three times the last time I made contact with her on 2013. All her previous marriages ended because she felt not loved much. I had no idea about her latest ones. All I can conclude that love is very important for her. And I was stunned, why I didn’t feel that blushy face on my relationship(s)? So exciting to meet, to get a call, to go to movie? She has something to be achieved.
So are other friends. One was so excited about her hobby to hike mountains. And the pictures were gorgeous. The other ones so excited about foods. The other ones so excited about playing music instruments. I played piano when I was a kid and I barely remembered how to. I barely remembered how to draw sketch I was really good. I didn’t fancy them. I was just living until I had my dream. I woke up blushing and told some friends about it though they laughed because it sounded ridiculous. I didn’t care. I have something to cheer me up.
I never have anything I really wanna see to be happened before.
And the dream came, it changed my perspective, I saw a life goal to achieved (seriously Efi?). I never had a thing to amuse me before. It just gave me hope to see it works. I wanted to feel the coincident. I wanted to see the magic. It motivated me to make imagination. I began to write.
What was the dream about? It doesn’t really matter for anyone at the moment, but it matters for me. What I’m saying is (wait, did I just write the rest of the writing in English? Whatever) I have a thing like others do and my first short story published on September 2002 under my writer alias name; about a man on a train and his dream. When I received the copy, a boarding house mate handed it to me directly to my door, I cheered up, happily shout and hugged her. She stared me confusedly. You cheered up, she said, you never did that before, she said.

So when anyone ruined my imagination of my dream, It’s  kinda sucks. 

Minggu, 28 Januari 2018

A Short History of Tractors in Ukrainian: Sebuah Ulasan


Ketika kita membenci sesuatu, kita cenderung mencari segala kesalahan dan kelemahannya. Meski terkadang kita menemukan kebalikannya, tetap saja kita akan berupaya agar kelebihan itu menjadi kekurangannya. Seperti itulah yang terjadi dalam kisah Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina, novel karya Marina Lewycka yang menjadi Finalis Booker Prize 2005.
Nadia dan Vera sungguh tidak bisa menerima dengan akal sehat. Ayahnya, Nikolai Mayevskyj yang berusia delapan puluh empat tahun, akan menikah lagi, dua tahun setelah kematian ibunya. Nikolai akan menikahi Valentina, janda muda cantik berumur tiga puluh enam. Janda malang asal Ukraina dengan payudara sempurna yang mempunyai anak lelaki (yang Pappa mereka tidak pernah punya) Stanislav yang jenius. Mereka harus diselamatkan, burung cantik itu dan putranya yang berharga, seru Pappa.
Keluarga Nadia adalah pendatang dari Ukraina yang menyelamatkan diri semasa Perang Dunia II ke Inggris. Dengan demikian, gagasan menyelamatkan satu dua orang asal Ukraina sangatlah penting buat Pappa. Lagipula, dia bicara bahasa Ukraina bukan Rusia, tambah Pappa. Itu penting, karena bahasa menyangkut kebudayaan. Maka, Valentina dan Stanislav sangat penting. Kami bisa mengobrol soal Schopenhauer dan Nietzsche, tambah Pappa berharap.
Segala cara dilakukan oleh Nadia yang feminis, dosen Sosiologi yang terhormat, untuk menghalangi pernikahan Pappa. Dia bahkan rela berbaikan dengan kakaknya, Vera, musuh bebuyutannya sejak kecil. Di mata Nadia, Vera adalah ibu rumah tangga pengangguran, sok penguasa sedari mereka kecil, Maha Segala Tahu rahasia keluarga, si serakah pengambil liontin ibu, penghasut agar warisan tidak dibagi dua rata, si ahli perceraian dan betul sudah bercerai. Ia rela berdamai dengan Vera agar membantunya menghalangi niat Pappa mereka.
Namun apa daya, segalanya telah mereka upayakan, tetap saja Pappa yang sudah kadung cinta nekad menikahi Valentina. Dengan harapan besar, siapa tahu Valentina bisa memberiku anak lelaki! Oh. Membayangkan ayahnya bercinta lebih dari sekali sehingga Nadia dan Vera bisa lahir ke dunia saja, sudah membuat perut Nadia mual.
Masalah mulai terjadi karena, betul seperti dugaan Nadia dan Vera, Valentina hanya ingin uang Pappa. Valentina yang termakan paham sebagian besar orang Ukraina, orang yang tinggal di Eropa kaya raya, akan memberikannya apa saja, selain tentunya kewarganegaraan dan pendidikan bagus untuk putranya. Sedikit demi sedikit hingga nyaris tak tersisa, uang Pappa semakin digerogoti oleh Valentina; mobil, kompor baru (tapi kompor Mama masih bagus, Pappa!), bayar sekolah swasta Stanislav, bayar telfon yang membengkak karena Valentina butuh mengobrol berjam-jam dengan keluarganya di Ukraina, dan ini itu lainnya. Pappa mulai mengutang kepada Nadia dan Vera. Kesabaran Nadia hilang saat Valentina menyuruh Pappa menjual kebun belakang kepada tetangga. Kebun yang dirawat ibunya bertahun-tahun. Titik peluh ibunya yang menghasilkan makanan penyelamat bagi mereka sedari kecil. Kenangan atas ibunya yang selalu berhemat demi keluarga.
Namun seperti kata William Shakespeare, “Love me or hate me, both are in my favour. If you love me, I’ll always be in your heart… if you hate me, I’ll always be in your mind.” Begitupun terhadap Valentina. Selama perempuan itu ada, pikiran Nadia dan Vera semakin kacau, bagaimana caranya menyingkirkan Valentina dari rumah Pappa. Meski ada saat syahdu, saat natal tiba, Nadia mencoba berdamai dengan kekeraskepalaan Pappa, mengajak Valentina dan anaknya serta keluarga Nadia sendiri untuk makan malam keluarga. Dalam perjalanan yang melewati badai salju, hampir tergelincir beberapa kali membuat Nadia dan Valentina harus saling berpegangan. Nadia bisa melihat bahwa pada satu titik, Valentina sebenarnya sudah cukup banyak bersabar terhadap Pappa. Pappa orang yang sulit, idealis, dan merepotkan dalam banyak hal. Dan bayangkan, di usianya ke delapan puluh empat ini, Valentina harus mau mengurus Pappa yang renta, yang suka lupa bagaimana menahan kencing dan berak.

Satu hal yang saya rasa saya selalu temukan pada karakter di novel barat adalah melankolis yang mendetail dan rumit. Tentu saja akan kita temukan juga di novel tanah air dalam versi berbeda sesuai kearifan lokal. Bagaimana mereka terkadang bisa saja berdamai dengan musuh bebuyutannya untuk alasan-alasan kecil yang melankolis. Ini kembali saya temui di novel ini. Tak sekedar menghibur dengan humornya, celutukan kecil tapi menyengatnya, tapi juga membawa kembali kepada pentingnya nilai keluarga, tak peduli sudah berapa jauh kalian saling membenci. 

Minggu, 31 Desember 2017

A Short History of Tractors in Ukrainian.

Will write about this. Happy New Year 2018!





60 Tahun Astra: Bukti Bakti Nyata Untuk Rakyat Indonesia.


Dari jumlah karyawan hanya berjumlah empat orang sampai berkembang menjadi 214.835 karyawan di 208 perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia dan bertahan selama 60 tahun, sudah menjadi bukti keberadaan Astra yang tidak hanya diterima oleh masyarakat tetapi juga sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Perkembangan jumlah itu diungkapkan Prijono Sugiarto, Presiden Direktur Astra International pada HUT ke 60 Astra. Prijono menegaskan, Astra berkomitmen untuk terus berupaya berkontribusi positif terhadap kemajuan bangsa di berbagai bidang seiring cita-cita perusahaan untuk sejahtera bersama bangsa.
                Dalam 60 tahun tentu saja sudah banyak kontribusi nyata yang diberikan Astra sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat. Astra menitikberatkan pada empat pilar, yakni: Astra untuk Indonesia sehat, Astra untuk Indonesia cerdas, Astra untuk Indonesia hijau dan Astra untuk Indonesia kreatif. Dengan berbagai perubahan situasi ekonomi, sosial, dan perubahan kepemimpinan, Astra tetap berpegang teguh pada catur dharma dalam menjalankan perusahaan.  Pemilihan  produk, layanan dan sumber daya manusia terbaik merupakan upaya Astra dalam mewujudkan komitmennya.

Berikut adalah beberapa kegiatan yang diselenggarakan Astra sepanjang tahun 2017.
1.       Astra Untuk Indonesia Sehat
Selama 60 tahun, Astra telah memberikan pengobatan gratis kepada 125.818 pasien, membina 1.577 posyandu dan menyumbangkan 216.263 kantong darah.
Inisiatif Astra bersama masyarakat untuk mewujudkan Kampung Berseri Astra (KBA) sebagai kampung dengan lingkungan yang bersih dan hijau serta masyarakat yang sehat, cerdas dan produktif juga mewakili implementasi dari 4 pilar CSR Astra. Saat ini, Astra memiliki 49 KBA yang tersebar di 17 provinsi di seluruh Indonesia.
Sejak tahun 2014 Astra mulai mengampanyekan Program GenerAKSI Sehat Indonesia sebagai bagian dari kontribusi sosial Astra di bidang kesehatan. Melalui kampanye yang memanfaatkan media sosial ini, Astra mendorong masyarakat Indonesia untuk berkomitmen hidup sehat sebagai generasi penerus bangsa. Sampai sekarang, GenerAKSI Sehat Indonesia telah berhasil menyumbangkan 15.654 kacamata bagi anak-anak Indonesia khususnya di wilayah 3T.





PT. Astra International Tbk menyambangi kota Makassar pada 17-19 November 2017 sebagai bagian dari rangkaian HUT 60 Astra dengan mengadakan berbagai kegiatan yang dapat menginspirasi hidup sehat masyarakat seperti, Apresiasi Astra Untuk Indonesia Sehat, pengobatan dan pemeriksaan kesehatan gratis serta Healthpreneur Talkshow. Acara tersebut turut dihadiri Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal & Transmigrasi Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo didampingi oleh Direktur PT Astra International Tbk Widya Wiryawan.
2.       Astra Untuk Indonesia Cerdas
Pada pilar Pendidikan dengan program Astra Untuk Indonesia Cerdas fokus pada pembinaan sekolah dasar dan menengah guna meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini. Hingga kini, Astra telah memberikan 231.936 beasiswa serta membina 15.859 Sekolah Binaan Astra, 20 Rumah Pintar, 124 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan 40.284 guru.



2. 

Astra Apresiasi 7 ‘Mutiara Bangsa’ Tingkat Nasional Tahun Ini Ada 82 Penerima Tingkat Provinsi. Melalui serangkaian upaya seperti penjaringan awal, seleksi persyaratan, peninjauan lokasi, analisis proses kerja serta dampak program bagi masyarakat sekitar melalui wawancara komprehensif dengan pihak terkait, Dewan Juri akhirnya memilih 7 ‘mutiara bangsa’ tingkat nasional dari 82 penerima tingkat provinsi yang berasal dari Sabang sampai Merauke.

Grup Astra pada 9 oktober 2017 memberikan bantuan dalam berbagai bentuk sarana dan prasarana dengan total senilai Rp18 miliar sebagai bentuk sinergi program Corporate Social Responsibility (CSR) Grup Astra di NTT.
Sarana dan prasarana berupa pelatihan guru dan kepala sekolah, renovasi atau pembangunan gedung sekolah, mebel sekolah, alat peraga, buku pelajaran dan perpustakaan, mesin praktek (khusus SMK), multimedia, perlengkapan sekolah, perpustakaan, UKS dan penunjang pembinaan seni dan budaya itu diberikan bersamaan dengan dilaksanakannya Festival Kampung Berseri Astra Sonraen di Desa Sonraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang.



Koperasi Astra hingga tahun 2017 secara akumulatif telah menyalurkan dana beasiswa sebesar Rp 46,32 miliar untuk membantu biaya pendidikan 30.904 siswa di seluruh Indonesia sejak tahun 2001. Penyerahan beasiswa tahun ajaran 2016/2017 dilakukan di Ocean Ecopark Taman Impian Jaya Ancol, pada Sabtu (16/9). Pada kesempatan tersebut, Pengawas dan Pengurus Koperasi Astra secara simbolis menyerahkan beasiswa kepada delapan orang perwakilan siswa berprestasi yang disaksikan oleh para murid penerima beasiswa di wilayah Jabodetabek dan Karawang beserta orang tua, tamu undangan dan eksekutif Grup Astra.
3.      Astra Untuk Indonesia Hijau
Pengelolaan area konservasi dan perlindungan keanekaragaman Hayati terpadu yang berkelanjutan merupakan salah satu fokus utama Astra dalam menjalankan bisnis. Melalui pilar Lingkungan, sampai kini, Astra telah menanam 4.444.947 pohon, 1.103.493 pohon mangrove, membuka 27.439 hektar ruang terbuka hijau serta membangun 17 bank sampah.




PT Astra International Tbk pada 19 desember 2017 kembali menghijaukan Cianjur dengan penanaman 1.000 pohon baru, sehingga menambahkan jumlah pohon yang sudah diadopsi oleh Astra di Kabupaten Cianjur menjadi sejumlah 6.700 pohon. Penanaman pohon, yang diikuti oleh wartawan, blogger serta karyawan Grup Astra ini, dilaksanakan di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
4.       Astra Untuk Indonesia Kreatif
Dukungan Astra terhadap pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia telah dilakukan sejak 37 tahun lalu melalui Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA). Hal ini merupakan bentuk komitmen Astra untuk menumbuhkan usaha produktif di masyarakat dengan mendorong penciptaan lapangan kerja dan kemandirian masyarakat.
Menitikberatkan pada pembinaan UMKM, penguatan kapasitas usaha dan pengembangan ekonomi kreatif untuk penyandang disabilitas, sampai sekarang, Astra Untuk Indonesia Kreatif telah membina 10.847 Kelompok UMKM, 97.641 masyarakat penerima program, membangun 16 Lembaga Pengembangan Bisnis, 10 Lembaga Keuangan Mikro dan 200 disabilitas.




PT Astra Mitra Ventura (Astra Ventura), sebagai salah satu anak perusahaan Grup Astra yang bergerak pada bidang jasa keuangan modal ventura, pada 5 september 2017 mengadakan kunjungan lapangan (genba) ke usaha kecil menengah (UKM) manufaktur komponen otomotif mitra usaha Astra Ventura. Genba merupakan wujud nyata dari Astra Ventura untuk mendukung UKM Indonesia “naik kelas”. Acara itu dihadiri oleh Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto yang didampingi oleh Presiden Komisaris Astra Ventura Suparno Djasmin dan Presiden Direktur Astra Ventura Jefri R. Sirait serta eksekutif Grup Astra.
Demikianlah sebagian kecil wujud nyata pertanggung jawaban sosial Astra kepada rakyat Indonesia memginjak usianya ke 60 tahun. Semoga Astra semakin meningkatkan pelayanan dan memperkaya Indonesia dengan kontribusinya.
(Sumber data dan foto: www.astra.co.id)



Sabtu, 30 Desember 2017

The 100-year-old Man Who Climbed Out Of Window and Disappeared – Sebuah Ulasan.



Suatu sore, seruput kopi saya hampir menyembur saat membaca ini,
“Aku sedang berpikir,” kata Allan.
“Apa?!” Hardik Stalin dengan marah.
“Mengapa tidak kau cukur saja kumismu?” Makan malam berakhir dengan pertanyaan itu karena sang juru bahasa pingsan.
       Bukan sembarang Stalin yang dia ajak bicara. Bukan Stalin yang tukang roti atau supir taksi. Tapi Stalin pemimpin revolusi dan politik Rusia. Joseph Stalin sang diktator sampai akhir hayatnya. Tapi tak cuma Stalin yang dengan santai ditanggapi oleh Allan. Buku ini diawali dengan kebosanan setengah mati Allan akan hidupnya yang hari itu berulang tahun ke seratus sehingga dia memutuskan untuk kabur dari panti lansia tempat tinggalnya selama ini. Tindakannya itu justru menyebabkan ia jadi memiliki teman baiknya; ia bertemu orang-orang yang sama-sama kesepian dan sama-sama sedang kabur.
       Alur maju mundur di buku ini sekilas menceritakan perjalanan hidup Allan sejak kecil hingga umurnya ke seratus. Banyak humor gelap yang dicetuskan narasi novel ini. Sekian banyak tokoh dunia, kebanyakan tokoh Sosialis dan Komunis, pernah mengisi jalan hidup Allan. Pernah dianggap gila, hingga ditahan di sebuah klinik kejiwaan sewaktu kecilnya, dia sama sekali tidak berniat menjadi orang penting. Namun, kegemarannya meledakkan apa pun dimanfaatkan banyak tokoh dunia. Dengan nada sarkastis, Allan menyebut mereka telah “membeli kemampuannya membuat bom untuk memuluskan karier politiknya”. Tak kurang, nama-nama seperti Mao Tse-tung, Churchil, Truman, sampai Stalin menjadi teman makan minumnya. Dengan menunjukkan sikap enggan tapi tidak menolak, Allan berkelana dari Eropa Timur, Eropa Barat, Afrika, sampai Asia. Allan pernah memangku Kim Jung Il dan Allan berkawan karib dengan orang Indonesia. Betullah, seperti prinsip hidup Allan, semakin sedikit pengharapan, semakin banyak kemungkinan. Perang demi perang dilalui Allan dengan selamat dan sabar. Seperti itulah hidup Allan.
       Yang menyedihkan sekaligus nilai lebih karakter Allan di sini, dia tidak pernah berusaha segera melepaskan diri dari siksaan orang-orang yang tidak menyukainya, dia justru menikmatinya. Bukan hitungan hari atau minggu, tetapi tahunan. Hidupnya seakan cuma satu tujuan: menyesapi Vodka, menghitung sisa uang (yang sebenarnya melimpah berkat keahliannya) apakah cukup untuk membeli telur, susu, kentang, dan sosis serta berlangganan koran.

       Bagi kita, ada satu hal menarik yang ditulis oleh Jonas Jonasson di sini, yakni dia menyinggung betapa mudahnya menjadi tokoh politik di Indonesia. Anda tinggal membayar. Apa pun bisa dibeli di Indonesia. Dari titel pendidikan sampai dengan posisi dalam perpolitikan. Rupanya latar belakang Jonasson sebagai wartawan dan berkecimpung di dunia media, televisi dan surat kabar, memungkinkannya mengetahui rahasia dapur bangsa ini. Tak luput era Sukarno, Suharto hingga Yudhoyono menjadi latar cerita hidup Allan. Meski terkesan jenaka, buku ini menyisipkan satir yang gelap akan kekuasaan yang tak jarang mengocok perut pembaca, saya terutama. 

Kamis, 21 Desember 2017

Budaya dan Teknologi; Betulkah bertentangan?


Sewaktu saya kecil, sekitaran usia Sekolah Dasar, saya masih tidak percaya dengan satu artikel yang saya baca di majalah anak-anak Ananda, bahwa telepon bisa dibawa ke mana saja bukan lagi adegan dalam film fiksi ilmiah belaka. Dan tak lama kemudian, telepon genggam itu betul ada. Imajinasi penulis naskah film betul-betul mencengangkan dan sebagian dari karya imajinasi itu terwujud jadi kenyataan.
Saya terpesona dengan satu film fiksi ilmiah yang saya tonton sekitaran tahun 2002, Minority Report. Belakangan, saya baru tahu ide film itu diambil dari cerita pendek yang ditulis oleh Phillip K. Dick. Hal itu membuka cakrawala saya, sebuah tulisan pendek pun bisa diadaptasi ke layar lebar. Ide tidak melulu dari naskah yang panjang. Ide bisa berasal dari mana saja.
Film ini menarik karena seingat saya, sebelumnya saya hanya menonton film fiksi ilmiah yang berpusat kepada setting di luar angkasa saja semacam Star Wars atau film-film yang berpusat pada kecanggihan alat teknologi atau semacam robot dengan inteligensi buatan. Minority Report melibatkan kedokteran; bagaimana bisa menukar bola mata yang konon dipakai sebagai alat identifikasi individu. Kornea mata menggantikan peran kartu identitas. Setiap sudut kota mengenali Anda dari hasil memindai bola mata Anda oleh mesin pemindai yang tersedia di mana-mana.
Sebenarnya, hal-hal semacam itu bukan sesuatu yang baru karena sejak awal tahun 2000 sudah ada teknologi virtual reality yang linear dengan memproyeksikan dunia buatan ke dalam alam pikiran. Bedanya, alat dalam film Minority Report ini memproyeksikan kebalikannya. Dia memproyeksikan mimpi buruk tiga orang anak, yang kemudian disebut Precogs, ke layar sehingga orang luar dari pemilik pikiran bisa melihatnya. Setiap kali mereka bermimpi buruk, mereka memprediksi kejahatan yang akan terjadi. Hal itu dimanfaatkan pemerintah setempat, khususnya departemen khusus di kepolisian, untuk mencegah kejahatan itu terjadi. Mereka menamakan unit mereka Precrime. Dan bertindak sebelum kejahatan terjadi dengan memenjarakan para pelaku yang sebetulnya baru berniat melakukan kejahatan. Satu pesan dari film ini: ia tidak sekadar melibatkan robot dan kecerdasan seperti yang sudah-sudah. Ada kemanusiaan yang dilibatkan. Ini seperti membuka celah tidak terlihat pada film pendahulunya yang seakan memisahkan teknologi dengan tubuh manusia; manusia sebagai pemakai, melainkan sudah menyatu; menjadi bagian tubuhnya.
Film itu memicu saya menulis fiksi ilmiah ke dalam novel yang saya terbitkan di Mizan, dwilogi NSJ pada 2003-2004. Kisahnya mengenai embrio yang diawetkan puluhan tahun. Dengan latar tahun 2122, kemudahan teknologi mendominasi cerita. Kultur pembaca Indonesia belum sepenuhnya menerima tulisan bergenre ini. Saya tidak tahu persis penyebab pola pikir begini. Bisa jadi karena memang tidak terbiasa menerima teknologi baru. Atau bisa jadi karena pola kebudayaan yang membentuknya, yang tidak mendukung adanya pemikiran yang digagas penulis fiksi ilmiah. Pada awal munculnya novel Dewi Lestari, Supenova, seringkali disebut sebagai awal munculnya genre fiksi ilmiah meski Dewi Lestari sendiri membantah. Meski mungkin sudah beberapa ada yang memulai, jenis tulisan yang diusung Dewi Lestari termasuk hal baru karena melibatkan teknologi canggih pada novel pertamanya itu.
Di samping novel Dewi Lestari dan novel saya, ada novel Area X karya Eliza V Handayani. Satu kemungkinan yang tidak bisa dihindari, seringkali, justru dari ide penulis fiksi ilmiahlah inovasi teknologi berasal. Meski tidak langsung terilhami dari novel atau jenis tulisan lain ataupun dari film fiksi ilmiah, adanya inovasi itu membuktikan kesamaan gagasan akan ide awal teknologi tersebut. Terbukti, satu demi satu ide dalam novel saya mulai terwujud. Finalnya, ide embrio yang dibekukakan selama puluhan tahun ternyata baru-baru ini bisa dihidupkan kembali setelah ditransplantasi ke dalam rahim ibu barunya. Hal itu diterbitkan oleh media online Dailymail, pada tanggal 20 desember 2017 dengan tajuk “The baby that was conceived just 18 months after its mother: Woman, 26, gives birth to baby girl  from donated embryo that was frozen for 24 years-the longest ever”. Ini merupakan fenomena mencengangkan sekaligus menggembirakan buat saya pribadi. Gagasan yang saya pikirkan terwujud dalam bidang kedokteran.
Dari sudut pandang kebudayaan, hadirnya teknologi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Yasraf Amir Piliang dalam salah satu tulisannya berjudul “Transformasi Budaya dan Teknologi Membangun daya Kreativitas” menyebut hadirnya kebudayaan selayaknya salah satu faktor pembangun kebudayaan itu sendiri. Piliang menyebut ada tiga pandangan menyikapi relasi kebudayaan dengan teknologi. Yang pertama adalah pandangan determinasi budaya (technological determination) yang melihat perkembangan sains-teknologi sebagai motor dari perkembangan budaya. Hadirnya televisi, misalnya, mengubah cara pandang masyarakat dalam berkomunikasi, mencari informasi, dan memaknai dunia. Pandangan yang kedua adalah determinasi budaya (cultural determination), adalah pandangan  yang melihat perubahan pada tingkat sosial-budaya menjadi fondasi perkembangan  teknologi  (Kaplan,  1972: 89). 
Kebudayaan  merangkai  ide,  gagasan,  imajinasi,  nilai,  dan  makna.  Sains  dan teknologi merealisasikan semuanya ini melalui produk-produknya.  Dengan  demikian,  sains dan  teknologi  adalah  “refleksi”  dari  kebudayaan. Akan  tetapi,  ada  pandangan  lain  yang “menengahi’” kedua  pandangan  di  atas,  yaitu pandangan  determinisme  lunak (soft  determinism),  yang  melihat  teknologi  tidak merefleksikan  budaya,  tetapi  sebaliknya: membentuk  budaya. Tidak  hanya  dipengaruhi, tetapi  memengaruhi  subsistem budaya,  dan tidak  hanya  dibangun  oleh  nilai-nilai budaya, tetapi  sebaliknya  dapat  mengubah nilai-nilai  itu  (Kaplan,  1972:89).  Penemuan komputer,  di  satu  pihak,  dimungkinkan  karena  adanya  kebutuhan  kultural untuk  dapat   menghitung,  mengolah,  dan  mengomunikasikan data secara cepat dan massal. Akan  tetapi,  di  pihak  lain,  penggunaannya secara intens oleh masyarakat dapat mengubah  perilaku,  cara  berpikir,  dan  pandangan dunia manusia itu sendiri.

Saya pribadi berpendapat, sudah selayaknya kita merangkul teknologi itu ke dalam kebudayaan tanpa kehilangan identitas kebudayaan itu sendiri. Kita sudah tidak dalam posisi menolak perkembangan teknologi itu. Kita sudah hidup berbarengan dengannya. Bahkan hal terkecil dalam keseharian kita pun sudah tidak bisa menghindari penggunaan teknologi. 

Selasa, 19 Desember 2017

ESLANDIA DAN PERMAINAN HUIZINGA



You can deny, if you like, nearly all abstraction: justice, beauty, truth, goodness, mind, God. You can deny seriousness, but not play (Johan Huizinga)
Meski sudah tertinggal 4 gol, para pemain Eslandia tidak tampak frustrasi. Mereka tetap tenang, bermain sabar, mengoper-oper bola dengan apik dari wilayah sendiri hingga ke wilayah lawan. Di babak kedua, Bjarnasson berhasil membuat gol cantik satu sentuhan kaki kanan dari ruang sempit (dalam keadaan dijaga ketat oleh pemain lawan) dengan memanfaatkan umpan cross-cut. Kemudian, Prancis menambah gol melalui sundulan Giroud. Namun, ini pun seperti tak berpengaruh bagi mental pemain Eslandia. Mereka tetap bermain sabar dan apik. Hasilnya, Sigthorsson berhasil memanfaatkan umpan crossing dengan sundulan ke sudut kiri gawang Prancis. Lagi-lagi, dari ruang sempit. Dan saat kamera menyoroti tribun penonton, tak tampak pendukung Eslandia yang berwajah pias, menundukkan kepala, menutup muka, atau berurai air mata. Mereka tetap ceria dan bersorak-sorak serempak memberikan dukungan. Alhasil, pertandingan perempat final piala Eropa yang berlangsung Senin dinihari (4/7/2016) sangat menarik untuk disaksikan.
Hal yang berbeda kita saksikan pada tim Inggris saat dikalahkan Eslandia. Begitu tertinggal 1-2, mereka tampak panik dan tergesa-gesa. Saat mendekati akhir babak kedua, permainannya makin amburadul dan kembali pada model yang sudah sangat ketinggalan zaman: kick and rush. Saya yakin, para pendukungnya, baik orang Inggris sendiri maupun orang luar Inggris, kesal dan kecewa. Bukan karena Inggris kalah, melainkan karena bermain buruk.
Jika dilihat dari perspektif kebudayaan, apa yang ditampilkan para pemain dan penonton Eslandia bisa dikategorikan sebagai —dalam istilah Huizinga— Homo ludens. Mereka memperlakukan sepak bola sebagai permainan sejati.
Menurut Johan Huizinga, esensi permainan adalah insting mendasar manusia untuk menunjukkan dirinya.  Maka dari itu, Huizinga merumuskan ciri-ciri permainan esensial ada empat. Pertama, permainan adalah voluntary activity, yaitu dilakukan secara sukarela. Jadi, jika permainan sudah dibebani oleh hal-hal di luar itu, seperti prestasi, gengsi, atau industry, maka esensi permainan hilang. Dalam konteks Piala Eropa 2016 di atas, para pemain eslandia tampak tidak terbebani oleh berapa banyak harus membuat gol, bagaimana bisa mengalahkan tim raksasa Prancis di kandangnya sendiri, dan puncaknya bagaimana bisa menjuarai liga paling bergengsi di Eropa, bahkan mungkin dunia, itu.
Kedua, permainan itu not real life and only pretending, yaitu berada di luar kehidupan keseharian. Para pemain (dan juga penonton) menujukan perhatian pada permainan itu sendiri. Mereka seolah tercerabut dari kenyataan hidup sehari-hari dan berasyik ma’syuk dalam permainan. Seusai pertandingan (setidaknya yang disorot kamera dan sorotan itu merepresentasikan situasi sesungguhnya), baik pemain maupun penonton Eslandia tidak larut dalam kesedihan yang lebay, seperti menangis meringis-ringis seakan negaranya kalah perang dan dicaplok negara lain atau seakan dunia sedang kiamat. Dalam dunia sepak bola Eropa, isu yang sering muncul adalah isu rasial (warna kulit). Dalam dunia sepak bola Indonesia saat ini, bahkan dampaknya lebih jauh lagi. Rivalitas di lapangan dibawa-bawa hingga keluar lapangan yang tak jarang berakibat korban jiwa.
Ketiga, permainan itu bersifat secludedness and limitedness, tertutup dan terbatas. Suatu permainan memiliki aturan sendiri, mulai dari jumlah pemain, cara memainkan sepak bola, hukuman terhadap pelanggaran, dan hingga batas jumlah penggantian pemain. Istilah “bola mati” dan “bola hidup” juga lahir dari peraturan. Permainan juga dibatasi oleh tempat dan waktu. Keempat, akhirnya, permainan yang baik itu dapat menghasilkan ketertiban dan keteraturan. Permainan akan berlangsung secara lancar jika semua pihak mematuhi aturan-aturan tersebut.  Jika tidak, permainan akan terganggu, bahkan hancur. Pelanggaran memang niscaya. Namun, semakin sedikit pelanggaran, permainan semakin lancar dan semakin enak ditonton. Dalam Eslandia vs Prancis, pelanggaran bisa terbilang minim. Hal ini ditunjukkan dengan sedikitnya kartu kuning yang dikeluarkan wasit, tidak adanya pemain yang cedera, dan tidak adanya waktu tambahan (additional time) yang terlampau lama.
Demikianlah, dari tim Eslandia, kita belajar bagaimana cara menjadi Homo ludens yang baik, manusia-manusia yang mampu bermain dan melangsungkan permainan demi permainan itu sendiri. Hal yang sulit dilakukan di tengah dunia modern dimana sepak bola sudah dibingkai oleh permainan industry dan semangat nasionalisme. Justru dengan bermain lepas tanpa bebanlah, para pemain Eslandia berhasil meraih esensi permainan, yakni meraih eksistensi dirinya. Negeri kecil dengan jumlah penduduk yang juga kecil itu pun kini dikenal dunia.