You can deny, if you like, nearly all
abstraction: justice, beauty, truth, goodness, mind, God. You can deny
seriousness, but not play (Johan Huizinga)
Meski
sudah tertinggal 4 gol, para pemain Eslandia tidak tampak frustrasi. Mereka tetap
tenang, bermain sabar, mengoper-oper bola dengan apik dari wilayah sendiri hingga
ke wilayah lawan. Di babak kedua, Bjarnasson berhasil membuat gol cantik satu sentuhan
kaki kanan dari ruang sempit (dalam keadaan dijaga ketat oleh pemain lawan)
dengan memanfaatkan umpan cross-cut. Kemudian, Prancis menambah gol melalui sundulan
Giroud. Namun, ini pun seperti tak berpengaruh bagi mental pemain Eslandia. Mereka
tetap bermain sabar dan apik. Hasilnya, Sigthorsson berhasil memanfaatkan umpan
crossing dengan sundulan ke sudut kiri gawang Prancis. Lagi-lagi, dari ruang sempit.
Dan saat kamera menyoroti tribun penonton, tak tampak pendukung Eslandia yang
berwajah pias, menundukkan kepala, menutup muka, atau berurai air mata. Mereka tetap
ceria dan bersorak-sorak serempak memberikan dukungan. Alhasil, pertandingan perempat
final piala Eropa yang berlangsung Senin dinihari (4/7/2016) sangat menarik untuk
disaksikan.
Hal
yang berbeda kita saksikan pada tim Inggris saat dikalahkan Eslandia. Begitu tertinggal
1-2, mereka tampak panik dan tergesa-gesa. Saat mendekati akhir babak kedua,
permainannya makin amburadul dan kembali pada model yang sudah sangat ketinggalan
zaman: kick and rush. Saya yakin, para pendukungnya, baik orang Inggris sendiri
maupun orang luar Inggris, kesal dan kecewa. Bukan karena Inggris kalah,
melainkan karena bermain buruk.
Jika
dilihat dari perspektif kebudayaan, apa yang ditampilkan para pemain dan penonton
Eslandia bisa dikategorikan sebagai —dalam istilah Huizinga— Homo ludens. Mereka memperlakukan
sepak bola sebagai permainan sejati.
Menurut
Johan Huizinga, esensi permainan adalah insting mendasar manusia untuk menunjukkan
dirinya. Maka dari itu, Huizinga
merumuskan ciri-ciri permainan esensial ada empat. Pertama, permainan adalah voluntary activity, yaitu dilakukan secara
sukarela. Jadi, jika permainan sudah dibebani oleh hal-hal di luar itu, seperti
prestasi, gengsi, atau industry, maka esensi permainan hilang. Dalam konteks Piala
Eropa 2016 di atas, para pemain eslandia tampak tidak terbebani oleh berapa banyak
harus membuat gol, bagaimana bisa mengalahkan tim raksasa Prancis di kandangnya
sendiri, dan puncaknya bagaimana bisa menjuarai liga paling bergengsi di Eropa,
bahkan mungkin dunia, itu.
Kedua,
permainan itu not real life and only
pretending, yaitu berada di luar kehidupan keseharian. Para pemain (dan juga
penonton) menujukan perhatian pada permainan itu sendiri. Mereka seolah tercerabut
dari kenyataan hidup sehari-hari dan berasyik ma’syuk dalam permainan. Seusai pertandingan
(setidaknya yang disorot kamera dan sorotan itu merepresentasikan situasi sesungguhnya),
baik pemain maupun penonton Eslandia tidak larut dalam kesedihan yang lebay,
seperti menangis meringis-ringis seakan negaranya kalah perang dan dicaplok negara
lain atau seakan dunia sedang kiamat. Dalam dunia sepak bola Eropa, isu yang
sering muncul adalah isu rasial (warna kulit). Dalam dunia sepak bola Indonesia
saat ini, bahkan dampaknya lebih jauh lagi. Rivalitas di lapangan dibawa-bawa hingga
keluar lapangan yang tak jarang berakibat korban jiwa.
Ketiga,
permainan itu bersifat secludedness and
limitedness, tertutup dan terbatas. Suatu permainan memiliki aturan sendiri,
mulai dari jumlah pemain, cara memainkan sepak bola, hukuman terhadap pelanggaran,
dan hingga batas jumlah penggantian pemain. Istilah “bola mati” dan “bola
hidup” juga lahir dari peraturan. Permainan juga dibatasi oleh tempat dan waktu.
Keempat, akhirnya, permainan yang baik itu dapat menghasilkan ketertiban dan keteraturan.
Permainan akan berlangsung secara lancar jika semua pihak mematuhi aturan-aturan
tersebut. Jika tidak, permainan akan terganggu,
bahkan hancur. Pelanggaran memang niscaya. Namun, semakin sedikit pelanggaran,
permainan semakin lancar dan semakin enak ditonton. Dalam Eslandia vs Prancis,
pelanggaran bisa terbilang minim. Hal ini ditunjukkan dengan sedikitnya kartu kuning
yang dikeluarkan wasit, tidak adanya pemain yang cedera, dan tidak adanya waktu
tambahan (additional time) yang
terlampau lama.
Demikianlah,
dari tim Eslandia, kita belajar bagaimana cara menjadi Homo ludens yang baik, manusia-manusia yang mampu bermain dan melangsungkan
permainan demi permainan itu sendiri. Hal yang sulit dilakukan di tengah dunia
modern dimana sepak bola sudah dibingkai oleh permainan industry dan semangat nasionalisme.
Justru dengan bermain lepas tanpa bebanlah, para pemain Eslandia berhasil meraih
esensi permainan, yakni meraih eksistensi dirinya. Negeri kecil dengan jumlah penduduk
yang juga kecil itu pun kini dikenal dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar