Selasa, 19 Desember 2017

ESLANDIA DAN PERMAINAN HUIZINGA



You can deny, if you like, nearly all abstraction: justice, beauty, truth, goodness, mind, God. You can deny seriousness, but not play (Johan Huizinga)
Meski sudah tertinggal 4 gol, para pemain Eslandia tidak tampak frustrasi. Mereka tetap tenang, bermain sabar, mengoper-oper bola dengan apik dari wilayah sendiri hingga ke wilayah lawan. Di babak kedua, Bjarnasson berhasil membuat gol cantik satu sentuhan kaki kanan dari ruang sempit (dalam keadaan dijaga ketat oleh pemain lawan) dengan memanfaatkan umpan cross-cut. Kemudian, Prancis menambah gol melalui sundulan Giroud. Namun, ini pun seperti tak berpengaruh bagi mental pemain Eslandia. Mereka tetap bermain sabar dan apik. Hasilnya, Sigthorsson berhasil memanfaatkan umpan crossing dengan sundulan ke sudut kiri gawang Prancis. Lagi-lagi, dari ruang sempit. Dan saat kamera menyoroti tribun penonton, tak tampak pendukung Eslandia yang berwajah pias, menundukkan kepala, menutup muka, atau berurai air mata. Mereka tetap ceria dan bersorak-sorak serempak memberikan dukungan. Alhasil, pertandingan perempat final piala Eropa yang berlangsung Senin dinihari (4/7/2016) sangat menarik untuk disaksikan.
Hal yang berbeda kita saksikan pada tim Inggris saat dikalahkan Eslandia. Begitu tertinggal 1-2, mereka tampak panik dan tergesa-gesa. Saat mendekati akhir babak kedua, permainannya makin amburadul dan kembali pada model yang sudah sangat ketinggalan zaman: kick and rush. Saya yakin, para pendukungnya, baik orang Inggris sendiri maupun orang luar Inggris, kesal dan kecewa. Bukan karena Inggris kalah, melainkan karena bermain buruk.
Jika dilihat dari perspektif kebudayaan, apa yang ditampilkan para pemain dan penonton Eslandia bisa dikategorikan sebagai —dalam istilah Huizinga— Homo ludens. Mereka memperlakukan sepak bola sebagai permainan sejati.
Menurut Johan Huizinga, esensi permainan adalah insting mendasar manusia untuk menunjukkan dirinya.  Maka dari itu, Huizinga merumuskan ciri-ciri permainan esensial ada empat. Pertama, permainan adalah voluntary activity, yaitu dilakukan secara sukarela. Jadi, jika permainan sudah dibebani oleh hal-hal di luar itu, seperti prestasi, gengsi, atau industry, maka esensi permainan hilang. Dalam konteks Piala Eropa 2016 di atas, para pemain eslandia tampak tidak terbebani oleh berapa banyak harus membuat gol, bagaimana bisa mengalahkan tim raksasa Prancis di kandangnya sendiri, dan puncaknya bagaimana bisa menjuarai liga paling bergengsi di Eropa, bahkan mungkin dunia, itu.
Kedua, permainan itu not real life and only pretending, yaitu berada di luar kehidupan keseharian. Para pemain (dan juga penonton) menujukan perhatian pada permainan itu sendiri. Mereka seolah tercerabut dari kenyataan hidup sehari-hari dan berasyik ma’syuk dalam permainan. Seusai pertandingan (setidaknya yang disorot kamera dan sorotan itu merepresentasikan situasi sesungguhnya), baik pemain maupun penonton Eslandia tidak larut dalam kesedihan yang lebay, seperti menangis meringis-ringis seakan negaranya kalah perang dan dicaplok negara lain atau seakan dunia sedang kiamat. Dalam dunia sepak bola Eropa, isu yang sering muncul adalah isu rasial (warna kulit). Dalam dunia sepak bola Indonesia saat ini, bahkan dampaknya lebih jauh lagi. Rivalitas di lapangan dibawa-bawa hingga keluar lapangan yang tak jarang berakibat korban jiwa.
Ketiga, permainan itu bersifat secludedness and limitedness, tertutup dan terbatas. Suatu permainan memiliki aturan sendiri, mulai dari jumlah pemain, cara memainkan sepak bola, hukuman terhadap pelanggaran, dan hingga batas jumlah penggantian pemain. Istilah “bola mati” dan “bola hidup” juga lahir dari peraturan. Permainan juga dibatasi oleh tempat dan waktu. Keempat, akhirnya, permainan yang baik itu dapat menghasilkan ketertiban dan keteraturan. Permainan akan berlangsung secara lancar jika semua pihak mematuhi aturan-aturan tersebut.  Jika tidak, permainan akan terganggu, bahkan hancur. Pelanggaran memang niscaya. Namun, semakin sedikit pelanggaran, permainan semakin lancar dan semakin enak ditonton. Dalam Eslandia vs Prancis, pelanggaran bisa terbilang minim. Hal ini ditunjukkan dengan sedikitnya kartu kuning yang dikeluarkan wasit, tidak adanya pemain yang cedera, dan tidak adanya waktu tambahan (additional time) yang terlampau lama.
Demikianlah, dari tim Eslandia, kita belajar bagaimana cara menjadi Homo ludens yang baik, manusia-manusia yang mampu bermain dan melangsungkan permainan demi permainan itu sendiri. Hal yang sulit dilakukan di tengah dunia modern dimana sepak bola sudah dibingkai oleh permainan industry dan semangat nasionalisme. Justru dengan bermain lepas tanpa bebanlah, para pemain Eslandia berhasil meraih esensi permainan, yakni meraih eksistensi dirinya. Negeri kecil dengan jumlah penduduk yang juga kecil itu pun kini dikenal dunia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar