Kamis, 21 Desember 2017

Budaya dan Teknologi; Betulkah bertentangan?


Sewaktu saya kecil, sekitaran usia Sekolah Dasar, saya masih tidak percaya dengan satu artikel yang saya baca di majalah anak-anak Ananda, bahwa telepon bisa dibawa ke mana saja bukan lagi adegan dalam film fiksi ilmiah belaka. Dan tak lama kemudian, telepon genggam itu betul ada. Imajinasi penulis naskah film betul-betul mencengangkan dan sebagian dari karya imajinasi itu terwujud jadi kenyataan.
Saya terpesona dengan satu film fiksi ilmiah yang saya tonton sekitaran tahun 2002, Minority Report. Belakangan, saya baru tahu ide film itu diambil dari cerita pendek yang ditulis oleh Phillip K. Dick. Hal itu membuka cakrawala saya, sebuah tulisan pendek pun bisa diadaptasi ke layar lebar. Ide tidak melulu dari naskah yang panjang. Ide bisa berasal dari mana saja.
Film ini menarik karena seingat saya, sebelumnya saya hanya menonton film fiksi ilmiah yang berpusat kepada setting di luar angkasa saja semacam Star Wars atau film-film yang berpusat pada kecanggihan alat teknologi atau semacam robot dengan inteligensi buatan. Minority Report melibatkan kedokteran; bagaimana bisa menukar bola mata yang konon dipakai sebagai alat identifikasi individu. Kornea mata menggantikan peran kartu identitas. Setiap sudut kota mengenali Anda dari hasil memindai bola mata Anda oleh mesin pemindai yang tersedia di mana-mana.
Sebenarnya, hal-hal semacam itu bukan sesuatu yang baru karena sejak awal tahun 2000 sudah ada teknologi virtual reality yang linear dengan memproyeksikan dunia buatan ke dalam alam pikiran. Bedanya, alat dalam film Minority Report ini memproyeksikan kebalikannya. Dia memproyeksikan mimpi buruk tiga orang anak, yang kemudian disebut Precogs, ke layar sehingga orang luar dari pemilik pikiran bisa melihatnya. Setiap kali mereka bermimpi buruk, mereka memprediksi kejahatan yang akan terjadi. Hal itu dimanfaatkan pemerintah setempat, khususnya departemen khusus di kepolisian, untuk mencegah kejahatan itu terjadi. Mereka menamakan unit mereka Precrime. Dan bertindak sebelum kejahatan terjadi dengan memenjarakan para pelaku yang sebetulnya baru berniat melakukan kejahatan. Satu pesan dari film ini: ia tidak sekadar melibatkan robot dan kecerdasan seperti yang sudah-sudah. Ada kemanusiaan yang dilibatkan. Ini seperti membuka celah tidak terlihat pada film pendahulunya yang seakan memisahkan teknologi dengan tubuh manusia; manusia sebagai pemakai, melainkan sudah menyatu; menjadi bagian tubuhnya.
Film itu memicu saya menulis fiksi ilmiah ke dalam novel yang saya terbitkan di Mizan, dwilogi NSJ pada 2003-2004. Kisahnya mengenai embrio yang diawetkan puluhan tahun. Dengan latar tahun 2122, kemudahan teknologi mendominasi cerita. Kultur pembaca Indonesia belum sepenuhnya menerima tulisan bergenre ini. Saya tidak tahu persis penyebab pola pikir begini. Bisa jadi karena memang tidak terbiasa menerima teknologi baru. Atau bisa jadi karena pola kebudayaan yang membentuknya, yang tidak mendukung adanya pemikiran yang digagas penulis fiksi ilmiah. Pada awal munculnya novel Dewi Lestari, Supenova, seringkali disebut sebagai awal munculnya genre fiksi ilmiah meski Dewi Lestari sendiri membantah. Meski mungkin sudah beberapa ada yang memulai, jenis tulisan yang diusung Dewi Lestari termasuk hal baru karena melibatkan teknologi canggih pada novel pertamanya itu.
Di samping novel Dewi Lestari dan novel saya, ada novel Area X karya Eliza V Handayani. Satu kemungkinan yang tidak bisa dihindari, seringkali, justru dari ide penulis fiksi ilmiahlah inovasi teknologi berasal. Meski tidak langsung terilhami dari novel atau jenis tulisan lain ataupun dari film fiksi ilmiah, adanya inovasi itu membuktikan kesamaan gagasan akan ide awal teknologi tersebut. Terbukti, satu demi satu ide dalam novel saya mulai terwujud. Finalnya, ide embrio yang dibekukakan selama puluhan tahun ternyata baru-baru ini bisa dihidupkan kembali setelah ditransplantasi ke dalam rahim ibu barunya. Hal itu diterbitkan oleh media online Dailymail, pada tanggal 20 desember 2017 dengan tajuk “The baby that was conceived just 18 months after its mother: Woman, 26, gives birth to baby girl  from donated embryo that was frozen for 24 years-the longest ever”. Ini merupakan fenomena mencengangkan sekaligus menggembirakan buat saya pribadi. Gagasan yang saya pikirkan terwujud dalam bidang kedokteran.
Dari sudut pandang kebudayaan, hadirnya teknologi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Yasraf Amir Piliang dalam salah satu tulisannya berjudul “Transformasi Budaya dan Teknologi Membangun daya Kreativitas” menyebut hadirnya kebudayaan selayaknya salah satu faktor pembangun kebudayaan itu sendiri. Piliang menyebut ada tiga pandangan menyikapi relasi kebudayaan dengan teknologi. Yang pertama adalah pandangan determinasi budaya (technological determination) yang melihat perkembangan sains-teknologi sebagai motor dari perkembangan budaya. Hadirnya televisi, misalnya, mengubah cara pandang masyarakat dalam berkomunikasi, mencari informasi, dan memaknai dunia. Pandangan yang kedua adalah determinasi budaya (cultural determination), adalah pandangan  yang melihat perubahan pada tingkat sosial-budaya menjadi fondasi perkembangan  teknologi  (Kaplan,  1972: 89). 
Kebudayaan  merangkai  ide,  gagasan,  imajinasi,  nilai,  dan  makna.  Sains  dan teknologi merealisasikan semuanya ini melalui produk-produknya.  Dengan  demikian,  sains dan  teknologi  adalah  “refleksi”  dari  kebudayaan. Akan  tetapi,  ada  pandangan  lain  yang “menengahi’” kedua  pandangan  di  atas,  yaitu pandangan  determinisme  lunak (soft  determinism),  yang  melihat  teknologi  tidak merefleksikan  budaya,  tetapi  sebaliknya: membentuk  budaya. Tidak  hanya  dipengaruhi, tetapi  memengaruhi  subsistem budaya,  dan tidak  hanya  dibangun  oleh  nilai-nilai budaya, tetapi  sebaliknya  dapat  mengubah nilai-nilai  itu  (Kaplan,  1972:89).  Penemuan komputer,  di  satu  pihak,  dimungkinkan  karena  adanya  kebutuhan  kultural untuk  dapat   menghitung,  mengolah,  dan  mengomunikasikan data secara cepat dan massal. Akan  tetapi,  di  pihak  lain,  penggunaannya secara intens oleh masyarakat dapat mengubah  perilaku,  cara  berpikir,  dan  pandangan dunia manusia itu sendiri.

Saya pribadi berpendapat, sudah selayaknya kita merangkul teknologi itu ke dalam kebudayaan tanpa kehilangan identitas kebudayaan itu sendiri. Kita sudah tidak dalam posisi menolak perkembangan teknologi itu. Kita sudah hidup berbarengan dengannya. Bahkan hal terkecil dalam keseharian kita pun sudah tidak bisa menghindari penggunaan teknologi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar