Sewaktu saya
kecil, sekitaran usia Sekolah Dasar, saya masih tidak percaya dengan satu artikel
yang saya baca di majalah anak-anak Ananda,
bahwa telepon bisa dibawa ke mana saja bukan lagi adegan dalam film fiksi
ilmiah belaka. Dan tak lama kemudian, telepon genggam itu betul ada. Imajinasi penulis
naskah film betul-betul mencengangkan dan sebagian dari karya imajinasi itu
terwujud jadi kenyataan.
Saya
terpesona dengan satu film fiksi ilmiah yang saya tonton sekitaran tahun 2002, Minority Report. Belakangan, saya baru
tahu ide film itu diambil dari cerita pendek yang ditulis oleh Phillip K. Dick.
Hal itu membuka cakrawala saya, sebuah tulisan pendek pun bisa diadaptasi ke
layar lebar. Ide tidak melulu dari naskah yang panjang. Ide bisa berasal dari
mana saja.
Film
ini menarik karena seingat saya, sebelumnya saya hanya menonton film fiksi
ilmiah yang berpusat kepada setting
di luar angkasa saja semacam Star Wars
atau film-film yang berpusat pada kecanggihan alat teknologi atau semacam robot
dengan inteligensi buatan. Minority
Report melibatkan kedokteran; bagaimana bisa menukar bola mata yang konon
dipakai sebagai alat identifikasi individu. Kornea mata menggantikan peran
kartu identitas. Setiap sudut kota mengenali Anda dari hasil memindai bola mata
Anda oleh mesin pemindai yang tersedia di mana-mana.
Sebenarnya,
hal-hal semacam itu bukan sesuatu yang baru karena sejak awal tahun 2000 sudah
ada teknologi virtual reality yang
linear dengan memproyeksikan dunia buatan ke dalam alam pikiran. Bedanya, alat dalam
film Minority Report ini
memproyeksikan kebalikannya. Dia memproyeksikan mimpi buruk tiga orang anak,
yang kemudian disebut Precogs, ke layar sehingga orang luar dari pemilik
pikiran bisa melihatnya. Setiap kali mereka bermimpi buruk, mereka memprediksi
kejahatan yang akan terjadi. Hal itu dimanfaatkan pemerintah setempat,
khususnya departemen khusus di kepolisian, untuk mencegah kejahatan itu
terjadi. Mereka menamakan unit mereka Precrime. Dan bertindak sebelum kejahatan
terjadi dengan memenjarakan para pelaku yang sebetulnya baru berniat melakukan
kejahatan. Satu pesan dari film ini: ia tidak sekadar melibatkan robot dan
kecerdasan seperti yang sudah-sudah. Ada kemanusiaan yang dilibatkan. Ini
seperti membuka celah tidak terlihat pada film pendahulunya yang seakan
memisahkan teknologi dengan tubuh manusia; manusia sebagai pemakai, melainkan
sudah menyatu; menjadi bagian tubuhnya.
Film
itu memicu saya menulis fiksi ilmiah ke dalam novel yang saya terbitkan di
Mizan, dwilogi NSJ pada 2003-2004. Kisahnya
mengenai embrio yang diawetkan puluhan tahun. Dengan latar tahun 2122,
kemudahan teknologi mendominasi cerita. Kultur pembaca Indonesia belum sepenuhnya
menerima tulisan bergenre ini. Saya tidak tahu persis penyebab pola pikir
begini. Bisa jadi karena memang tidak terbiasa menerima teknologi baru. Atau bisa
jadi karena pola kebudayaan yang membentuknya, yang tidak mendukung adanya
pemikiran yang digagas penulis fiksi ilmiah. Pada awal munculnya novel Dewi
Lestari, Supenova, seringkali disebut
sebagai awal munculnya genre fiksi ilmiah meski Dewi Lestari sendiri membantah.
Meski mungkin sudah beberapa ada yang memulai, jenis tulisan yang diusung Dewi
Lestari termasuk hal baru karena melibatkan teknologi canggih pada novel pertamanya
itu.
Di
samping novel Dewi Lestari dan novel saya, ada novel Area X karya Eliza V Handayani. Satu kemungkinan yang tidak bisa dihindari,
seringkali, justru dari ide penulis fiksi ilmiahlah inovasi teknologi berasal.
Meski tidak langsung terilhami dari novel atau jenis tulisan lain ataupun dari
film fiksi ilmiah, adanya inovasi itu membuktikan kesamaan gagasan akan ide
awal teknologi tersebut. Terbukti, satu demi satu ide dalam novel saya mulai
terwujud. Finalnya, ide embrio yang dibekukakan selama puluhan tahun ternyata
baru-baru ini bisa dihidupkan kembali setelah ditransplantasi ke dalam rahim
ibu barunya. Hal itu diterbitkan oleh media online
Dailymail, pada tanggal 20 desember 2017 dengan tajuk “The baby that was
conceived just 18 months after its mother: Woman, 26, gives birth to baby girl from donated embryo that was frozen for 24
years-the longest ever”. Ini merupakan fenomena mencengangkan sekaligus
menggembirakan buat saya pribadi. Gagasan yang saya pikirkan terwujud dalam
bidang kedokteran.
Dari
sudut pandang kebudayaan, hadirnya teknologi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan.
Yasraf Amir Piliang dalam salah satu tulisannya berjudul “Transformasi Budaya
dan Teknologi Membangun daya Kreativitas” menyebut hadirnya kebudayaan
selayaknya salah satu faktor pembangun kebudayaan itu sendiri. Piliang menyebut
ada tiga pandangan menyikapi relasi kebudayaan dengan teknologi. Yang pertama
adalah pandangan determinasi budaya (technological
determination) yang melihat perkembangan sains-teknologi sebagai motor dari
perkembangan budaya. Hadirnya televisi, misalnya, mengubah cara pandang masyarakat
dalam berkomunikasi, mencari informasi, dan memaknai dunia. Pandangan yang
kedua adalah determinasi budaya (cultural
determination), adalah pandangan
yang melihat perubahan pada tingkat sosial-budaya menjadi fondasi perkembangan teknologi
(Kaplan, 1972: 89).
Kebudayaan merangkai
ide, gagasan, imajinasi,
nilai, dan makna.
Sains dan teknologi
merealisasikan semuanya ini melalui produk-produknya. Dengan
demikian, sains dan teknologi
adalah “refleksi” dari
kebudayaan. Akan tetapi, ada
pandangan lain yang “menengahi’” kedua pandangan
di atas, yaitu pandangan determinisme
lunak (soft determinism), yang
melihat teknologi tidak merefleksikan budaya,
tetapi sebaliknya: membentuk budaya. Tidak
hanya dipengaruhi, tetapi memengaruhi
subsistem budaya, dan tidak hanya
dibangun oleh nilai-nilai budaya, tetapi sebaliknya
dapat mengubah nilai-nilai itu
(Kaplan, 1972:89). Penemuan komputer, di
satu pihak, dimungkinkan
karena adanya kebutuhan
kultural untuk dapat menghitung,
mengolah, dan mengomunikasikan data secara cepat dan
massal. Akan tetapi, di
pihak lain, penggunaannya secara intens oleh masyarakat
dapat mengubah perilaku, cara
berpikir, dan pandangan dunia manusia itu sendiri.
Saya
pribadi berpendapat, sudah selayaknya kita merangkul teknologi itu ke dalam
kebudayaan tanpa kehilangan identitas kebudayaan itu sendiri. Kita sudah tidak
dalam posisi menolak perkembangan teknologi itu. Kita sudah hidup berbarengan
dengannya. Bahkan hal terkecil dalam keseharian kita pun sudah tidak bisa
menghindari penggunaan teknologi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar