Sabtu, 30 Desember 2017

The 100-year-old Man Who Climbed Out Of Window and Disappeared – Sebuah Ulasan.



Suatu sore, seruput kopi saya hampir menyembur saat membaca ini,
“Aku sedang berpikir,” kata Allan.
“Apa?!” Hardik Stalin dengan marah.
“Mengapa tidak kau cukur saja kumismu?” Makan malam berakhir dengan pertanyaan itu karena sang juru bahasa pingsan.
       Bukan sembarang Stalin yang dia ajak bicara. Bukan Stalin yang tukang roti atau supir taksi. Tapi Stalin pemimpin revolusi dan politik Rusia. Joseph Stalin sang diktator sampai akhir hayatnya. Tapi tak cuma Stalin yang dengan santai ditanggapi oleh Allan. Buku ini diawali dengan kebosanan setengah mati Allan akan hidupnya yang hari itu berulang tahun ke seratus sehingga dia memutuskan untuk kabur dari panti lansia tempat tinggalnya selama ini. Tindakannya itu justru menyebabkan ia jadi memiliki teman baiknya; ia bertemu orang-orang yang sama-sama kesepian dan sama-sama sedang kabur.
       Alur maju mundur di buku ini sekilas menceritakan perjalanan hidup Allan sejak kecil hingga umurnya ke seratus. Banyak humor gelap yang dicetuskan narasi novel ini. Sekian banyak tokoh dunia, kebanyakan tokoh Sosialis dan Komunis, pernah mengisi jalan hidup Allan. Pernah dianggap gila, hingga ditahan di sebuah klinik kejiwaan sewaktu kecilnya, dia sama sekali tidak berniat menjadi orang penting. Namun, kegemarannya meledakkan apa pun dimanfaatkan banyak tokoh dunia. Dengan nada sarkastis, Allan menyebut mereka telah “membeli kemampuannya membuat bom untuk memuluskan karier politiknya”. Tak kurang, nama-nama seperti Mao Tse-tung, Churchil, Truman, sampai Stalin menjadi teman makan minumnya. Dengan menunjukkan sikap enggan tapi tidak menolak, Allan berkelana dari Eropa Timur, Eropa Barat, Afrika, sampai Asia. Allan pernah memangku Kim Jung Il dan Allan berkawan karib dengan orang Indonesia. Betullah, seperti prinsip hidup Allan, semakin sedikit pengharapan, semakin banyak kemungkinan. Perang demi perang dilalui Allan dengan selamat dan sabar. Seperti itulah hidup Allan.
       Yang menyedihkan sekaligus nilai lebih karakter Allan di sini, dia tidak pernah berusaha segera melepaskan diri dari siksaan orang-orang yang tidak menyukainya, dia justru menikmatinya. Bukan hitungan hari atau minggu, tetapi tahunan. Hidupnya seakan cuma satu tujuan: menyesapi Vodka, menghitung sisa uang (yang sebenarnya melimpah berkat keahliannya) apakah cukup untuk membeli telur, susu, kentang, dan sosis serta berlangganan koran.

       Bagi kita, ada satu hal menarik yang ditulis oleh Jonas Jonasson di sini, yakni dia menyinggung betapa mudahnya menjadi tokoh politik di Indonesia. Anda tinggal membayar. Apa pun bisa dibeli di Indonesia. Dari titel pendidikan sampai dengan posisi dalam perpolitikan. Rupanya latar belakang Jonasson sebagai wartawan dan berkecimpung di dunia media, televisi dan surat kabar, memungkinkannya mengetahui rahasia dapur bangsa ini. Tak luput era Sukarno, Suharto hingga Yudhoyono menjadi latar cerita hidup Allan. Meski terkesan jenaka, buku ini menyisipkan satir yang gelap akan kekuasaan yang tak jarang mengocok perut pembaca, saya terutama. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar