Suatu sore,
seruput kopi saya hampir menyembur saat membaca ini,
“Aku sedang
berpikir,” kata Allan.
“Apa?!” Hardik
Stalin dengan marah.
“Mengapa tidak
kau cukur saja kumismu?” Makan malam berakhir dengan pertanyaan itu karena sang
juru bahasa pingsan.
Bukan sembarang
Stalin yang dia ajak bicara. Bukan Stalin yang tukang roti atau supir taksi.
Tapi Stalin pemimpin revolusi dan politik Rusia. Joseph Stalin sang diktator
sampai akhir hayatnya. Tapi tak cuma Stalin yang dengan santai ditanggapi oleh
Allan. Buku ini diawali dengan kebosanan setengah mati Allan akan hidupnya yang
hari itu berulang tahun ke seratus sehingga dia memutuskan untuk kabur dari
panti lansia tempat tinggalnya selama ini. Tindakannya itu justru menyebabkan
ia jadi memiliki teman baiknya; ia bertemu orang-orang yang sama-sama kesepian
dan sama-sama sedang kabur.
Alur maju mundur
di buku ini sekilas menceritakan perjalanan hidup Allan sejak kecil hingga
umurnya ke seratus. Banyak humor gelap yang dicetuskan narasi novel ini. Sekian
banyak tokoh dunia, kebanyakan tokoh Sosialis dan Komunis, pernah mengisi jalan
hidup Allan. Pernah dianggap gila, hingga ditahan di sebuah klinik kejiwaan
sewaktu kecilnya, dia sama sekali tidak berniat menjadi orang penting. Namun, kegemarannya
meledakkan apa pun dimanfaatkan banyak tokoh dunia. Dengan nada sarkastis, Allan
menyebut mereka telah “membeli kemampuannya membuat bom untuk memuluskan karier
politiknya”. Tak kurang, nama-nama seperti Mao Tse-tung, Churchil, Truman, sampai
Stalin menjadi teman makan minumnya. Dengan menunjukkan sikap enggan tapi tidak
menolak, Allan berkelana dari Eropa Timur, Eropa Barat, Afrika, sampai Asia. Allan
pernah memangku Kim Jung Il dan Allan berkawan karib dengan orang Indonesia. Betullah,
seperti prinsip hidup Allan, semakin sedikit pengharapan, semakin banyak
kemungkinan. Perang demi perang dilalui Allan dengan selamat dan sabar. Seperti
itulah hidup Allan.
Yang menyedihkan
sekaligus nilai lebih karakter Allan di sini, dia tidak pernah berusaha segera melepaskan
diri dari siksaan orang-orang yang tidak menyukainya, dia justru menikmatinya.
Bukan hitungan hari atau minggu, tetapi tahunan. Hidupnya seakan cuma satu
tujuan: menyesapi Vodka, menghitung sisa uang (yang sebenarnya melimpah berkat
keahliannya) apakah cukup untuk membeli telur, susu, kentang, dan sosis serta
berlangganan koran.
Bagi kita, ada
satu hal menarik yang ditulis oleh Jonas Jonasson di sini, yakni dia
menyinggung betapa mudahnya menjadi tokoh politik di Indonesia. Anda tinggal
membayar. Apa pun bisa dibeli di Indonesia. Dari titel pendidikan sampai dengan
posisi dalam perpolitikan. Rupanya latar belakang Jonasson sebagai wartawan dan
berkecimpung di dunia media, televisi dan surat kabar, memungkinkannya
mengetahui rahasia dapur bangsa ini. Tak luput era Sukarno, Suharto hingga
Yudhoyono menjadi latar cerita hidup Allan. Meski terkesan jenaka, buku ini
menyisipkan satir yang gelap akan kekuasaan yang tak jarang mengocok perut
pembaca, saya terutama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar