Will write about this. Happy New Year 2018!
Minggu, 31 Desember 2017
60 Tahun Astra: Bukti Bakti Nyata Untuk Rakyat Indonesia.
Dari jumlah karyawan hanya berjumlah empat orang sampai berkembang
menjadi 214.835 karyawan di 208 perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia
dan bertahan selama 60 tahun, sudah menjadi bukti keberadaan Astra yang tidak
hanya diterima oleh masyarakat tetapi juga sudah menjadi bagian dari masyarakat
Indonesia. Perkembangan jumlah itu diungkapkan Prijono Sugiarto, Presiden
Direktur Astra International pada HUT ke 60 Astra. Prijono menegaskan, Astra
berkomitmen untuk terus berupaya berkontribusi positif terhadap kemajuan bangsa
di berbagai bidang seiring cita-cita perusahaan untuk sejahtera bersama bangsa.
Dalam 60 tahun tentu saja sudah banyak kontribusi nyata yang diberikan Astra
sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat. Astra
menitikberatkan pada empat pilar, yakni: Astra untuk Indonesia sehat, Astra
untuk Indonesia cerdas, Astra untuk Indonesia hijau dan Astra untuk Indonesia
kreatif. Dengan berbagai perubahan situasi ekonomi, sosial, dan perubahan
kepemimpinan, Astra tetap berpegang teguh pada catur dharma dalam menjalankan
perusahaan. Pemilihan produk, layanan dan sumber daya manusia
terbaik merupakan upaya Astra dalam mewujudkan komitmennya.
Berikut adalah
beberapa kegiatan yang diselenggarakan Astra sepanjang tahun 2017.
1.
Astra Untuk Indonesia Sehat
Selama 60 tahun, Astra
telah memberikan pengobatan gratis kepada 125.818 pasien, membina 1.577
posyandu dan menyumbangkan 216.263 kantong darah.
Inisiatif Astra
bersama masyarakat untuk mewujudkan Kampung Berseri Astra (KBA) sebagai kampung
dengan lingkungan yang bersih dan hijau serta masyarakat yang sehat, cerdas dan
produktif juga mewakili implementasi dari 4 pilar CSR Astra. Saat ini, Astra
memiliki 49 KBA yang tersebar di 17 provinsi di seluruh Indonesia.
Sejak tahun 2014 Astra
mulai mengampanyekan Program GenerAKSI Sehat Indonesia sebagai bagian dari
kontribusi sosial Astra di bidang kesehatan. Melalui kampanye yang memanfaatkan
media sosial ini, Astra mendorong masyarakat Indonesia untuk berkomitmen hidup
sehat sebagai generasi penerus bangsa. Sampai sekarang, GenerAKSI Sehat
Indonesia telah berhasil menyumbangkan 15.654 kacamata bagi anak-anak Indonesia
khususnya di wilayah 3T.
PT. Astra International Tbk menyambangi kota
Makassar pada 17-19 November 2017 sebagai bagian dari rangkaian HUT 60 Astra
dengan mengadakan berbagai kegiatan yang dapat menginspirasi hidup sehat
masyarakat seperti, Apresiasi Astra Untuk Indonesia Sehat, pengobatan dan
pemeriksaan kesehatan gratis serta Healthpreneur Talkshow. Acara tersebut
turut dihadiri Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal & Transmigrasi
Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo didampingi oleh Direktur PT Astra
International Tbk Widya Wiryawan.
2. Astra Untuk Indonesia
Cerdas
Pada pilar Pendidikan
dengan program Astra Untuk Indonesia Cerdas fokus pada pembinaan sekolah dasar
dan menengah guna meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini. Hingga kini,
Astra telah memberikan 231.936 beasiswa serta membina 15.859 Sekolah Binaan
Astra, 20 Rumah Pintar, 124 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan 40.284 guru.
Astra
Apresiasi 7 ‘Mutiara Bangsa’ Tingkat Nasional Tahun Ini Ada 82 Penerima Tingkat
Provinsi. Melalui serangkaian upaya seperti penjaringan awal, seleksi
persyaratan, peninjauan lokasi, analisis proses kerja serta dampak program bagi
masyarakat sekitar melalui wawancara komprehensif dengan pihak terkait, Dewan
Juri akhirnya memilih 7 ‘mutiara bangsa’ tingkat nasional dari 82 penerima
tingkat provinsi yang berasal dari Sabang sampai Merauke.
Grup Astra pada 9 oktober 2017 memberikan bantuan
dalam berbagai bentuk sarana dan prasarana dengan total senilai Rp18 miliar
sebagai bentuk sinergi program Corporate
Social Responsibility (CSR) Grup Astra di NTT.
Sarana dan prasarana berupa pelatihan guru dan
kepala sekolah, renovasi atau pembangunan gedung sekolah, mebel sekolah, alat
peraga, buku pelajaran dan perpustakaan, mesin praktek (khusus SMK),
multimedia, perlengkapan sekolah, perpustakaan, UKS dan penunjang pembinaan
seni dan budaya itu diberikan bersamaan dengan dilaksanakannya Festival Kampung
Berseri Astra Sonraen di Desa Sonraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten
Kupang.
Koperasi Astra hingga tahun 2017 secara akumulatif
telah menyalurkan dana beasiswa sebesar Rp 46,32 miliar untuk membantu biaya
pendidikan 30.904 siswa di seluruh Indonesia sejak tahun 2001. Penyerahan
beasiswa tahun ajaran 2016/2017 dilakukan di Ocean Ecopark Taman Impian Jaya
Ancol, pada Sabtu (16/9). Pada kesempatan tersebut, Pengawas dan Pengurus
Koperasi Astra secara simbolis menyerahkan beasiswa kepada delapan orang
perwakilan siswa berprestasi yang disaksikan oleh para murid penerima beasiswa
di wilayah Jabodetabek dan Karawang beserta orang tua, tamu undangan dan
eksekutif Grup Astra.
3. Astra Untuk Indonesia
Hijau
Pengelolaan area konservasi dan perlindungan
keanekaragaman Hayati terpadu yang berkelanjutan merupakan salah satu fokus
utama Astra dalam menjalankan bisnis. Melalui pilar Lingkungan, sampai kini,
Astra telah menanam 4.444.947 pohon, 1.103.493 pohon mangrove, membuka 27.439
hektar ruang terbuka hijau serta membangun 17 bank sampah.
PT Astra International Tbk pada 19 desember 2017
kembali menghijaukan Cianjur dengan penanaman 1.000 pohon baru, sehingga
menambahkan jumlah pohon yang sudah diadopsi oleh Astra di Kabupaten Cianjur
menjadi sejumlah 6.700 pohon. Penanaman pohon, yang diikuti oleh wartawan, blogger serta
karyawan Grup Astra ini, dilaksanakan di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang,
Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
4. Astra
Untuk Indonesia Kreatif
Dukungan Astra terhadap pengembangan Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia telah dilakukan sejak 37 tahun lalu
melalui Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA). Hal ini merupakan bentuk komitmen
Astra untuk menumbuhkan usaha produktif di masyarakat dengan mendorong
penciptaan lapangan kerja dan kemandirian masyarakat.
Menitikberatkan pada pembinaan UMKM, penguatan
kapasitas usaha dan pengembangan ekonomi kreatif untuk penyandang disabilitas,
sampai sekarang, Astra Untuk Indonesia Kreatif telah membina 10.847 Kelompok
UMKM, 97.641 masyarakat penerima program, membangun 16 Lembaga Pengembangan
Bisnis, 10 Lembaga Keuangan Mikro dan 200 disabilitas.
PT Astra Mitra Ventura (Astra Ventura), sebagai
salah satu anak perusahaan Grup Astra yang bergerak pada bidang jasa keuangan
modal ventura, pada 5 september 2017 mengadakan kunjungan lapangan (genba) ke
usaha kecil menengah (UKM) manufaktur komponen otomotif mitra usaha Astra
Ventura. Genba merupakan wujud nyata dari Astra Ventura untuk mendukung UKM
Indonesia “naik kelas”. Acara itu dihadiri oleh
Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto yang didampingi
oleh Presiden Komisaris Astra Ventura Suparno Djasmin dan Presiden Direktur
Astra Ventura Jefri R. Sirait serta eksekutif Grup Astra.
Demikianlah sebagian kecil wujud nyata pertanggung
jawaban sosial Astra kepada rakyat Indonesia memginjak usianya ke 60 tahun.
Semoga Astra semakin meningkatkan pelayanan dan memperkaya Indonesia dengan
kontribusinya.
(Sumber data dan foto: www.astra.co.id)
Sabtu, 30 Desember 2017
The 100-year-old Man Who Climbed Out Of Window and Disappeared – Sebuah Ulasan.
Suatu sore,
seruput kopi saya hampir menyembur saat membaca ini,
“Aku sedang
berpikir,” kata Allan.
“Apa?!” Hardik
Stalin dengan marah.
“Mengapa tidak
kau cukur saja kumismu?” Makan malam berakhir dengan pertanyaan itu karena sang
juru bahasa pingsan.
Bukan sembarang
Stalin yang dia ajak bicara. Bukan Stalin yang tukang roti atau supir taksi.
Tapi Stalin pemimpin revolusi dan politik Rusia. Joseph Stalin sang diktator
sampai akhir hayatnya. Tapi tak cuma Stalin yang dengan santai ditanggapi oleh
Allan. Buku ini diawali dengan kebosanan setengah mati Allan akan hidupnya yang
hari itu berulang tahun ke seratus sehingga dia memutuskan untuk kabur dari
panti lansia tempat tinggalnya selama ini. Tindakannya itu justru menyebabkan
ia jadi memiliki teman baiknya; ia bertemu orang-orang yang sama-sama kesepian
dan sama-sama sedang kabur.
Alur maju mundur
di buku ini sekilas menceritakan perjalanan hidup Allan sejak kecil hingga
umurnya ke seratus. Banyak humor gelap yang dicetuskan narasi novel ini. Sekian
banyak tokoh dunia, kebanyakan tokoh Sosialis dan Komunis, pernah mengisi jalan
hidup Allan. Pernah dianggap gila, hingga ditahan di sebuah klinik kejiwaan
sewaktu kecilnya, dia sama sekali tidak berniat menjadi orang penting. Namun, kegemarannya
meledakkan apa pun dimanfaatkan banyak tokoh dunia. Dengan nada sarkastis, Allan
menyebut mereka telah “membeli kemampuannya membuat bom untuk memuluskan karier
politiknya”. Tak kurang, nama-nama seperti Mao Tse-tung, Churchil, Truman, sampai
Stalin menjadi teman makan minumnya. Dengan menunjukkan sikap enggan tapi tidak
menolak, Allan berkelana dari Eropa Timur, Eropa Barat, Afrika, sampai Asia. Allan
pernah memangku Kim Jung Il dan Allan berkawan karib dengan orang Indonesia. Betullah,
seperti prinsip hidup Allan, semakin sedikit pengharapan, semakin banyak
kemungkinan. Perang demi perang dilalui Allan dengan selamat dan sabar. Seperti
itulah hidup Allan.
Yang menyedihkan
sekaligus nilai lebih karakter Allan di sini, dia tidak pernah berusaha segera melepaskan
diri dari siksaan orang-orang yang tidak menyukainya, dia justru menikmatinya.
Bukan hitungan hari atau minggu, tetapi tahunan. Hidupnya seakan cuma satu
tujuan: menyesapi Vodka, menghitung sisa uang (yang sebenarnya melimpah berkat
keahliannya) apakah cukup untuk membeli telur, susu, kentang, dan sosis serta
berlangganan koran.
Bagi kita, ada
satu hal menarik yang ditulis oleh Jonas Jonasson di sini, yakni dia
menyinggung betapa mudahnya menjadi tokoh politik di Indonesia. Anda tinggal
membayar. Apa pun bisa dibeli di Indonesia. Dari titel pendidikan sampai dengan
posisi dalam perpolitikan. Rupanya latar belakang Jonasson sebagai wartawan dan
berkecimpung di dunia media, televisi dan surat kabar, memungkinkannya
mengetahui rahasia dapur bangsa ini. Tak luput era Sukarno, Suharto hingga
Yudhoyono menjadi latar cerita hidup Allan. Meski terkesan jenaka, buku ini
menyisipkan satir yang gelap akan kekuasaan yang tak jarang mengocok perut
pembaca, saya terutama.
Kamis, 21 Desember 2017
Budaya dan Teknologi; Betulkah bertentangan?
Sewaktu saya
kecil, sekitaran usia Sekolah Dasar, saya masih tidak percaya dengan satu artikel
yang saya baca di majalah anak-anak Ananda,
bahwa telepon bisa dibawa ke mana saja bukan lagi adegan dalam film fiksi
ilmiah belaka. Dan tak lama kemudian, telepon genggam itu betul ada. Imajinasi penulis
naskah film betul-betul mencengangkan dan sebagian dari karya imajinasi itu
terwujud jadi kenyataan.
Saya
terpesona dengan satu film fiksi ilmiah yang saya tonton sekitaran tahun 2002, Minority Report. Belakangan, saya baru
tahu ide film itu diambil dari cerita pendek yang ditulis oleh Phillip K. Dick.
Hal itu membuka cakrawala saya, sebuah tulisan pendek pun bisa diadaptasi ke
layar lebar. Ide tidak melulu dari naskah yang panjang. Ide bisa berasal dari
mana saja.
Film
ini menarik karena seingat saya, sebelumnya saya hanya menonton film fiksi
ilmiah yang berpusat kepada setting
di luar angkasa saja semacam Star Wars
atau film-film yang berpusat pada kecanggihan alat teknologi atau semacam robot
dengan inteligensi buatan. Minority
Report melibatkan kedokteran; bagaimana bisa menukar bola mata yang konon
dipakai sebagai alat identifikasi individu. Kornea mata menggantikan peran
kartu identitas. Setiap sudut kota mengenali Anda dari hasil memindai bola mata
Anda oleh mesin pemindai yang tersedia di mana-mana.
Sebenarnya,
hal-hal semacam itu bukan sesuatu yang baru karena sejak awal tahun 2000 sudah
ada teknologi virtual reality yang
linear dengan memproyeksikan dunia buatan ke dalam alam pikiran. Bedanya, alat dalam
film Minority Report ini
memproyeksikan kebalikannya. Dia memproyeksikan mimpi buruk tiga orang anak,
yang kemudian disebut Precogs, ke layar sehingga orang luar dari pemilik
pikiran bisa melihatnya. Setiap kali mereka bermimpi buruk, mereka memprediksi
kejahatan yang akan terjadi. Hal itu dimanfaatkan pemerintah setempat,
khususnya departemen khusus di kepolisian, untuk mencegah kejahatan itu
terjadi. Mereka menamakan unit mereka Precrime. Dan bertindak sebelum kejahatan
terjadi dengan memenjarakan para pelaku yang sebetulnya baru berniat melakukan
kejahatan. Satu pesan dari film ini: ia tidak sekadar melibatkan robot dan
kecerdasan seperti yang sudah-sudah. Ada kemanusiaan yang dilibatkan. Ini
seperti membuka celah tidak terlihat pada film pendahulunya yang seakan
memisahkan teknologi dengan tubuh manusia; manusia sebagai pemakai, melainkan
sudah menyatu; menjadi bagian tubuhnya.
Film
itu memicu saya menulis fiksi ilmiah ke dalam novel yang saya terbitkan di
Mizan, dwilogi NSJ pada 2003-2004. Kisahnya
mengenai embrio yang diawetkan puluhan tahun. Dengan latar tahun 2122,
kemudahan teknologi mendominasi cerita. Kultur pembaca Indonesia belum sepenuhnya
menerima tulisan bergenre ini. Saya tidak tahu persis penyebab pola pikir
begini. Bisa jadi karena memang tidak terbiasa menerima teknologi baru. Atau bisa
jadi karena pola kebudayaan yang membentuknya, yang tidak mendukung adanya
pemikiran yang digagas penulis fiksi ilmiah. Pada awal munculnya novel Dewi
Lestari, Supenova, seringkali disebut
sebagai awal munculnya genre fiksi ilmiah meski Dewi Lestari sendiri membantah.
Meski mungkin sudah beberapa ada yang memulai, jenis tulisan yang diusung Dewi
Lestari termasuk hal baru karena melibatkan teknologi canggih pada novel pertamanya
itu.
Di
samping novel Dewi Lestari dan novel saya, ada novel Area X karya Eliza V Handayani. Satu kemungkinan yang tidak bisa dihindari,
seringkali, justru dari ide penulis fiksi ilmiahlah inovasi teknologi berasal.
Meski tidak langsung terilhami dari novel atau jenis tulisan lain ataupun dari
film fiksi ilmiah, adanya inovasi itu membuktikan kesamaan gagasan akan ide
awal teknologi tersebut. Terbukti, satu demi satu ide dalam novel saya mulai
terwujud. Finalnya, ide embrio yang dibekukakan selama puluhan tahun ternyata
baru-baru ini bisa dihidupkan kembali setelah ditransplantasi ke dalam rahim
ibu barunya. Hal itu diterbitkan oleh media online
Dailymail, pada tanggal 20 desember 2017 dengan tajuk “The baby that was
conceived just 18 months after its mother: Woman, 26, gives birth to baby girl from donated embryo that was frozen for 24
years-the longest ever”. Ini merupakan fenomena mencengangkan sekaligus
menggembirakan buat saya pribadi. Gagasan yang saya pikirkan terwujud dalam
bidang kedokteran.
Dari
sudut pandang kebudayaan, hadirnya teknologi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan.
Yasraf Amir Piliang dalam salah satu tulisannya berjudul “Transformasi Budaya
dan Teknologi Membangun daya Kreativitas” menyebut hadirnya kebudayaan
selayaknya salah satu faktor pembangun kebudayaan itu sendiri. Piliang menyebut
ada tiga pandangan menyikapi relasi kebudayaan dengan teknologi. Yang pertama
adalah pandangan determinasi budaya (technological
determination) yang melihat perkembangan sains-teknologi sebagai motor dari
perkembangan budaya. Hadirnya televisi, misalnya, mengubah cara pandang masyarakat
dalam berkomunikasi, mencari informasi, dan memaknai dunia. Pandangan yang
kedua adalah determinasi budaya (cultural
determination), adalah pandangan
yang melihat perubahan pada tingkat sosial-budaya menjadi fondasi perkembangan teknologi
(Kaplan, 1972: 89).
Kebudayaan merangkai
ide, gagasan, imajinasi,
nilai, dan makna.
Sains dan teknologi
merealisasikan semuanya ini melalui produk-produknya. Dengan
demikian, sains dan teknologi
adalah “refleksi” dari
kebudayaan. Akan tetapi, ada
pandangan lain yang “menengahi’” kedua pandangan
di atas, yaitu pandangan determinisme
lunak (soft determinism), yang
melihat teknologi tidak merefleksikan budaya,
tetapi sebaliknya: membentuk budaya. Tidak
hanya dipengaruhi, tetapi memengaruhi
subsistem budaya, dan tidak hanya
dibangun oleh nilai-nilai budaya, tetapi sebaliknya
dapat mengubah nilai-nilai itu
(Kaplan, 1972:89). Penemuan komputer, di
satu pihak, dimungkinkan
karena adanya kebutuhan
kultural untuk dapat menghitung,
mengolah, dan mengomunikasikan data secara cepat dan
massal. Akan tetapi, di
pihak lain, penggunaannya secara intens oleh masyarakat
dapat mengubah perilaku, cara
berpikir, dan pandangan dunia manusia itu sendiri.
Saya
pribadi berpendapat, sudah selayaknya kita merangkul teknologi itu ke dalam
kebudayaan tanpa kehilangan identitas kebudayaan itu sendiri. Kita sudah tidak
dalam posisi menolak perkembangan teknologi itu. Kita sudah hidup berbarengan
dengannya. Bahkan hal terkecil dalam keseharian kita pun sudah tidak bisa
menghindari penggunaan teknologi.
Selasa, 19 Desember 2017
ESLANDIA DAN PERMAINAN HUIZINGA
You can deny, if you like, nearly all
abstraction: justice, beauty, truth, goodness, mind, God. You can deny
seriousness, but not play (Johan Huizinga)
Meski
sudah tertinggal 4 gol, para pemain Eslandia tidak tampak frustrasi. Mereka tetap
tenang, bermain sabar, mengoper-oper bola dengan apik dari wilayah sendiri hingga
ke wilayah lawan. Di babak kedua, Bjarnasson berhasil membuat gol cantik satu sentuhan
kaki kanan dari ruang sempit (dalam keadaan dijaga ketat oleh pemain lawan)
dengan memanfaatkan umpan cross-cut. Kemudian, Prancis menambah gol melalui sundulan
Giroud. Namun, ini pun seperti tak berpengaruh bagi mental pemain Eslandia. Mereka
tetap bermain sabar dan apik. Hasilnya, Sigthorsson berhasil memanfaatkan umpan
crossing dengan sundulan ke sudut kiri gawang Prancis. Lagi-lagi, dari ruang sempit.
Dan saat kamera menyoroti tribun penonton, tak tampak pendukung Eslandia yang
berwajah pias, menundukkan kepala, menutup muka, atau berurai air mata. Mereka tetap
ceria dan bersorak-sorak serempak memberikan dukungan. Alhasil, pertandingan perempat
final piala Eropa yang berlangsung Senin dinihari (4/7/2016) sangat menarik untuk
disaksikan.
Hal
yang berbeda kita saksikan pada tim Inggris saat dikalahkan Eslandia. Begitu tertinggal
1-2, mereka tampak panik dan tergesa-gesa. Saat mendekati akhir babak kedua,
permainannya makin amburadul dan kembali pada model yang sudah sangat ketinggalan
zaman: kick and rush. Saya yakin, para pendukungnya, baik orang Inggris sendiri
maupun orang luar Inggris, kesal dan kecewa. Bukan karena Inggris kalah,
melainkan karena bermain buruk.
Jika
dilihat dari perspektif kebudayaan, apa yang ditampilkan para pemain dan penonton
Eslandia bisa dikategorikan sebagai —dalam istilah Huizinga— Homo ludens. Mereka memperlakukan
sepak bola sebagai permainan sejati.
Menurut
Johan Huizinga, esensi permainan adalah insting mendasar manusia untuk menunjukkan
dirinya. Maka dari itu, Huizinga
merumuskan ciri-ciri permainan esensial ada empat. Pertama, permainan adalah voluntary activity, yaitu dilakukan secara
sukarela. Jadi, jika permainan sudah dibebani oleh hal-hal di luar itu, seperti
prestasi, gengsi, atau industry, maka esensi permainan hilang. Dalam konteks Piala
Eropa 2016 di atas, para pemain eslandia tampak tidak terbebani oleh berapa banyak
harus membuat gol, bagaimana bisa mengalahkan tim raksasa Prancis di kandangnya
sendiri, dan puncaknya bagaimana bisa menjuarai liga paling bergengsi di Eropa,
bahkan mungkin dunia, itu.
Kedua,
permainan itu not real life and only
pretending, yaitu berada di luar kehidupan keseharian. Para pemain (dan juga
penonton) menujukan perhatian pada permainan itu sendiri. Mereka seolah tercerabut
dari kenyataan hidup sehari-hari dan berasyik ma’syuk dalam permainan. Seusai pertandingan
(setidaknya yang disorot kamera dan sorotan itu merepresentasikan situasi sesungguhnya),
baik pemain maupun penonton Eslandia tidak larut dalam kesedihan yang lebay,
seperti menangis meringis-ringis seakan negaranya kalah perang dan dicaplok negara
lain atau seakan dunia sedang kiamat. Dalam dunia sepak bola Eropa, isu yang
sering muncul adalah isu rasial (warna kulit). Dalam dunia sepak bola Indonesia
saat ini, bahkan dampaknya lebih jauh lagi. Rivalitas di lapangan dibawa-bawa hingga
keluar lapangan yang tak jarang berakibat korban jiwa.
Ketiga,
permainan itu bersifat secludedness and
limitedness, tertutup dan terbatas. Suatu permainan memiliki aturan sendiri,
mulai dari jumlah pemain, cara memainkan sepak bola, hukuman terhadap pelanggaran,
dan hingga batas jumlah penggantian pemain. Istilah “bola mati” dan “bola
hidup” juga lahir dari peraturan. Permainan juga dibatasi oleh tempat dan waktu.
Keempat, akhirnya, permainan yang baik itu dapat menghasilkan ketertiban dan keteraturan.
Permainan akan berlangsung secara lancar jika semua pihak mematuhi aturan-aturan
tersebut. Jika tidak, permainan akan terganggu,
bahkan hancur. Pelanggaran memang niscaya. Namun, semakin sedikit pelanggaran,
permainan semakin lancar dan semakin enak ditonton. Dalam Eslandia vs Prancis,
pelanggaran bisa terbilang minim. Hal ini ditunjukkan dengan sedikitnya kartu kuning
yang dikeluarkan wasit, tidak adanya pemain yang cedera, dan tidak adanya waktu
tambahan (additional time) yang
terlampau lama.
Demikianlah,
dari tim Eslandia, kita belajar bagaimana cara menjadi Homo ludens yang baik, manusia-manusia yang mampu bermain dan melangsungkan
permainan demi permainan itu sendiri. Hal yang sulit dilakukan di tengah dunia
modern dimana sepak bola sudah dibingkai oleh permainan industry dan semangat nasionalisme.
Justru dengan bermain lepas tanpa bebanlah, para pemain Eslandia berhasil meraih
esensi permainan, yakni meraih eksistensi dirinya. Negeri kecil dengan jumlah penduduk
yang juga kecil itu pun kini dikenal dunia.
Berapa dan Reuni
Dalam dua tahun terakhir
ini, saya mengikuti dua acara reuni.Yang pertama reuni fakultas dan yang kedua reuni
universitas. Ada semacam kebahagiaan dan keceriaan karena bertemu dengan kawan-kawan
lama. Kawan sekelas, kawan sekelompok OSPEK, kawan sekelompok Penataran P4,
kawan sekost-an, kawan setongkrongan, kawan seorganisasi, hingga mantan pacar. Bermacam
pertanyaan menjadi perangkat untuk memadukan kembali ikatan persahabatan dan menyalakan
kehangatan “Tinggal/kerja di mana sekarang?”, “Anak sudah berapa?”, dsb. Bagi saya
pribadi, pertanyaan kedua ini menarik perhatian karena sekian tahun menikah,
saya baru dikarunia satu orang anak, sementara adik angkatan saya ada yang
tujuh.
Sebagai
pembelajar bahasa, acara reuni menyisakan pertanyaan-pertanyaan di seputar bahasa.
Mengapa acara itu disebut reuni dan darimana
asal kata berapa? Larutlah saya dalam penelitian kecil-kecilan dan
inilah hasilnya.
Dalam
bahasa Indonesia, kata berapa merupakan
kata Tanya bilangan yang bertujuan untuk menanyakan jumlah, baik orang, benda,
maupun waktu. Simple ya? Namun, jika kita
menelusuri aspek historis dari kata berapa,
percayalah, kita akan dihadapkan pada bentangan sejarah bahasa yang amat panjang
dan berliku.
Konon
menurut Prof. Slamet Muljana, ahli sejarah bahasa dari UI, bahasa-bahasa
Nusantara memiliki kekerabatan dengan bahasa-bahasa yang terdapat di wilayah Yunan,
Myanmar, Kamboja, dan Vietnam, seperti bahasa Mundari, Khasi, Palaung, Campa,
Mon Khmer, dan banyak lagi. Jika merunut sejarah migrasi bangsa-bangsa
Nusantara, ada kemungkinan nenek moyang kita berasal dari daerah situ juga. Artinya,
bahasa Batak, Melayu, Minang, Sunda, Jawa, Bugis, dll. berasal dari bahasa-bahasa
yang saya sebut di atas.
Kata
Tanya apa dalam bahasa Melayu diperkirakan
berasal dari bahasa Mon Khmer, avei. Dalam
bahasa Batak Karo, kita akan mendapati bahwa kata ini memiliki bentuk yang lebih mirip dengan asalnya: apai. Lalu, bagaimanakah kata berapa terbentuk? Dari manakah morfem ber-ini berasal. Ternyata, kata berapa merupakan kombinasi dari dua bahasa:
Palaung dan khmer. Dalam bahasa Palaung, kata Tanya jumlah adalah bar mo, sedangkan dalam bahasa Mon Khmer
avei. Oleh orang Melayu, morfem bar (Palaung) dan avei (Mon Khmer) dikombinasikan jadi bar avei, yang oleh lidah Melayu diartikulasikan berapa.
Bayangkan,
berapa jumlah kata yang dimiliki oleh bahasa Melayu, lalu satu per satu kita telusuri
muasalnya.
Dan dalam proses penyebaran bahasa, sudah barang
tentu ada banyak perubahan, baik bentuk maupun makna. Kata bujur dalam bahasa Melayu Banjar berarti ‘benar’, dalam bahasa Batak
berarti ‘panjang’, dalam bahasa Sunda berarti ‘pantat’. Jadi, bujur punya tiga makna: ‘pantat’, ‘panjang’,
‘benar’. Kita tidak bisa men-judge mana
yang paling betul. Makna amat bergantung pada konteks. Dalam bahasa Arab, jilbab adalah ‘baju panjang’, tapi dalam
bahasa Indonesia, sah-sah saja jika ia di maknai ‘kerudung’. Dalam bahasa Yunani,
hipokrit berarti ‘pemain sandiwara’,
tapi dalam bahasa Inggris dan banyak bahasa yang lain yang menyerapnya, sah-sah saja
ia dimaknai ‘munafik’.
Pun
kata reuni. Reuni adalah bentuk yang aneh. Dalam bahasa Inggris, Re- dan uni- sama-sama morfem terikat. Jadi, kemungkinan bahasa Indonesia
menyerapnya dari kata reunion. Dibentuk dari morfem re-dan union. Union artinya ‘menyatu’
atau ‘bersatu’. Reunion artinya ‘menyatu
kembali’ atau ‘bersatu kembali’. Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknainya dengan
‘pertemuan kembali’ (bekas teman sekolah, teman seperjuangan, dsb.). Di luar itu,
kita bisa memaknainya berdasarkan pendapat-pendapat pribadi. Ini sah karena bahasa
bersifat ideografis, bukan nomothetis seperti fisika atau matematika. Di
wilayah ideografis inilah kita akan mendapati suatu kata yang dalam kamus maknanya
sederhana, menjadi rumit. Di sinilah kita akan ketemu dengan pertanyaan-pertanyaan
tentang reuni, “Memangnya menyatu/bersatu apa/siapa?”, “Kenapa harus menyatu/bersatu
kembali?”, “Memangnya kita dulu pernah menyatu/bersatu?”
Di sisi lain, semakin ideografis suatu kata dimaknai, semakin relatiflah nilai kebenarannya.
CAUSE RAMADHAN HAS ALREADY DIED
Hakikat puisi adalah lagu atau musikalitas. Inilah yang membedakannya
dengan genre sastra yang lain. Inilah pula yang membuat puisi karya Aurasinai (Teny
Indah Susanti) yang berjudul “Break the Sky” menjadi juara. Itulah satu-satunya
puisi yang, hemat saya, sangat apik dalam menata muskalitas. Simak saja.
Break the sky
There’s too much cry
Then let it rain
Thus we could find
Where the pain remain
Pada bait pertama tersebut, semua baris berakhir pada bunyi [ai] atau
yang semirip dengan itu, yaitu bunyi [ei] pada kata remain. Dalam istilah teknis, bait tersebut berima sama (a-a-a-a)
atau mengikuti pola syair. Bandingkan misalnya dengan puisi “Rindu Menghadapmu”
karya N Sun berikut.
Tak ada kekal nan abadi
Ketika segala yang bernyawa hidup
Ataupun mati
Hanya padamu abadi tak berani mati
Meski segala binasa
Sekalipun Izra’il tiada
Puisi tersebut berpola terzina, yakni puisi tiga seuntai dengan rima
a-b-a, b-c-b, c-d-c, dan seterusnya. Namun, pada puisi tersebut, rimanya
berpola a-b-a, a-b-b.
Juga bandingkan dengan puisi lorong-lorong karya Emka Asi.
Dalam ini aku berjalan
Di lorong-lorong waktu yang sunyi itu
Biarlah aku berlari untuk satu impian pasti
Impian pasti, impian hakiki
Ah, alangkah tidak musikalnya puisi itu. Memang, pada bait ketiga dan
keempat, rimanya tampak teratur, tetapi hal itu tidak dapat menjadi nilai lebih
sebab puisi adalah totalitas. Cacat yang satu dapat merusak keutuhan (wholeness).
Dari segi musikalitas, puisi Aurasinai tiada banding di antara puisi-puisi
para peserta lainnya. Uniknya lagi, dia menulis dalam bahasa Inggris, sementara
yang lain dalam bahasa Indonesia .
Padahal, mereka yang menulis dalam bahasa Indonesia memiliki peluang lebih
untuk mengeksplorasi bunyi karena bahasa Indonesia secara musikal lebih kaya
daripada bahasa Inggris. Sebagai contoh, kata membawa memiliki banyak varian, seperti menjinjing, mengepit, memikul, menggendong, menjunjung, membimbit, mengetek, mengambin, dan menggalas. Sementara, bahasa Inggris
hanya bring saja.
Yang kedua, puisi karya Aurasinai kaya akan diksi dan imaji. Perhatikan
bait kedua dari puisi tersebut.
Break the sky
Let’s sing the lullaby
Then pull the doorlock
Thus we can block
The nightmare where the mother cooking rocks
“Break the Sky” mengajak/memerintah seseorang untuk memecahkan langit,
sesuatu yang hiperbolis. Dilanjutkan dengan ajakan bernyanyi ninabobo (let’s
sing the lullaby), sesuatu yang lembut. Kemudian, kontradiksi itu berakhir pada
klimaks ajakan mengunci pintu agar tidak didatangi mimpi buruk tentang seorang
ibu yang memasak batu. Wacana “ibu yang memasak batu” merupakan majas kilasan
(alusi) yang mengacu pada peristiwa sejarah tertentu. Semua orang yang
mengetahui sejarah Islam, khususnya khulafa
ar rasyidin, akan langsung mengetahui peristiwa moralis ini. Sungguh,
sebuah imaji yang matang tentang kemiskinan! Bandingkan dengan puisi “Pulang” berikut.
Seperti sayap kupu matanya mengerjap
Tiap detik
Mengusir mimpi-mimpi
Seperti cinta ibu, dipeluk erat kakinya
Menjaga matahari
dari kelam jiwa
Meskipun menawarkan imaji yang lembut tentang kematian, Umi menggunakan
majas perbandingan (simile) yang klise dalam puisinya itu.
Sebenarnya, ada imaji yang tak kalah mengasyikannya ketimbang Break the Sky, yaitu puisi Sri Al
Hidayati yang berjudul “Menanti”.
Aku terpaku menantiMu
Selalu.
Senyum bungakah hatimu
Menjemput ramadhan
Kutunggu,
Kuharap,
Kurindu,
Ramadhan.
Namun sayang, bait kedua mengganggu keasyikan itu. Pasalnya, bait
tersebut memuat wacana formal yang justru dihindari oleh puisi. Alangkah lebih
bernasnya jika puisi itu “diedit” menjadi seperti ini.
Aku terpaku menantiMu
Selalu.
Kutunggu,
Kuharap,
Kurindu
Meski lebih sederhana, puisi tersebut menyajikan sembuah imaji purba
akan kerinduan manusia terhadap Sang Khalik dalam kapasitasnya sebagai manusia,
secara manusiawi, seperti halnya tengah menunggu seseorang yang dicintai. Hal
ini mengingatkan saya pada puisi Amir Hamzah yang berjudul “Padamu Jua”.
Berikut petikannya.
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Ketiga adalah kejujuran.
Puisi adalah kristal kata-kata yang dihasilkan dari dialog kita dengan diri
kita sendiri. Kita berdialog sejujur-jujurnya. Kita berbicara tentang diri kita
terbuka, apa adanya. Puisi mengungkapkan apa yang kita rasakan dan pikirkan
sebenarnya. Dari segi ini, puisi Aurasinai adalah yang paling jujur. Saat puisi
lain menyambut Ramadhan secara optimistik, Sinai justru mengatakan sebaliknya.
Break the sky
Cause Ramadhan already die.
Ia mengatakan dengan tegas bahwa Ramadhan telah mati. Mati? Sungguh,
sebuah metafora yang ekstrem terhadap sesuatu yang justru pantas disucikan dan
disambut gembira. Inilah kenyataan sebenarnya dari apa yang disebut dengan
keberimanan. Keberimanan adalah sebuah proses yang tidak langsung jadi. Tidak karbitan.
Dan tidak dalam paket hemat. Banyak orang takut menghadapi kenyataan seperti
ini karena khawatir dianggap tidak taat, durhaka, dan sebagainya. Namun, Sinai
berani menghadapinya.
Selain Sinai, memang ada puisi Umi yang juga jujur terhadap hal keberimanan
ini. Hal itu tampak dalam puisinya yang berjudul “Tarawih”. Ia bahkan
memaki-maki dirinya seakan menyesali kehadiran Ramadhan.
Benar-benar bodoh
Kenapa tak bisa aku seperti si Saprol
Yang kenyang keluar warung lalu pasang wajah lapar
Atau si damin yang merem melek menghisap lintingan
Saat bedug belum dibunyikan
Semprul
Namun sayang, secara teknis, kualitasnya masih berada di bawah “Break
The Sky”, terutama dari segi penataan wacana yang kurang apik.
Benda-Benda Asing di Rumah Kita.
Globalisasi memang dahsyat. Seiring dengan
menyerbunya produk-produknya ke berbagai bidang dan wilayah, baik produk yang
berupa barang maupun trend atau mode, bertebaranlah kata-kata dan
istilah-istilah asing di berbagai wilayah kegiatan manusia.
Di
lingkungan sekolahan (baca: kampus), dalam acara-acara perkuliahan, seminar,
bedah buku, dan sebagainya, kerap terdengar kalimat-kalimat seperti “Menurut
saya, Anda tidak komprehensif dalam
membahas wacana ini.”, “Saya akan mencoba mengabstraksikan konsep tersebut.”, “Session
berikutnya akan kita simak pemaparan Ibu Mien tentang
transendensi dan imanensi dalam pepatah-pepatah bahasa Sunda.”
Di
lingkungan kantor, perkataan yang kerap terdengar adalah “Saya akan mencoba aware terhadap segala permasalahan
karyawan di sini.”, “Saya harap, planning
itu segera di-follow oleh pihak HRD (Human Resource Departemnet).”, atau “Meeting ini untuk membahas kemungkinan
jenuhnya market oleh produk-produk
kita.”
Di
lingkungan kampus, dapat kita maklumi penggunaan istilah-istilah asing karena
banyak sekali kata-kata serapan yang tidak memiliki padanan yang memadai dalam
bahasa Indonesia .
Di lingkungan kantor, agaknya standar permakluman kita harus diturunkan karena
istilah-istilah asing yang digunakan sebenarnya banyak yang memiliki padanan
yang tepat dalam bahasa Indonesia ,
misalnya aware=peduli, planning=rencana, follow (up)=tindak lanjut, meeting=rapat/pertemuan,
market=pasar (dalam hal ini, yang
dimaksudkan adalah konsumen), dan sebagainya.
Jika
di wilayah kampus dan kantor penggunaan istilah-istilah asing lebih terbatas
karena “penghuni”nya juga terbatas, lain halnya dengan di wilayah rumah.
Wilayah rumah adalah wilayah yang paling banyak dihuni oleh umat manusia,
termasuk “manusia” kantor dan “manusia” kampus. Dengan demikian,
istilah-istilah asingnya pun adalah yang paling popular atau paling banyak
pemakainya. Hal ini disebabkan istilah-istilah asing itu adalah berupa
nama-nama barang hasil teknologi yang kerap digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita telusuri ruangan-ruangan rumah kita dari dapur, sumur, sampai
kasur untuk mendapati benda-benda “asing” apa saja yang berada di sana .
Di
dapur zaman dahulu, orangtua kita menanak nasi secara bertahap. Awalnya,
menggunakan panci. Setelah beras yang di panci masak menjadi nasi setengah jadi
(gigih, dalam bahasa Sunda), kita
menggunakan dandang (langseng, ibid),
yaitu panci yang lebih besar yang di tengahnya dibatasi lempengan aluminium
berlubang-lubang: bagian bawah untuk tempat air dan bagian atasnya untuk
menyimpan gigih hingga nanti menjadi
nasi. Lebih ke belakang lagi, dandangnya berupa panci tinggi dengan bentuk
seperti topi terbalik. Jika memasak di dandang jenis ini, maka gigih harus disimpan di dalam anyaman
bambu berbentuk kerucut yang disebut aseupan.
Tentu saja untuk semua itu diperlukan kompor lengkap dengan minyak tanahnya.
Namun, kini semua itu dapat digantikan fungsinya oleh sebuah benda ajaib
bernama rice cooker. Setelah masak, baik dari langseng maupun dari rice cooker, nasi disimpan di bakul.
Namun, lama kelamaan nasi menjadi dingin. Seiring dengan itu, diciptakanlah
benda ajaib lain untuk menyimpan nasi di mana nasi bisa tetap hangat. Benda itu
bernama rice warmer atau yang lebih terkenal dengan sebutan magic
jar. Tentu beberapa orang merasa repot jika harus memiliki kedua benda
tersebut. Di samping harganya jauh lebih mahal daripada panci, langseng, dan
bakul, mungkin juga karena memakan ruang terlalu banyak. Alhasil, lahirlah
benda yang dapat berfungsi sebagai keduanya, yaitu magic com. Kini, dengan
memasak menggunakan magic com, orang
dapat menanak nasi dan meninggalkannya begitu saja tanpa khawatir gigih menjadi gosong atau kompor
meledak.
Selain
itu, soal air minum, kita pun dimanjakan dengan dispenser. Dengan dispenser, kita dapat membuat kopi,
susu, atau minuman panas lainnya tanpa memasak air terlebih dahulu. Maka,
selain langseng dan bakul, kini giliran termoslah yang tereliminasi.
Sebenarnya,
sebelum benda-benda di atas, telah ada dua benda asing lain yang lumayan jauh
sebelumnya menghuni wilayah dapur ini, sehingga
tampak tak “asing” lagi bagi kita, yakni mixer dan blender.
Mixer digunakan untuk mengaduk
bahan-bahan dasar kue tar (bolu) sehingga menjadi adonan, sedangkan blender adalah poci plastik untuk membuat
jus buah-buahan atau bumbu masakan.
Dari
dapur, kita beranjak ke wilayah sumur. Dahulu, orang menengah ke atas
mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari dengan berlangganan air pada PDAM.
Orang yang kelas menengah memasang pompa tangan. Sedang orang yang di bawah
mereka masih menimba air dari sumur. Sekarang, muncul benda hasil teknologi
yang canggih dan harganya dapat dijangkau oleh banyak kalangan. Benda itu
bernama jet pump. Dengan menggunakan tenaga listrik, ia dapat
mengalirkan/memompa air dari dari sumur langsung ke bak kamar mandi atau
tempat-tempat lain yang kita kehendaki melalui pipa-pipa dan kran air. Kita tak
perlu lagi membayar iuran bulanan ke PDAM, tidak lagi menaik-turunkan gagang
pompa, atau menimba dengan tali karet. Untuk perusahaan dan orang-orang yang
berkecukupan, jet pump yang digunakan
adalah yang dilengkapi dengan penyaring otomatis sehingga walaupun air sumur
mereka kotor, air bersih pula yang mereka nikmati. Biasanya, mereka pun
melengkapinya dengan tangki besar untuk menampung air sehingga tidak perlu
menyalakan listrik setiap kali hendak mengucurkan air.
Di
kamar mandi hotel atau rumah-rumah yang lumayan besar, biasanya terdapat bath
tub, yaitu bak panjang tempat orang berendam. Bath tub biasanya berpasangan dengan shower,
alat untuk menyiram badan dan rambut secara merata. Dengan shower, kemungkinan adanya bekas sabun yang tertinggal di badan
atau bekas sampo yang tertinggal di rambut menjadi lebih kecil. Singkatnya,
badan lebih bersih. Di wilayah ini, gayung tereliminasi.
Dari
sumur, kita melangkah ke wilayah kasur. Wilayah yang paling pribadi ini pun tak
luput dari serbuan benda asing. Kasur sendiri sekarang banyak digantikan oleh spring
bed, tempat tidur yang di bagian dalamnya terdapat per dan bagian
luarnya dari busa empuk dilapisi kain tebal. Dengan menggunakan spring bed, kita tak lagi khawatir kasur
jadi lepek. Tidur pun jadi lebih nyaman karena badan tidak pegal. Spring bed pun biasanya dilengkapi
dengan bed cover, selimut tebal.
Ternyata,
benda-benda asing itu tak terbatas di wilayah sumur, dapur, dan kasur, tetapi
juga hingga ke ruang-ruang yang lain, yakni ruang tamu dan ruang keluarga. Di
rumah orang berada dan di kantor-kantor, biasanya terdapat alat pendingin
ruangan yang disebut AC alias air conditioning. Tak lupa, lantai
di kedua ruangan atau di ruangan kantor-kantor itu pun sekarang sering
dibersihkan dengan alat penyedot debu yang bernama vacuumcleaner.
Selain
yang berada di wilayah yang spesifik tersebut, ada juga benda-benda yang
“lintas ruangan”. Jika air di dispenser
kosong, kita tetap bisa mengonsumsi air panas dengan menggunakan heater,
benda yang bisa mendidihkan air dalam waktu singkat. Ada dua macam heater, yakni yang berupa teko plastik yang di bagian pantatnya
terdapat alat penyambung ke listrik dan yang berupa gagang yang pegangannya
terbuat dari plastik dan ujungnya terbuat dari besi. Heater yang jenis kedua lebih praktis karena bentuknya lebih kecil.
Dengan heater macam begitu, kita
dapat memasak air langsung di cangkir.
Seorang
perempuan berambut panjang biasanya begitu terobsesi pada keindahan rambut atau
setidaknya rambut tetap sehat dan tidak bau. Maka, mereka pun kerap memiliki hair
dryer. Dengan hair dryer,
sehabis keramas, mereka dapat mengeringkan rambutnya dalam waktu yang lebih singkat.
Meskipun
benda-benda itu bermacam bentuk, fungsi, dan berada di berbagai tempat, namun
mereka memiliki satu kelemahan yang sama, yakni tak dapat berfungsi jika
listrik mati.
EDITOR, MARTIR SUNYI PERBUKUAN
Pada zaman dahulu, saya membayangkan tugas editor itu hanyalah mengoreksi naskah sehingga memiliki keterbacaan tinggi. Akan tetapi, pada kemudian hari, setelah saya berkecimpung di dunia tulis menulis, saya menyadari mengoreksi naskah hanyalah satu bagian atau tahap tertentu dalam proses penerbitan. Saat itu, saya menyadari bahwa editor adalah juga konseptor buku yang sedang dieditnya. Jadi, takhanya mengoreksi naskah, tetapi juga menentukan sistematika dan jumlah bab, jumlah subbab, membongkar-pasang bagian-bagian tertentu, merancang kemasan, bahkan hingga menentukan jumlah halaman. Itu secara teknis. Di luar teknis, editor adalah orang yang turut menentukan layak-tidaknya naskah itu terbit, berhubungan dengan administrasi atau sekretaris untuk membuat perjanjian kontrak dengan penulis/pengarang, pengurusan ISBN dan KDT, juga dengan marketing untuk merancang materi-materi promosi, bahkan hingga menjalin kerja sama dengan pihak atau komunitas luar untuk merencanakan pembuatan buku atau acara diskusi buku.
Semakin
hari, saya semakin menyadari. Ternyata, editor adalah kepala atau koordinator dari sebuah tim yang
terlibat dalam proses penerbitan buku. Di dalam tim tersebut, terdapat
setidaknya lima anasir yang terlibat, yaitu editor (penyunting), lay outer (penata letak), ilustrator
(pewajah isi), desainer (perancang desain), dan penulis. Benar, bahkan penulis
pun berada di bawah editor. Akhirnya saya pun menyadari bahwa buku adalah hasil
karya sebuah tim, bukan perseorangan penulis!
Ya, buku adalah sebuah hasil karya tim,
bukan perseorangan penulis. Memang, fungsi buku adalah untuk dibaca, bukan
untuk dikagumi cover-nya, tata
letaknya, atau keterbacaannya. Oleh karena itu, nama penulislah yang tercantum
di bagian cover buku karena
penulislah yang punya hajat dan hasrat untuk menyampaikan pesan kepada pembaca.
Akan tetapi, secara hakiki, buku adalah karya sebuah tim penerbitan karena buku
bukan lagi naskah mentah yang ditulis oleh penulis/pengarang, melainkan sebuah
tulisan yang telah ditata dengan apik, diberi gambar ilustrasi, dan dibikin
bernas bahasanya. Dan tim penerbitan pun sudah cukup tawadhu dan ikhlas dengan
pencantuman nama-nama mereka di lembar KDT saja dengan ukuran font yang kecil
pula, bukan di cover depan seperti
halnya penulis.
Akhirnya, saya ingin menghabisi tulisan
ini dengan adagium yang akrab di telinga orang-orang di dunia perbukuan:
jika buku bagus, penulislah yang
disanjung;
jika buku buruk, editorlah yang dipancung!
Menyoal Rumah Tangga Syariah
Pernikahan, sebagaimana hal-hal lainnya dalam
kehidupan, adalah sebuah wacana dan peristiwa. Sebagai wacana, ia diungkapkan,
ditafsirkan, dan didiskusikan. Sebagai peristiwa, ia disikapi; dilakukan atau
dihindari.
Perbedaan
setiap orang dalam memaknai dan menjalani kehidupan turut menciptakan pelbagai
tafsir dan sikap terhadap pernikahan. Ada
yang memandang bahwa pernikahan itu adalah peristiwa keagamaan yang sangat
penting sehingga wajib dilaksanakan. Ada
yang memandangnya sebagai peristiwa sosial biasa sehingga lazim dilakukan. Ada yang memandangnya
sebagai pilihan hidup seseorang sehingga bisa dilaksanakan dan bisa juga tidak.
Ada juga yang
memandangnya sebagai institusi yang mengerangkeng kebebasan individu sehingga
harus dihindari. Dengan adanya perbedaan tafsir dan penyikapan tersebut, sudah
barang tentu kerap terjadi perbenturan pandangan. Perbenturan itu terasa kian
keras dan “semarak” tatkala ada pihak yang berupaya menjadikan pernikahan
sebagai hal yang diatur secara legal-formal disertai sanksi bagi para
pelanggarnya. Sudah barang tentu, akan ada reaksi dari pihak lain yang berbeda
pandangan. Takjarang, aksi-reaksi itu disertai tuduhan dan penghakiman, bahkan
intimidasi dan diskriminasi.
Buku-buku
semacam itu melimpah jumlahnya, terutama buku-buku yang bersifat tuntunan
berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam Islam (fiqh). Pada tanggal 9 November
2006 lalu, sebuah buku yang berisi tentang tuntunan berumah tangga mendapatkan
penghargaan sebagai buku berbahasa Indonesia
terbaik dari ikatan penerbit indonesia
dan pusat bahasa departemen pendidikan nasional. Buku itu berjudul Menjadi Pasangan Paling Berbahagia; 5
Prinsip Cantik Menghadirkan Kebahagiaan dalam Rumah Tangga. Isinya
memaparkan prinsip-prinsip yang mesti dimiliki dan dilakukan oleh para pelaku
rumah tangga agar mencapai apa yang menjadi tujuan ideal rumah tangga:
keharmonisan dan kebahagiaan. Kelima prinsip itu didasarkan pada nilai-nilai
Islam. Barangkali perlu ditambahkan: Islam di sini adalah Islam yang dianut
secara mainstream. Artinya, segala
wacana, baik berupa pokok materi, dalil, maupun argumentasi yang ada di
dalamnya benar-benar berdasarkan pemahaman akan Islam secara umum. Menariknya,
nama Cahyadi Takariawan, sang penulis, selama ini dikenal hanya oleh komunitas
Islam tertentu, tidak secara umum.
Buku ini terdiri atas enam bab. Setiap bab
membahas setiap prinsip yang telah disebutkan di atas. Karena itu, setiap bab
diberi nama “prinsip”, bukan “bab” atau “bagian” seperti lazimnya buku-buku
lain. Dengan sendirinya, setiap judul bab merupakan poin demi poin prinsip itu sendiri.
Penulis
membukanya dengan pendahuluan yang berjudul awal itu penting, namun proses
lebih penting. Ada
beberapa hal menarik di sini. Pertama, penulis menyebutkan “kehidupan rumah
tangga sama halnya dengan sebuah organisasi, perusahaan, atau bahkan sebuah
negara. Ia memerlukan prinsip-prinsip dasar untuk membentuk dan menjaganya. Dua
kata yang terdapat dalam kalimat kedua itu, yakni kata “membentuk” dan
“menjaganya” menjadi kata kunci yang hendak menjelaskan bahwa isi buku ini
secara keseluruhan hendak berbicara tentang dua tahap penting dalam membangun
rumah tangga, yaitu awal dan proses. Penulis menekankan bahwa tahap awal dalam
pernikahan itu sangat penting karena nantinya akan menentukan teguh tidaknya
perjalanan sebuah rumah tangga. Kalaupun terjadi disorientasi dan
penyimpangan-penyimpangan, akan mudah bagi pelaku rumah tangga untuk segera
mengembalikannya pada jalur yang benar karena disorientasi dan
penyimpangan-penyimpangan itu tidaklah terlampau jauh. Secara kasuistik, kedua
tahap ini kerap diabaikan oleh banyak pelaku rumah tangga. Contoh-contoh kasus
tersebut sangat banyak; bertebaran di hampir semua bab.
Kedua
tahap ini, baik awal maupun proses, ditentukan oleh ada tidaknya
prinsip-prinsip yang fundamental. Prinsip-prinsip fundamental ini lahir dari
cara pandang, adat, dan agama. Maka, setiap prinsip itu berbeda yang dengan itu
melahirkan pola dan konsep keluarga yang berbeda. Penulis menyebutkan bahwa
orang Barat, umat kristiani, umat Budha, masyarakat Batak, Aceh, Jawa, Bugis,
dan Papua itu memiliki perspektif yang
khas tentang keluarga. Di sinilah penulis mulai menawarkan prinsip-prinsip
fundamental berdasarkan nilai-nilai Islam. Sayangnya, penulis tidak menyebutkan
contoh seperti apakah perspektif orang Barat, umat Kristiani, umat Budha,
masyarakat Batak, Aceh, Jawa, Bugis, dan Papua itu tentang pernikahan sehingga
pembaca tidak mendapatkan perbandingan yang akan menunjukkan bahwa prinsip
Islamlah yang terbaik.
Berdasarkan
argumentasi penulis, tahap awal itu relatif lebih “mudah”. Sementara, tahap
proses lebih sulit karena permasalahan yang dihadapi amat kompleks dan
seringkali takterduga. Awal yang baik dan manajemen yang baik dalam menjaga
perjalanan rumah tangga menjadi kunci tercapainya keharmonisan rumah tangga.
Dua kunci inilah yang kerap diabaikan.
Rumah
tangga Islami atau syariah diawali dengan motivasi suci. Motivasi suci inilah
yang menjadi prinsip “cantik” pertama dari kelima prinsip yang ditawarkan
penulis. Motivasi suci ini kemudian dijabarkan lagi ke dalam beberapa poin, di
antaranya niat untuk beribadah, keikhlasan, mengenali motivasi dasar, serta
kiat-kita menjaga agar motivasi dasar dan suci itu tetap menyala.
Setelah
memancangkan motivasi suci, prinsip kedua yang harus dipegang adalah bersama
Allah di dalam rumah tangga. Penulis amat menekankan pentingnya pendekatan diri
kepada Allah (taqarrub ilallah) dan berpegang teguh kepadanya karena hal itu
akan melahirkan faktor-faktor yang dapat menjaga keutuhan rumah tangga, di
antaranya mendapatkan ketenangan, mendapatkan kebahagiaan hakiki, mendapatkan
kemudahan menyelesaikan urusan, menghindarkan keluarga dari penyimpangan,
menghindarkan keluarga dari kerusakan, dan cepat kembali kepada kebaikan (jika
di antara anggota keluarga ada yang melakukan keburukan/penyimpangan). Selain
itu, di bagian ini, penulis juga memerinci gejala-gejala yang menunjukkan
sebuah rumah tangga jauh dari Allah yang merupakan kebalikan dari poin-poin
tersebut di atas.
Jika
prinsip pertama dan kedua masih merupakan petunjuk pelaksana, prinsip ketiga sudah
mulai menyangkut petunjuk teknis. Prinsip tersebut adalah orientasi syariah.
penulis mengawalinya dengan ilustrasi yang menggambarkan kekeliruan banyak
orang terhadap syariah, yakni percakapan (pertengkaran) sepasang suami istri
gara-gara secara tiba-tiba sang suami memberitahukan kepada sang istri bahwa
dirinya baru saja telah menikah lagi dengan seorang janda. Ketika istrinya
memprotes atas poligami yang dilakukan secara sepihak tersebut, sang suami
malah menuduh bahwa istrinya itu telah menolak syariah. Itulah ilustrasi yang
menggambarkan bahwa orang kerap mencerap poin demi poin dalam syariah secara
hitam di atas putih, tekstual, sembari melupakan nilai kontekstual yang
berkaitan dengan tujuan (maqashid). Akibatnya, alih-alih menerapkan syariah, mereka
malah melakukan hal yang bertentangan dengan syariah. Dalam hal ini, penulis
mengutip ungkapan yang bagus dari Ibnul Qayyim yang salah satu penggalannya
berbunyi, “Setiap persoalan yang tidak melahirkan rahmat, keadilan, maslahat,
dan hikmat tidak dapat menjadi bagian dari syariah, sekalipun dengan cara
takwil.”
Intinya,
dalam kaitannya dengan orientasi syariah, penulis mengajukan dua hal penting:
pertama, syariah harus dipahami secara benar dan menyeluruh dan kedua adalah
bahwa syariah memiliki tujuan-tujuan mulia, yakni menjaga fitrah kemanusiaan,
mengarahkan (kita) kepada kemaslahatan, menghindarkan (diri) dari keburukan dan
kerusakan, memberikan kemudahan dan jalar keluan, dan memiliki dimensi ukhrawi
(transenden). Bab ini disertai ilustrasi yang menggambarkan sebuah rumah tangga
yang berorientasi syariah tetapi tidak paham syariah, berorientasi syariah dan
paham akan syariah, dan yang tidak berorientasi syariah sama sekali. Bagian
akhir bab ini ditutup dengan beberapa poin manfaat berumah tangga dengan
orientasi syariah bagi para pelakunya, yakni mengerti batas-batas nilai,
terhindar dari sikap ekstrem, dan mampu bersikap bijak dan tepat.
Setelah orientasi syariah telah dirujuk,
prinsip berikutnya yang harus diterapkan adalah prinsip keadilan. Dalam konteks
rumah tangga syariah, sikap adil terbagi atas empat, yakni adil dalam pembagian
peran, dalam memberikan penilaian, dalam menerapkan aturan, dan dalam
memberikan penghargaan dan sanksi. Bagian ini disertai kiat-kiat agar para
pelaku rumah tangga bisa berbuat adil.
Prinsip
terakhir adalah musyawarah. Prinsip kelima ini dapat disebut yang paling
kompleks karena menyangkut hampir seluruh aspek dalam kehidupan rumah tangga.
Dengan
melihat anatomi materi tersebut di atas, buku tersebut dapat menjadi rujukan
yang bagus bagi mereka yang mendambakan rumah tangga ideal menurut pandangan
Islam. Selain prinsip-prinsip fundamental yang dijabarkan secara sistematis
namun sederhana, dalam buku ini terdapat banyak analogi dari kisah-kisah klasik
liturgis Islam, seperti kisah tiga lelaki yang terjebak dalam goa dan berusaha
menggeser batu penutup pintu goa dengan sebuah cara bernama tawasul atau berdoa
sembari menyebut amal saleh yang pernah dilakukan. Si penulis mengumpamakan
keterjebakan dalam goa ini sebagai rumah tangga yang terjebak dalam masalah
yang amat besar.
Sebagai
buku yang mendapatkan penghargaan sebagai buku berbahasa indonesia
terbaik 2006, Anda tidak perlu khawatir akan mendapatkan kalimat-kalimat yang
ruwet, yang sulit dicerna. Bahasa buku ini amat sederhana. Tidak ada
istilah-istilah teknis yang asing dan membingungkan.
Ilustrasi-ilustrasi
kehidupan keseharian antara suami dan istri yang bertebaran di setiap bab ini
menambah aspek konsultatif dari buku ini. pembaca seakan sedang bertanya langsung
kepada penulis dan penulis pun langsung menjawabnya. Apalagi
penjabaran-penjabaran setiap prinsip itu merupakan hasil aplikasi yang real dan
sederhana dari apa yang disebut syariah. Inilah nilai tambah lain dari buku ini
yang merupakan konsekuensi logis atas salah satu profesi penulis sebagai
konsultan pernikahan.
Meski
demikian, banyaknya ilustrasi tersebut tidak selamanya menjadi penerang yang
baik bagi wacana yang hendak diungkapkan. Seperti terjadi pada bagian tentang
prinsip pertama. Penulis menganalogikan keterjebakan tiga lelaki dalam goa
dengan situasi rumah tangga yang sedang dirundung masalah besar. Goa yang gelap dan pengap diibaratkan masalah rumah
tangga, yakni perselingkuhan sang suami dan kebablasannya sang istri dalam
melakoni karier sehingga melupakan kewajiban rumah tangga (hal. 17-23). Namun,
penulis berhenti sampai di sini. Ia tidak menganalogikan tawasul-nya
tiga lelaki dalam goa tersebut dengan salah satu contoh solusi konkret dalam
menyelesaikan permasalahan rumah tangganya sehingga wacana tersebut mengambang.
Selain itu, banyak juga contoh kisah rumah tangga klasik zaman nabi dan para
sahabat yang terlampau klise. Mengapa tidak penulis mengambil contoh kehidupan
rumah tangga orang-orang besar lain yang selama ini hanya terkenal sebagai
tokoh politik, ahli fiqih, militer, atau politik, seperti Abdullah bin Abdul
Azis, Salahuddin Al Ayubi, Imam Bukhari, dan Ibnu Sina. Tak ada salahnya juga
jika mengambil contoh dari para pemimpin yang bukan dari khazanah sejarah Islam
yang barangkali akan lebih terasa “manusiawi”.
Dalam
beberapa bagian, ada subjektivitas yang terlalu menonjol dari penulis.
Misalnya, ada ilustrasi yang deskriptif dari perjalanan rumah tangga. Awalnya
mulus, tapi lama-kelamaan sering diwarnai pertengkaran. Kemudian, penulis
memberikan komentar, “Lihatlah, mereka tidak memiliki usaha yang serius untuk
mengatasi konflik dalam rumah tangga.” (hal. 32). Padahal, ilustrasinya sendiri
amat singkat dan deskriptif; tak disebutkan contoh konfliknya dan
tidak disebutkan hal-hal yang menunjukkan bahwa pasangan suami istri tersebut
“tidak memiliki usaha yang serius”.
Pada
bagian lain, ada ilustrasi yang menggambarkan kesetiaan seorang suami kepada
istrinya hingga ketika istrinya mengalami penyakit jiwa, sang suami tetap
bersikukuh akan mendampinginya. Begitu ilsutrasi itu selesai, penulis
berkomentar dengan menggunakan interjeksi yang berlebihan:
Subhanallah…!
Masyaallah…!
Alhamdulillah…!
Allahu
akbar…!
Hal ini diulang hingga dua kali (hal 45).
Terakhir,
ada beberapa kalimat, terutama kalimat yang menjadi subjudul, yang secara
bahasa memang benar, tetapi tidak baik. Misalnya, syariah mengarahkan kepada
kemaslahatan (hal. 126). Tidak ada objek dalam kalimat itu, sedangkan
berdasarkan kata kerja (verba) yang terdapat di dalamnya, yaitu kata
mengarahkan, kalimat tersebut merupakan jenis kalimat aktif transitif yang
harus mengahdirkan objek. Contoh lainnya adalah kalimat syariah menghindarkan
dari keburukan dan kerusakan (hal.134). Bisa saja pembaca sudah mengerti apa
objek yang lesap tersebut, yakni keluarga atau diri atau kita. namun, sebagai
produk intelektual, mestinya sebuah buku harus ditata dengan bahasa yang tidak
hanya benar, tetapi juga baik. Apalagi mengingat buku tersebut dinobatkan
sebagai Buku Berbahasa Indonesia Terbaik 2006 oleh IKAPI dan Pusat Bahasa
Depdiknas, dua institusi yang memang kredibel dalam masalah kebahasaan dan
perbukuan.
Langganan:
Komentar (Atom)






