Pada zaman dahulu, saya membayangkan tugas editor itu hanyalah mengoreksi naskah sehingga memiliki keterbacaan tinggi. Akan tetapi, pada kemudian hari, setelah saya berkecimpung di dunia tulis menulis, saya menyadari mengoreksi naskah hanyalah satu bagian atau tahap tertentu dalam proses penerbitan. Saat itu, saya menyadari bahwa editor adalah juga konseptor buku yang sedang dieditnya. Jadi, takhanya mengoreksi naskah, tetapi juga menentukan sistematika dan jumlah bab, jumlah subbab, membongkar-pasang bagian-bagian tertentu, merancang kemasan, bahkan hingga menentukan jumlah halaman. Itu secara teknis. Di luar teknis, editor adalah orang yang turut menentukan layak-tidaknya naskah itu terbit, berhubungan dengan administrasi atau sekretaris untuk membuat perjanjian kontrak dengan penulis/pengarang, pengurusan ISBN dan KDT, juga dengan marketing untuk merancang materi-materi promosi, bahkan hingga menjalin kerja sama dengan pihak atau komunitas luar untuk merencanakan pembuatan buku atau acara diskusi buku.
Semakin
hari, saya semakin menyadari. Ternyata, editor adalah kepala atau koordinator dari sebuah tim yang
terlibat dalam proses penerbitan buku. Di dalam tim tersebut, terdapat
setidaknya lima anasir yang terlibat, yaitu editor (penyunting), lay outer (penata letak), ilustrator
(pewajah isi), desainer (perancang desain), dan penulis. Benar, bahkan penulis
pun berada di bawah editor. Akhirnya saya pun menyadari bahwa buku adalah hasil
karya sebuah tim, bukan perseorangan penulis!
Ya, buku adalah sebuah hasil karya tim,
bukan perseorangan penulis. Memang, fungsi buku adalah untuk dibaca, bukan
untuk dikagumi cover-nya, tata
letaknya, atau keterbacaannya. Oleh karena itu, nama penulislah yang tercantum
di bagian cover buku karena
penulislah yang punya hajat dan hasrat untuk menyampaikan pesan kepada pembaca.
Akan tetapi, secara hakiki, buku adalah karya sebuah tim penerbitan karena buku
bukan lagi naskah mentah yang ditulis oleh penulis/pengarang, melainkan sebuah
tulisan yang telah ditata dengan apik, diberi gambar ilustrasi, dan dibikin
bernas bahasanya. Dan tim penerbitan pun sudah cukup tawadhu dan ikhlas dengan
pencantuman nama-nama mereka di lembar KDT saja dengan ukuran font yang kecil
pula, bukan di cover depan seperti
halnya penulis.
Akhirnya, saya ingin menghabisi tulisan
ini dengan adagium yang akrab di telinga orang-orang di dunia perbukuan:
jika buku bagus, penulislah yang
disanjung;
jika buku buruk, editorlah yang dipancung!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar