Selasa, 19 Desember 2017

Benda-Benda Asing di Rumah Kita.



Globalisasi memang dahsyat. Seiring dengan menyerbunya produk-produknya ke berbagai bidang dan wilayah, baik produk yang berupa barang maupun trend atau mode, bertebaranlah kata-kata dan istilah-istilah asing di berbagai wilayah kegiatan manusia.
            Di lingkungan sekolahan (baca: kampus), dalam acara-acara perkuliahan, seminar, bedah buku, dan sebagainya, kerap terdengar kalimat-kalimat seperti “Menurut saya, Anda tidak komprehensif dalam membahas wacana ini.”, “Saya akan mencoba mengabstraksikan konsep tersebut.”, “Session berikutnya akan kita simak pemaparan Ibu Mien tentang transendensi dan imanensi dalam pepatah-pepatah bahasa Sunda.”
            Di lingkungan kantor, perkataan yang kerap terdengar adalah “Saya akan mencoba aware terhadap segala permasalahan karyawan di sini.”, “Saya harap, planning itu segera di-follow oleh pihak HRD (Human Resource Departemnet).”, atau “Meeting ini untuk membahas kemungkinan jenuhnya market oleh produk-produk kita.”
            Di lingkungan kampus, dapat kita maklumi penggunaan istilah-istilah asing karena banyak sekali kata-kata serapan yang tidak memiliki padanan yang memadai dalam bahasa Indonesia. Di lingkungan kantor, agaknya standar permakluman kita harus diturunkan karena istilah-istilah asing yang digunakan sebenarnya banyak yang memiliki padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia, misalnya aware=peduli, planning=rencana, follow (up)=tindak lanjut, meeting=rapat/pertemuan, market=pasar (dalam hal ini, yang dimaksudkan adalah konsumen), dan sebagainya.
            Jika di wilayah kampus dan kantor penggunaan istilah-istilah asing lebih terbatas karena “penghuni”nya juga terbatas, lain halnya dengan di wilayah rumah. Wilayah rumah adalah wilayah yang paling banyak dihuni oleh umat manusia, termasuk “manusia” kantor dan “manusia” kampus. Dengan demikian, istilah-istilah asingnya pun adalah yang paling popular atau paling banyak pemakainya. Hal ini disebabkan istilah-istilah asing itu adalah berupa nama-nama barang hasil teknologi yang kerap digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita telusuri ruangan-ruangan rumah kita dari dapur, sumur, sampai kasur untuk mendapati benda-benda “asing” apa saja yang berada di sana.
            Di dapur zaman dahulu, orangtua kita menanak nasi secara bertahap. Awalnya, menggunakan panci. Setelah beras yang di panci masak menjadi nasi setengah jadi (gigih, dalam bahasa Sunda), kita menggunakan dandang (langseng, ibid), yaitu panci yang lebih besar yang di tengahnya dibatasi lempengan aluminium berlubang-lubang: bagian bawah untuk tempat air dan bagian atasnya untuk menyimpan gigih hingga nanti menjadi nasi. Lebih ke belakang lagi, dandangnya berupa panci tinggi dengan bentuk seperti topi terbalik. Jika memasak di dandang jenis ini, maka gigih harus disimpan di dalam anyaman bambu berbentuk kerucut yang disebut aseupan. Tentu saja untuk semua itu diperlukan kompor lengkap dengan minyak tanahnya. Namun, kini semua itu dapat digantikan fungsinya oleh sebuah benda ajaib bernama rice cooker. Setelah masak, baik dari langseng maupun dari rice cooker, nasi disimpan di bakul. Namun, lama kelamaan nasi menjadi dingin. Seiring dengan itu, diciptakanlah benda ajaib lain untuk menyimpan nasi di mana nasi bisa tetap hangat. Benda itu bernama rice warmer atau yang lebih terkenal dengan sebutan magic jar. Tentu beberapa orang merasa repot jika harus memiliki kedua benda tersebut. Di samping harganya jauh lebih mahal daripada panci, langseng, dan bakul, mungkin juga karena memakan ruang terlalu banyak. Alhasil, lahirlah benda yang dapat berfungsi sebagai keduanya, yaitu magic com. Kini, dengan memasak menggunakan magic com, orang dapat menanak nasi dan meninggalkannya begitu saja tanpa khawatir gigih menjadi gosong atau kompor meledak.
            Selain itu, soal air minum, kita pun dimanjakan dengan dispenser. Dengan dispenser, kita dapat membuat kopi, susu, atau minuman panas lainnya tanpa memasak air terlebih dahulu. Maka, selain langseng dan bakul, kini giliran termoslah yang tereliminasi.
            Sebenarnya, sebelum benda-benda di atas, telah ada dua benda asing lain yang lumayan jauh sebelumnya menghuni wilayah dapur ini, sehingga  tampak tak “asing” lagi bagi kita, yakni mixer dan blender. Mixer digunakan untuk mengaduk bahan-bahan dasar kue tar (bolu) sehingga menjadi adonan, sedangkan blender adalah poci plastik untuk membuat jus buah-buahan atau bumbu masakan.
            Dari dapur, kita beranjak ke wilayah sumur. Dahulu, orang menengah ke atas mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari dengan berlangganan air pada PDAM. Orang yang kelas menengah memasang pompa tangan. Sedang orang yang di bawah mereka masih menimba air dari sumur. Sekarang, muncul benda hasil teknologi yang canggih dan harganya dapat dijangkau oleh banyak kalangan. Benda itu bernama jet pump. Dengan menggunakan tenaga listrik, ia dapat mengalirkan/memompa air dari dari sumur langsung ke bak kamar mandi atau tempat-tempat lain yang kita kehendaki melalui pipa-pipa dan kran air. Kita tak perlu lagi membayar iuran bulanan ke PDAM, tidak lagi menaik-turunkan gagang pompa, atau menimba dengan tali karet. Untuk perusahaan dan orang-orang yang berkecukupan, jet pump yang digunakan adalah yang dilengkapi dengan penyaring otomatis sehingga walaupun air sumur mereka kotor, air bersih pula yang mereka nikmati. Biasanya, mereka pun melengkapinya dengan tangki besar untuk menampung air sehingga tidak perlu menyalakan listrik setiap kali hendak mengucurkan air.
            Di kamar mandi hotel atau rumah-rumah yang lumayan besar, biasanya terdapat bath tub, yaitu bak panjang tempat orang berendam. Bath tub biasanya berpasangan dengan shower, alat untuk menyiram badan dan rambut secara merata. Dengan shower, kemungkinan adanya bekas sabun yang tertinggal di badan atau bekas sampo yang tertinggal di rambut menjadi lebih kecil. Singkatnya, badan lebih bersih. Di wilayah ini, gayung tereliminasi.
            Dari sumur, kita melangkah ke wilayah kasur. Wilayah yang paling pribadi ini pun tak luput dari serbuan benda asing. Kasur sendiri sekarang banyak digantikan oleh spring bed, tempat tidur yang di bagian dalamnya terdapat per dan bagian luarnya dari busa empuk dilapisi kain tebal. Dengan menggunakan spring bed, kita tak lagi khawatir kasur jadi lepek. Tidur pun jadi lebih nyaman karena badan tidak pegal. Spring bed pun biasanya dilengkapi dengan bed cover, selimut tebal.
            Ternyata, benda-benda asing itu tak terbatas di wilayah sumur, dapur, dan kasur, tetapi juga hingga ke ruang-ruang yang lain, yakni ruang tamu dan ruang keluarga. Di rumah orang berada dan di kantor-kantor, biasanya terdapat alat pendingin ruangan yang disebut AC alias air conditioning. Tak lupa, lantai di kedua ruangan atau di ruangan kantor-kantor itu pun sekarang sering dibersihkan dengan alat penyedot debu yang bernama vacuumcleaner.
            Selain yang berada di wilayah yang spesifik tersebut, ada juga benda-benda yang “lintas ruangan”. Jika air di dispenser kosong, kita tetap bisa mengonsumsi air panas dengan menggunakan heater, benda yang bisa mendidihkan air dalam waktu singkat. Ada dua macam heater, yakni yang berupa teko plastik yang di bagian pantatnya terdapat alat penyambung ke listrik dan yang berupa gagang yang pegangannya terbuat dari plastik dan ujungnya terbuat dari besi. Heater yang jenis kedua lebih praktis karena bentuknya lebih kecil. Dengan heater macam begitu, kita dapat memasak air langsung di cangkir.
            Seorang perempuan berambut panjang biasanya begitu terobsesi pada keindahan rambut atau setidaknya rambut tetap sehat dan tidak bau. Maka, mereka pun kerap memiliki hair dryer. Dengan hair dryer, sehabis keramas, mereka dapat mengeringkan rambutnya dalam waktu yang lebih singkat.
            Meskipun benda-benda itu bermacam bentuk, fungsi, dan berada di berbagai tempat, namun mereka memiliki satu kelemahan yang sama, yakni tak dapat berfungsi jika listrik mati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar