Globalisasi memang dahsyat. Seiring dengan
menyerbunya produk-produknya ke berbagai bidang dan wilayah, baik produk yang
berupa barang maupun trend atau mode, bertebaranlah kata-kata dan
istilah-istilah asing di berbagai wilayah kegiatan manusia.
Di
lingkungan sekolahan (baca: kampus), dalam acara-acara perkuliahan, seminar,
bedah buku, dan sebagainya, kerap terdengar kalimat-kalimat seperti “Menurut
saya, Anda tidak komprehensif dalam
membahas wacana ini.”, “Saya akan mencoba mengabstraksikan konsep tersebut.”, “Session
berikutnya akan kita simak pemaparan Ibu Mien tentang
transendensi dan imanensi dalam pepatah-pepatah bahasa Sunda.”
Di
lingkungan kantor, perkataan yang kerap terdengar adalah “Saya akan mencoba aware terhadap segala permasalahan
karyawan di sini.”, “Saya harap, planning
itu segera di-follow oleh pihak HRD (Human Resource Departemnet).”, atau “Meeting ini untuk membahas kemungkinan
jenuhnya market oleh produk-produk
kita.”
Di
lingkungan kampus, dapat kita maklumi penggunaan istilah-istilah asing karena
banyak sekali kata-kata serapan yang tidak memiliki padanan yang memadai dalam
bahasa Indonesia .
Di lingkungan kantor, agaknya standar permakluman kita harus diturunkan karena
istilah-istilah asing yang digunakan sebenarnya banyak yang memiliki padanan
yang tepat dalam bahasa Indonesia ,
misalnya aware=peduli, planning=rencana, follow (up)=tindak lanjut, meeting=rapat/pertemuan,
market=pasar (dalam hal ini, yang
dimaksudkan adalah konsumen), dan sebagainya.
Jika
di wilayah kampus dan kantor penggunaan istilah-istilah asing lebih terbatas
karena “penghuni”nya juga terbatas, lain halnya dengan di wilayah rumah.
Wilayah rumah adalah wilayah yang paling banyak dihuni oleh umat manusia,
termasuk “manusia” kantor dan “manusia” kampus. Dengan demikian,
istilah-istilah asingnya pun adalah yang paling popular atau paling banyak
pemakainya. Hal ini disebabkan istilah-istilah asing itu adalah berupa
nama-nama barang hasil teknologi yang kerap digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita telusuri ruangan-ruangan rumah kita dari dapur, sumur, sampai
kasur untuk mendapati benda-benda “asing” apa saja yang berada di sana .
Di
dapur zaman dahulu, orangtua kita menanak nasi secara bertahap. Awalnya,
menggunakan panci. Setelah beras yang di panci masak menjadi nasi setengah jadi
(gigih, dalam bahasa Sunda), kita
menggunakan dandang (langseng, ibid),
yaitu panci yang lebih besar yang di tengahnya dibatasi lempengan aluminium
berlubang-lubang: bagian bawah untuk tempat air dan bagian atasnya untuk
menyimpan gigih hingga nanti menjadi
nasi. Lebih ke belakang lagi, dandangnya berupa panci tinggi dengan bentuk
seperti topi terbalik. Jika memasak di dandang jenis ini, maka gigih harus disimpan di dalam anyaman
bambu berbentuk kerucut yang disebut aseupan.
Tentu saja untuk semua itu diperlukan kompor lengkap dengan minyak tanahnya.
Namun, kini semua itu dapat digantikan fungsinya oleh sebuah benda ajaib
bernama rice cooker. Setelah masak, baik dari langseng maupun dari rice cooker, nasi disimpan di bakul.
Namun, lama kelamaan nasi menjadi dingin. Seiring dengan itu, diciptakanlah
benda ajaib lain untuk menyimpan nasi di mana nasi bisa tetap hangat. Benda itu
bernama rice warmer atau yang lebih terkenal dengan sebutan magic
jar. Tentu beberapa orang merasa repot jika harus memiliki kedua benda
tersebut. Di samping harganya jauh lebih mahal daripada panci, langseng, dan
bakul, mungkin juga karena memakan ruang terlalu banyak. Alhasil, lahirlah
benda yang dapat berfungsi sebagai keduanya, yaitu magic com. Kini, dengan
memasak menggunakan magic com, orang
dapat menanak nasi dan meninggalkannya begitu saja tanpa khawatir gigih menjadi gosong atau kompor
meledak.
Selain
itu, soal air minum, kita pun dimanjakan dengan dispenser. Dengan dispenser, kita dapat membuat kopi,
susu, atau minuman panas lainnya tanpa memasak air terlebih dahulu. Maka,
selain langseng dan bakul, kini giliran termoslah yang tereliminasi.
Sebenarnya,
sebelum benda-benda di atas, telah ada dua benda asing lain yang lumayan jauh
sebelumnya menghuni wilayah dapur ini, sehingga
tampak tak “asing” lagi bagi kita, yakni mixer dan blender.
Mixer digunakan untuk mengaduk
bahan-bahan dasar kue tar (bolu) sehingga menjadi adonan, sedangkan blender adalah poci plastik untuk membuat
jus buah-buahan atau bumbu masakan.
Dari
dapur, kita beranjak ke wilayah sumur. Dahulu, orang menengah ke atas
mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari dengan berlangganan air pada PDAM.
Orang yang kelas menengah memasang pompa tangan. Sedang orang yang di bawah
mereka masih menimba air dari sumur. Sekarang, muncul benda hasil teknologi
yang canggih dan harganya dapat dijangkau oleh banyak kalangan. Benda itu
bernama jet pump. Dengan menggunakan tenaga listrik, ia dapat
mengalirkan/memompa air dari dari sumur langsung ke bak kamar mandi atau
tempat-tempat lain yang kita kehendaki melalui pipa-pipa dan kran air. Kita tak
perlu lagi membayar iuran bulanan ke PDAM, tidak lagi menaik-turunkan gagang
pompa, atau menimba dengan tali karet. Untuk perusahaan dan orang-orang yang
berkecukupan, jet pump yang digunakan
adalah yang dilengkapi dengan penyaring otomatis sehingga walaupun air sumur
mereka kotor, air bersih pula yang mereka nikmati. Biasanya, mereka pun
melengkapinya dengan tangki besar untuk menampung air sehingga tidak perlu
menyalakan listrik setiap kali hendak mengucurkan air.
Di
kamar mandi hotel atau rumah-rumah yang lumayan besar, biasanya terdapat bath
tub, yaitu bak panjang tempat orang berendam. Bath tub biasanya berpasangan dengan shower,
alat untuk menyiram badan dan rambut secara merata. Dengan shower, kemungkinan adanya bekas sabun yang tertinggal di badan
atau bekas sampo yang tertinggal di rambut menjadi lebih kecil. Singkatnya,
badan lebih bersih. Di wilayah ini, gayung tereliminasi.
Dari
sumur, kita melangkah ke wilayah kasur. Wilayah yang paling pribadi ini pun tak
luput dari serbuan benda asing. Kasur sendiri sekarang banyak digantikan oleh spring
bed, tempat tidur yang di bagian dalamnya terdapat per dan bagian
luarnya dari busa empuk dilapisi kain tebal. Dengan menggunakan spring bed, kita tak lagi khawatir kasur
jadi lepek. Tidur pun jadi lebih nyaman karena badan tidak pegal. Spring bed pun biasanya dilengkapi
dengan bed cover, selimut tebal.
Ternyata,
benda-benda asing itu tak terbatas di wilayah sumur, dapur, dan kasur, tetapi
juga hingga ke ruang-ruang yang lain, yakni ruang tamu dan ruang keluarga. Di
rumah orang berada dan di kantor-kantor, biasanya terdapat alat pendingin
ruangan yang disebut AC alias air conditioning. Tak lupa, lantai
di kedua ruangan atau di ruangan kantor-kantor itu pun sekarang sering
dibersihkan dengan alat penyedot debu yang bernama vacuumcleaner.
Selain
yang berada di wilayah yang spesifik tersebut, ada juga benda-benda yang
“lintas ruangan”. Jika air di dispenser
kosong, kita tetap bisa mengonsumsi air panas dengan menggunakan heater,
benda yang bisa mendidihkan air dalam waktu singkat. Ada dua macam heater, yakni yang berupa teko plastik yang di bagian pantatnya
terdapat alat penyambung ke listrik dan yang berupa gagang yang pegangannya
terbuat dari plastik dan ujungnya terbuat dari besi. Heater yang jenis kedua lebih praktis karena bentuknya lebih kecil.
Dengan heater macam begitu, kita
dapat memasak air langsung di cangkir.
Seorang
perempuan berambut panjang biasanya begitu terobsesi pada keindahan rambut atau
setidaknya rambut tetap sehat dan tidak bau. Maka, mereka pun kerap memiliki hair
dryer. Dengan hair dryer,
sehabis keramas, mereka dapat mengeringkan rambutnya dalam waktu yang lebih singkat.
Meskipun
benda-benda itu bermacam bentuk, fungsi, dan berada di berbagai tempat, namun
mereka memiliki satu kelemahan yang sama, yakni tak dapat berfungsi jika
listrik mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar