Dalam dua tahun terakhir
ini, saya mengikuti dua acara reuni.Yang pertama reuni fakultas dan yang kedua reuni
universitas. Ada semacam kebahagiaan dan keceriaan karena bertemu dengan kawan-kawan
lama. Kawan sekelas, kawan sekelompok OSPEK, kawan sekelompok Penataran P4,
kawan sekost-an, kawan setongkrongan, kawan seorganisasi, hingga mantan pacar. Bermacam
pertanyaan menjadi perangkat untuk memadukan kembali ikatan persahabatan dan menyalakan
kehangatan “Tinggal/kerja di mana sekarang?”, “Anak sudah berapa?”, dsb. Bagi saya
pribadi, pertanyaan kedua ini menarik perhatian karena sekian tahun menikah,
saya baru dikarunia satu orang anak, sementara adik angkatan saya ada yang
tujuh.
Sebagai
pembelajar bahasa, acara reuni menyisakan pertanyaan-pertanyaan di seputar bahasa.
Mengapa acara itu disebut reuni dan darimana
asal kata berapa? Larutlah saya dalam penelitian kecil-kecilan dan
inilah hasilnya.
Dalam
bahasa Indonesia, kata berapa merupakan
kata Tanya bilangan yang bertujuan untuk menanyakan jumlah, baik orang, benda,
maupun waktu. Simple ya? Namun, jika kita
menelusuri aspek historis dari kata berapa,
percayalah, kita akan dihadapkan pada bentangan sejarah bahasa yang amat panjang
dan berliku.
Konon
menurut Prof. Slamet Muljana, ahli sejarah bahasa dari UI, bahasa-bahasa
Nusantara memiliki kekerabatan dengan bahasa-bahasa yang terdapat di wilayah Yunan,
Myanmar, Kamboja, dan Vietnam, seperti bahasa Mundari, Khasi, Palaung, Campa,
Mon Khmer, dan banyak lagi. Jika merunut sejarah migrasi bangsa-bangsa
Nusantara, ada kemungkinan nenek moyang kita berasal dari daerah situ juga. Artinya,
bahasa Batak, Melayu, Minang, Sunda, Jawa, Bugis, dll. berasal dari bahasa-bahasa
yang saya sebut di atas.
Kata
Tanya apa dalam bahasa Melayu diperkirakan
berasal dari bahasa Mon Khmer, avei. Dalam
bahasa Batak Karo, kita akan mendapati bahwa kata ini memiliki bentuk yang lebih mirip dengan asalnya: apai. Lalu, bagaimanakah kata berapa terbentuk? Dari manakah morfem ber-ini berasal. Ternyata, kata berapa merupakan kombinasi dari dua bahasa:
Palaung dan khmer. Dalam bahasa Palaung, kata Tanya jumlah adalah bar mo, sedangkan dalam bahasa Mon Khmer
avei. Oleh orang Melayu, morfem bar (Palaung) dan avei (Mon Khmer) dikombinasikan jadi bar avei, yang oleh lidah Melayu diartikulasikan berapa.
Bayangkan,
berapa jumlah kata yang dimiliki oleh bahasa Melayu, lalu satu per satu kita telusuri
muasalnya.
Dan dalam proses penyebaran bahasa, sudah barang
tentu ada banyak perubahan, baik bentuk maupun makna. Kata bujur dalam bahasa Melayu Banjar berarti ‘benar’, dalam bahasa Batak
berarti ‘panjang’, dalam bahasa Sunda berarti ‘pantat’. Jadi, bujur punya tiga makna: ‘pantat’, ‘panjang’,
‘benar’. Kita tidak bisa men-judge mana
yang paling betul. Makna amat bergantung pada konteks. Dalam bahasa Arab, jilbab adalah ‘baju panjang’, tapi dalam
bahasa Indonesia, sah-sah saja jika ia di maknai ‘kerudung’. Dalam bahasa Yunani,
hipokrit berarti ‘pemain sandiwara’,
tapi dalam bahasa Inggris dan banyak bahasa yang lain yang menyerapnya, sah-sah saja
ia dimaknai ‘munafik’.
Pun
kata reuni. Reuni adalah bentuk yang aneh. Dalam bahasa Inggris, Re- dan uni- sama-sama morfem terikat. Jadi, kemungkinan bahasa Indonesia
menyerapnya dari kata reunion. Dibentuk dari morfem re-dan union. Union artinya ‘menyatu’
atau ‘bersatu’. Reunion artinya ‘menyatu
kembali’ atau ‘bersatu kembali’. Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknainya dengan
‘pertemuan kembali’ (bekas teman sekolah, teman seperjuangan, dsb.). Di luar itu,
kita bisa memaknainya berdasarkan pendapat-pendapat pribadi. Ini sah karena bahasa
bersifat ideografis, bukan nomothetis seperti fisika atau matematika. Di
wilayah ideografis inilah kita akan mendapati suatu kata yang dalam kamus maknanya
sederhana, menjadi rumit. Di sinilah kita akan ketemu dengan pertanyaan-pertanyaan
tentang reuni, “Memangnya menyatu/bersatu apa/siapa?”, “Kenapa harus menyatu/bersatu
kembali?”, “Memangnya kita dulu pernah menyatu/bersatu?”
Di sisi lain, semakin ideografis suatu kata dimaknai, semakin relatiflah nilai kebenarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar