Selasa, 19 Desember 2017

Berapa dan Reuni



Dalam dua tahun terakhir ini, saya mengikuti dua acara reuni.Yang pertama reuni fakultas dan yang kedua reuni universitas. Ada semacam kebahagiaan dan keceriaan karena bertemu dengan kawan-kawan lama. Kawan sekelas, kawan sekelompok OSPEK, kawan sekelompok Penataran P4, kawan sekost-an, kawan setongkrongan, kawan seorganisasi, hingga mantan pacar. Bermacam pertanyaan menjadi perangkat untuk memadukan kembali ikatan persahabatan dan menyalakan kehangatan “Tinggal/kerja di mana sekarang?”, “Anak sudah berapa?”, dsb. Bagi saya pribadi, pertanyaan kedua ini menarik perhatian karena sekian tahun menikah, saya baru dikarunia satu orang anak, sementara adik angkatan saya ada yang tujuh.
Sebagai pembelajar bahasa, acara reuni menyisakan pertanyaan-pertanyaan di seputar bahasa. Mengapa acara itu disebut reuni dan darimana asal kata berapa?  Larutlah saya dalam penelitian kecil-kecilan dan inilah hasilnya.
Dalam bahasa Indonesia, kata berapa merupakan kata Tanya bilangan yang bertujuan untuk menanyakan jumlah, baik orang, benda, maupun waktu. Simple ya? Namun, jika kita menelusuri aspek historis dari kata berapa, percayalah, kita akan dihadapkan pada bentangan sejarah bahasa yang amat panjang dan berliku.
Konon menurut Prof. Slamet Muljana, ahli sejarah bahasa dari UI, bahasa-bahasa Nusantara memiliki kekerabatan dengan bahasa-bahasa yang terdapat di wilayah Yunan, Myanmar, Kamboja, dan Vietnam, seperti bahasa Mundari, Khasi, Palaung, Campa, Mon Khmer, dan banyak lagi. Jika merunut sejarah migrasi bangsa-bangsa Nusantara, ada kemungkinan nenek moyang kita berasal dari daerah situ juga. Artinya, bahasa Batak, Melayu, Minang, Sunda, Jawa, Bugis, dll. berasal dari bahasa-bahasa yang saya sebut di atas.
Kata Tanya apa dalam bahasa Melayu diperkirakan berasal dari bahasa Mon Khmer, avei. Dalam bahasa Batak Karo, kita akan mendapati bahwa kata ini memiliki bentuk yang  lebih mirip dengan asalnya: apai. Lalu, bagaimanakah kata berapa terbentuk? Dari manakah morfem ber-ini berasal. Ternyata, kata berapa merupakan kombinasi dari dua bahasa: Palaung dan khmer. Dalam bahasa Palaung, kata Tanya jumlah adalah bar mo, sedangkan dalam bahasa Mon Khmer avei. Oleh orang Melayu, morfem bar (Palaung) dan avei (Mon Khmer) dikombinasikan jadi bar avei, yang oleh lidah Melayu diartikulasikan berapa.
Bayangkan, berapa jumlah kata yang dimiliki oleh bahasa Melayu, lalu satu per satu kita telusuri muasalnya.
 Dan dalam proses penyebaran bahasa, sudah barang tentu ada banyak perubahan, baik bentuk maupun makna. Kata bujur dalam bahasa Melayu Banjar berarti ‘benar’, dalam bahasa Batak berarti ‘panjang’, dalam bahasa Sunda berarti ‘pantat’. Jadi, bujur punya tiga makna: ‘pantat’, ‘panjang’, ‘benar’. Kita tidak bisa men-judge mana yang paling betul. Makna amat bergantung pada konteks. Dalam bahasa Arab, jilbab adalah ‘baju panjang’, tapi dalam bahasa Indonesia, sah-sah saja jika ia di maknai ‘kerudung’. Dalam bahasa Yunani, hipokrit berarti ‘pemain sandiwara’, tapi dalam bahasa Inggris dan banyak bahasa yang lain yang menyerapnya, sah-sah saja ia dimaknai ‘munafik’.

Pun kata reuni. Reuni adalah bentuk yang aneh. Dalam bahasa Inggris, Re- dan uni- sama-sama morfem terikat. Jadi, kemungkinan bahasa Indonesia menyerapnya dari kata  reunion. Dibentuk dari morfem re-dan union. Union artinya ‘menyatu’ atau ‘bersatu’. Reunion artinya ‘menyatu kembali’ atau ‘bersatu kembali’. Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknainya dengan ‘pertemuan kembali’ (bekas teman sekolah, teman seperjuangan, dsb.). Di luar itu, kita bisa memaknainya berdasarkan pendapat-pendapat pribadi. Ini sah karena bahasa bersifat ideografis, bukan nomothetis seperti fisika atau matematika. Di wilayah ideografis inilah kita akan mendapati suatu kata yang dalam kamus maknanya sederhana, menjadi rumit. Di sinilah kita akan ketemu dengan pertanyaan-pertanyaan tentang reuni, “Memangnya menyatu/bersatu apa/siapa?”, “Kenapa harus menyatu/bersatu kembali?”, “Memangnya  kita dulu pernah menyatu/bersatu?” Di sisi lain, semakin ideografis suatu kata dimaknai, semakin relatiflah nilai kebenarannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar