Sangat sulit membedakan Alexander
Solschenizyn dengan Ivan Denisovich. Jika dilihat secara sosiologis, novel Sehari dalam Hidup Ivan Denisovich
terbit setelah Solschenizyn keluar dari penjara, ia seakan bercerita tentang
pengalamannya sendiri. Hal itu tampak dari gaya realismenya. Solschenizyn begitu detail
menggambarkan kehidupan penjara: bunyi rel kereta dipukul, jenis makanan,
situasi ruang makan, pakaian para napi, pekerjaan, dan para sipir.
Novel tersebut
menggambarkan kehidupan penghuni penjara mulai dari bangun tidur hingga tidur
kembali sehingga dengan membacanya kita seperti menyaksikan film berdurasi dua
belas jam lebih dengan perasaan jenuh. Tidak ada suspense dan surprise.
Tidak ada kaum jenius-psikopat yang pantang menyerah membuat perencanaan kabur
dari penjara yang bagitu canggih. Tidak ada peristiwa perkelahian yang
diakibatkan saling ledek atau rebutan tempat duduk. Penjara tempat tokoh Ivan
Denisovich (Shukhov) itu tampak sangat biasa. Sipir-sipir penjara memang kasar,
tetapi tidak sadis seperti kappo-kappo
di kamp-kamp Aria di Auswich atau Bunchenwald. Tidak ada hal yang menarik
perhatian, kecuali penggambaran tabiat “haram jadah-haram jadah” dari Eropa
Timur dan hujan salju. Namun, “kejenuhan” itu membawa saya pada simpulan bahwa
Solschenizyn adalah seorang realis sejati. Cerita diciptakan apa adanya. Ia
tidak membuat dramatisasi-dramatisasi hubungan manusia sebagai sarat bangunan
fiksional seperti yang disarankan Abrams.
Namun, di
sela-sela alur yang renggang dan membosankan itu, saya mendapati kata-kata
sublim yang tercecer, seperti kalau kita
kedinginan, janganlah mengharap simpati dari orang yang merasa hangat (21).
Inilah hubungan yang paling realistik antarmanusia ketika kebebasannya sedang
digadaikan; tidak ada rasa tepa-selira
terhadap orang lain yang tengah menderita; semua orang hanya peduli pada
dirinya sendiri. Naluri manusia sebagai homo
sozius dan zoon politicon dikebiri.
Semua beraktivitas berdasarkan sistem yang memaksa; bukan berdasarkan rasa
saling membutuhkan atau suka sama suka. Manusia pun menjadi entitas hidup yang
tanpa jiwa. Dalam perjuangan mempertahankan jiwa itulah Shukhov berada.
Perjuangan ini bukanlah perjuangan remeh-temeh, melainkan perjuangan semua umat
manusia di mana pun dan kapan pun karena sistem-sistem tersebut telah mengepung
dan membelenggu kita. Dengan demikian, meluangkan waktu sehari bersama Shukhov
atau Solschenizyn bukanlah pekerjaan yang sia-sia. Sehari dalam hidup Shukhov
adalah sehari dari delapan tahun yang sama. Sehari bersama Shukhov adalah
menyelami interior diri Shukhov yang sarat dengan ketabahan dan kepasrahan. Kita
menyaksikan bagaimana ia bangun tidur, mengantre makanan untuk sarapan pagi,
bekerja di tengah timbunan salju dan udara yag teramat dingin, istirahat,
mengantre makan siang, bekerja kembali, hingga kembali ke barak untuk tidur
kembali. Betapa sulit menjalani hidup dalam kondisi demikian. Tidak ada
keinginan dan cita-cita yang dapat dimiliki, selain angan-angan kebebasan yang
entah kapan akan terwujud. Di dalam penjara itu, menyelundupkan satu ons roti
dan sebilah pisau adalah kejahatan yang akan diganjar dengan kurungan sel yang
lebih sempit: penjara dalam penjara. Sehari bersama Shukhov adalah mengenali
seseorang yang mendapati kepuasan hidupnya dengan cara menerima apa yang ia
terima, bahkan senantiasa bersyukur atasnya:
Itu saja, dan
dengan demikian berakhir pulalah satu hari lagi. “Terima kasih, Tuhan,”
katanya. (137)
Pada tahun 1956,
Solschenizyn dibebaskan dari penjara. Ia konsisten dengan apa yang ia yakini.
Ia pun terus menulis karya-karya realisme, bahkan simbolisme; sesuatu yang
bertentangan dengan realisme sosialis. Ia menolak untuk menjadi komunis.
Akibatnya, pada tahun 1974, ia diusir oleh pemerintah Rusia ke laur dari negara
yang dicintainya. Hal itu sekaligus membenarkan ucapan salah seorang tokoh di
penjara tempat Shukhov dipenjara:
“Kalian bukan
orang Sovyet,” si Kapten terus saja berbicara. “kalian bukan komunis!” (30).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar