Selasa, 19 Desember 2017

Sehari Bersama Alexander Solschenizyn



Sangat sulit membedakan Alexander Solschenizyn dengan Ivan Denisovich. Jika dilihat secara sosiologis, novel Sehari dalam Hidup Ivan Denisovich terbit setelah Solschenizyn keluar dari penjara, ia seakan bercerita tentang pengalamannya sendiri. Hal itu tampak dari gaya realismenya. Solschenizyn begitu detail menggambarkan kehidupan penjara: bunyi rel kereta dipukul, jenis makanan, situasi ruang makan, pakaian para napi, pekerjaan, dan para sipir.
Novel tersebut menggambarkan kehidupan penghuni penjara mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali sehingga dengan membacanya kita seperti menyaksikan film berdurasi dua belas jam lebih dengan perasaan jenuh. Tidak ada suspense dan surprise. Tidak ada kaum jenius-psikopat yang pantang menyerah membuat perencanaan kabur dari penjara yang bagitu canggih. Tidak ada peristiwa perkelahian yang diakibatkan saling ledek atau rebutan tempat duduk. Penjara tempat tokoh Ivan Denisovich (Shukhov) itu tampak sangat biasa. Sipir-sipir penjara memang kasar, tetapi tidak sadis seperti kappo-kappo di kamp-kamp Aria di Auswich atau Bunchenwald. Tidak ada hal yang menarik perhatian, kecuali penggambaran tabiat “haram jadah-haram jadah” dari Eropa Timur dan hujan salju. Namun, “kejenuhan” itu membawa saya pada simpulan bahwa Solschenizyn adalah seorang realis sejati. Cerita diciptakan apa adanya. Ia tidak membuat dramatisasi-dramatisasi hubungan manusia sebagai sarat bangunan fiksional seperti yang disarankan Abrams.
Namun, di sela-sela alur yang renggang dan membosankan itu, saya mendapati kata-kata sublim yang tercecer, seperti kalau kita kedinginan, janganlah mengharap simpati dari orang yang merasa hangat (21). Inilah hubungan yang paling realistik antarmanusia ketika kebebasannya sedang digadaikan; tidak ada rasa tepa-selira terhadap orang lain yang tengah menderita; semua orang hanya peduli pada dirinya sendiri. Naluri manusia sebagai homo sozius dan zoon politicon dikebiri. Semua beraktivitas berdasarkan sistem yang memaksa; bukan berdasarkan rasa saling membutuhkan atau suka sama suka. Manusia pun menjadi entitas hidup yang tanpa jiwa. Dalam perjuangan mempertahankan jiwa itulah Shukhov berada. Perjuangan ini bukanlah perjuangan remeh-temeh, melainkan perjuangan semua umat manusia di mana pun dan kapan pun karena sistem-sistem tersebut telah mengepung dan membelenggu kita. Dengan demikian, meluangkan waktu sehari bersama Shukhov atau Solschenizyn bukanlah pekerjaan yang sia-sia. Sehari dalam hidup Shukhov adalah sehari dari delapan tahun yang sama. Sehari bersama Shukhov adalah menyelami interior diri Shukhov yang sarat dengan ketabahan dan kepasrahan. Kita menyaksikan bagaimana ia bangun tidur, mengantre makanan untuk sarapan pagi, bekerja di tengah timbunan salju dan udara yag teramat dingin, istirahat, mengantre makan siang, bekerja kembali, hingga kembali ke barak untuk tidur kembali. Betapa sulit menjalani hidup dalam kondisi demikian. Tidak ada keinginan dan cita-cita yang dapat dimiliki, selain angan-angan kebebasan yang entah kapan akan terwujud. Di dalam penjara itu, menyelundupkan satu ons roti dan sebilah pisau adalah kejahatan yang akan diganjar dengan kurungan sel yang lebih sempit: penjara dalam penjara. Sehari bersama Shukhov adalah mengenali seseorang yang mendapati kepuasan hidupnya dengan cara menerima apa yang ia terima, bahkan senantiasa bersyukur atasnya:

Itu saja, dan dengan demikian berakhir pulalah satu hari lagi. “Terima kasih, Tuhan,” katanya. (137)

Pada tahun 1956, Solschenizyn dibebaskan dari penjara. Ia konsisten dengan apa yang ia yakini. Ia pun terus menulis karya-karya realisme, bahkan simbolisme; sesuatu yang bertentangan dengan realisme sosialis. Ia menolak untuk menjadi komunis. Akibatnya, pada tahun 1974, ia diusir oleh pemerintah Rusia ke laur dari negara yang dicintainya. Hal itu sekaligus membenarkan ucapan salah seorang tokoh di penjara tempat Shukhov dipenjara:

“Kalian bukan orang Sovyet,” si Kapten terus saja berbicara. “kalian bukan komunis!” (30).    
           

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar