Selasa, 19 Desember 2017

CAUSE RAMADHAN HAS ALREADY DIED




Hakikat puisi adalah lagu atau musikalitas. Inilah yang membedakannya dengan genre sastra yang lain. Inilah pula yang membuat puisi karya Aurasinai (Teny Indah Susanti) yang berjudul “Break the Sky” menjadi juara. Itulah satu-satunya puisi yang, hemat saya, sangat apik dalam menata muskalitas. Simak saja.

Break the sky
There’s too much cry
Then let it rain
Thus we could find
Where the pain remain

Pada bait pertama tersebut, semua baris berakhir pada bunyi [ai] atau yang semirip dengan itu, yaitu bunyi [ei] pada kata remain. Dalam istilah teknis, bait tersebut berima sama (a-a-a-a) atau mengikuti pola syair. Bandingkan misalnya dengan puisi “Rindu Menghadapmu” karya N Sun berikut.

Tak ada kekal nan abadi
Ketika segala yang bernyawa hidup
Ataupun mati

Hanya padamu abadi tak berani mati
Meski segala binasa
Sekalipun Izra’il tiada

Puisi tersebut berpola terzina, yakni puisi tiga seuntai dengan rima a-b-a, b-c-b, c-d-c, dan seterusnya. Namun, pada puisi tersebut, rimanya berpola a-b-a, a-b-b.
Juga bandingkan dengan puisi lorong-lorong karya Emka Asi.

Dalam ini aku berjalan
Di lorong-lorong waktu yang sunyi itu
Biarlah aku berlari untuk satu impian pasti
Impian pasti, impian hakiki

Ah, alangkah tidak musikalnya puisi itu. Memang, pada bait ketiga dan keempat, rimanya tampak teratur, tetapi hal itu tidak dapat menjadi nilai lebih sebab puisi adalah totalitas. Cacat yang satu dapat merusak keutuhan (wholeness).

Dari segi musikalitas, puisi Aurasinai tiada banding di antara puisi-puisi para peserta lainnya. Uniknya lagi, dia menulis dalam bahasa Inggris, sementara yang lain dalam bahasa Indonesia. Padahal, mereka yang menulis dalam bahasa Indonesia memiliki peluang lebih untuk mengeksplorasi bunyi karena bahasa Indonesia secara musikal lebih kaya daripada bahasa Inggris. Sebagai contoh, kata membawa memiliki banyak varian, seperti menjinjing, mengepit, memikul, menggendong, menjunjung, membimbit, mengetek, mengambin, dan menggalas. Sementara, bahasa Inggris hanya bring saja.   

Yang kedua, puisi karya Aurasinai kaya akan diksi dan imaji. Perhatikan bait kedua dari puisi tersebut.

Break the sky
Let’s sing the lullaby
Then pull the doorlock
Thus we can block
The nightmare where the mother cooking rocks

“Break the Sky” mengajak/memerintah seseorang untuk memecahkan langit, sesuatu yang hiperbolis. Dilanjutkan dengan ajakan bernyanyi ninabobo (let’s sing the lullaby), sesuatu yang lembut. Kemudian, kontradiksi itu berakhir pada klimaks ajakan mengunci pintu agar tidak didatangi mimpi buruk tentang seorang ibu yang memasak batu. Wacana “ibu yang memasak batu” merupakan majas kilasan (alusi) yang mengacu pada peristiwa sejarah tertentu. Semua orang yang mengetahui sejarah Islam, khususnya khulafa ar rasyidin, akan langsung mengetahui peristiwa moralis ini. Sungguh, sebuah imaji yang matang tentang kemiskinan! Bandingkan dengan puisi “Pulang” berikut.

Seperti sayap kupu matanya mengerjap
Tiap detik
Mengusir mimpi-mimpi
Seperti cinta ibu, dipeluk erat kakinya
Menjaga matahari
dari kelam jiwa

Meskipun menawarkan imaji yang lembut tentang kematian, Umi menggunakan majas perbandingan (simile) yang klise dalam puisinya itu.

Sebenarnya, ada imaji yang tak kalah mengasyikannya ketimbang Break the Sky, yaitu puisi Sri Al Hidayati yang berjudul “Menanti”.

Aku terpaku menantiMu
Selalu.

Senyum bungakah hatimu
                Menjemput ramadhan

Kutunggu,
Kuharap,
Kurindu,
Ramadhan.

Namun sayang, bait kedua mengganggu keasyikan itu. Pasalnya, bait tersebut memuat wacana formal yang justru dihindari oleh puisi. Alangkah lebih bernasnya jika puisi itu “diedit” menjadi seperti ini.
 
Aku terpaku menantiMu
Selalu.

Kutunggu,
Kuharap,
Kurindu

Meski lebih sederhana, puisi tersebut menyajikan sembuah imaji purba akan kerinduan manusia terhadap Sang Khalik dalam kapasitasnya sebagai manusia, secara manusiawi, seperti halnya tengah menunggu seseorang yang dicintai. Hal ini mengingatkan saya pada puisi Amir Hamzah yang berjudul “Padamu Jua”. Berikut petikannya.

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu

Ketiga adalah kejujuran. Puisi adalah kristal kata-kata yang dihasilkan dari dialog kita dengan diri kita sendiri. Kita berdialog sejujur-jujurnya. Kita berbicara tentang diri kita terbuka, apa adanya. Puisi mengungkapkan apa yang kita rasakan dan pikirkan sebenarnya. Dari segi ini, puisi Aurasinai adalah yang paling jujur. Saat puisi lain menyambut Ramadhan secara optimistik, Sinai justru mengatakan sebaliknya.

Break the sky
Cause Ramadhan already die.

Ia mengatakan dengan tegas bahwa Ramadhan telah mati. Mati? Sungguh, sebuah metafora yang ekstrem terhadap sesuatu yang justru pantas disucikan dan disambut gembira. Inilah kenyataan sebenarnya dari apa yang disebut dengan keberimanan. Keberimanan adalah sebuah proses yang tidak langsung jadi. Tidak karbitan. Dan tidak dalam paket hemat. Banyak orang takut menghadapi kenyataan seperti ini karena khawatir dianggap tidak taat, durhaka, dan sebagainya. Namun, Sinai berani menghadapinya.

Selain Sinai, memang ada puisi Umi yang juga jujur terhadap hal keberimanan ini. Hal itu tampak dalam puisinya yang berjudul “Tarawih”. Ia bahkan memaki-maki dirinya seakan menyesali kehadiran Ramadhan.

Benar-benar bodoh
Kenapa tak bisa aku seperti si Saprol
Yang kenyang keluar warung lalu pasang wajah lapar
Atau si damin yang merem melek menghisap lintingan
Saat bedug belum dibunyikan
Semprul


Namun sayang, secara teknis, kualitasnya masih berada di bawah “Break The Sky”, terutama dari segi penataan wacana yang kurang apik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar